Pencernaan merupakan bagian dari tubuh yang berfungsi mencerna seluruh zat yang diperlukan tubuh (vitamin, mineral, karbohidrat, lemak, protein dan air) dan membuang zat yang sudah tidakdiperlukan oleh tubuh. Makanan, minuman, dan suplemen akan mengalami proses pencernaan yang sistematis diawali dari mulut (secara mekanik) kemudian lambung (secara kimiawai), selanjutnya mengalami penyerapan didalam usus, kemudian sisa sisa pengolahan dipencernaan akan dibuang melalui anus. Kesehatan pencernaan tergantung kepada keamanan asupan makanan, minuman dan suplemen serta pola hiudp sehat yang rutin dan teratur.
Era saat ini, fast food, frozen food dan variasi penggunaan bahan tambahan makanan pada berbagai jenis makanan, menjadi pemicu terjadinya gangguan penceraan hingga timbulnya kanker kolon. Kasus kanker kolon bersama kanker rektum masih merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga pada kasus kanker di seluruh dunia. Kanker kolorektal di Indonesia merupakan jenis kanker ke-3 terbanyak dengan angka kejadian 1,8 kasus per 100.000 penduduk. Karakteristik penderita kanker kolorektal di Indonesia agak berbeda dengan di negara maju. Di Indonesia, 51% dari seluruh
penderita berusia di bawah 50 tahun dan pasien di bawah 40 tahun berjumlah 28.17%.
Meningkatnya angka kanker kolorektal di Indonesia diperkirakan berhubungan dengan gaya hidup masyarakat yang mengalami westernisasi, terutama di kota besar.
Beberapa kondisi yang dapat memberikan faktor risiko penderita kanker kolon antara lain memiliki
riwayat keluarga penderita kanker kolon, aktif mengkonsumsi alkohol per hari, merokok, obesitas dan usia lansia. Gejala kanker kolon tidak dapat langsung teridentifkasi seperti pada kondisi kanker
lainnya. Gangguan sistem pencernaan tidak selalu mengindikasikan adanya kanker dalam kolon. Ada beberapa tanda yang menjadi ciri munculnya kanker kolon antara lain perubahan pencernaan, adanya darah dalam feses, diarhea, penurunan berat badan, mudah lelah dan muntah-muntah. Oleh karena itu, diagnosis kanker kolon harus dilakukan menggunakan berbagai metode yaitu pengecekan kesehatan fisik dan riwayat kesehatan, pemantauan kolon secara digital, pengujian kandungan darah dalam feses, sigmoidoscopy, colonoscopy, biopsi dan tes DNA.
Pengobatan kanker kolon secara umum terdiri berbagai macam metode yaitu operasi, kemoterapi, radioterapi dan imunoterapi. Metode tersebut biasanya dilakukan dengan kombinasi seperti operasi kemudian dilakukan kemoterapi untuk menghilangkan sisa sisa atau kemungkinan sel kanker yang masih tertinggal. Contoh yang lain jika setelah dilakukan deteksi benjolan pada kolon menggunakan digital kemudian diterapi menggunakan kemoterapi agar tidak menjadi ganas. Seluruh metode tersebut merupakan langkah kuratif dimana masih terdapat beberapa keterbatasan antara lain
penekanan hemopoietik, kemanjuran terbatas, imunotoksisitas dan resistensi obat. Mengingat keterbatasan tersebut, saat ini pendekatan pengobatan kanker mulai menggunakan pendekatan nanomedicine dimana pada metode ini obat yang memiliki potensi anti kanker diubah ukurannya
menjadi ukuran nano yang bisa masuk kedalam sel kanker tanpa harus melalui metabolisme terlebih dahulu.
Teknologi nanopartikel menjadi trend baru dalam pengobatan kanker karena setiap nanopartikel memiliki keunikan fungsi. Sebelumnya, nanopartikel emas (AuNPs) telah dilakukan uji komprehensif dan digunakan untuk pengobatan kanker payudara. Modifikasi AuNps pun berkembang pesat hingga
memunculkan logam lain yang diduga memiliki potensi yang sama yaitu silver. Nanosilver saat ini telah dikembangkan sebagai antibakteri. Kemampuannya dalam membunuh bakteri dengan cara merusak membran sel sangat baik dan efektif. Pada akhirnya, Potensi nanosilver sebagai antikanker telah
dilakukan explorasi lebih dalam dengan memanfaatkan tanaman herbal dalam pembuatannya.
Modifikasi metode pembuatan nanosilver menggunakan ekstrak polisakarida tanaman Okra (Abelmoschus Esculentus L.) telah berhasil membuat nanosilver dengan keunikan yang baru dengan nama AgNP-ORPE. Nanosilver ini telah di uji kemampuannya terhadap membunuh sel kanker kolon
secara in vitro (HCT 116) dengan menginduksi sel kanker ke program kematian sel (Apoptosis) dimana sel kanker semakin mengecil dan mati. Hasil positif ini menjadi temuan baru untuk dapat dilanjutkan pada tahap pengembangan selanjutnya agar AgNP-ORPE ini dapat lebih luas digunakan melalui NDDS (Nano drugs delivery system).
Penulis: Prof. Win Darmanto, Drs., M.Si., Ph.D.
Baca juga: Nanodiamonds: Material Masa Depan untuk Sensor Biomedis dan Penghantaran Obat





