Universitas Airlangga Official Website

Narasi Perempuan dalam Bingkai Perfilman Indonesia

Film merupakan salah satu sebagai wadah berekspresi kreatif dengan memadukan berbagai unsur seni. Selain mengekspresikan diri melalui lukisan, musik atau pun puisi, film menjadi salah satu alat komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan tersirat maupun tersurat kepada penonton, baik itu tentang kehidupan pribadi, isu sosial, politik, atau filosofis. Menurut Teguh Imanto (2007) film selain sebagai alat untuk mencurahkan ekspresi bagi penciptanya, juga sebagai alat komunikator yang efektif. Hal ini menjadikan film tak hanya sebagai hiburan belaka namun juga untuk menyuarakan aspirasi dan pemikiran. Isu yang diangkat juga biasanya merupakan isu yang sedang ramai diperbincangkan khalayak ramai dengan harapan dapat memberi dan memengaruhi perspektif penonton.

Isu yang tidak ada habisnya jika dibahas adalah salah satunya tentang Women Empowerment. Women empowerment atau sering disebut permberdayaan perempuan adalah sebuah upaya yang bertujuan untuk menghapuskan hambatan-hambatan bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dan setara di masyarakat. Di zaman yang sudah modern sekarang ini, perempuan juga memiliki hak untuk berperan sebagai penggerak perubahan, melawan ketidakadilan, dan mencapai potensi penuh mereka bukan hanya menjadi seorang pendukung tanpa aksi. Keshab Chandra Mandal dalam International Forum of Teaching and Studies Concept and Types of Women Empowerment mengatakan pemberdayaan sosial perempuan merujuk pada kekuatan yang memungkinkan perempuan memperkuat hubungan sosial mereka dan posisi mereka dalam struktur sosial. Pemberdayaan sosial mengatasi diskriminasi sosial yang ada di masyarakat berdasarkan disabilitas, ras, etnis, agama, atau gender.

Melalui film, pesan dari isu women empowerment dapat disebarkan kepada masyarakat luas dengan memperkenalkan karakter, cerita, dan konflik yang mencerminkan perjuangan serta pencapaian perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Contohnya, dalam film Hidden Figures yang menceritakan tentang tiga perempuan berkulit hitam yang bekerja di NASA mengalami diskriminasi ras dan gender, tetapi pada akhirnya kontribusi mereka untuk menyukseskan misi NASA diapresiasi oleh para rekan peneliti NASA. Dari cerita ini dapat disimpulkan tentang pentingnya kesetaraan di tempat kerja dan kemampuan perempuan dalam bidang sains dan teknologi.

Perempuan juga memiliki andil dalam melawan ketidakadilan seperti dalam film The Hunger Games di mana karakter utamanya, Katniss Everdeen, merupakan seorang yang pemberani dan mandiri serta tak segan untuk menentang ketidakadilan sistem dan membuktikan bahwa perempuan memiliki kapabilitas untuk menggerakkan dan memimpin menuju perubahan yang lebih baik. Penonton dapat melihat bahwa kepemimpinan dan kekuatan adalah kualitas yang tidak eksklusif hanya untuk laki-laki. Perempuan juga memiliki peran yang setara dengan laki-laki untuk melawan ketidakadilan, memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin.

Dalam upaya pemberdayaan perempuan dibutuhkan kerja sama dan dukungan dari sesama perempuan dalam menghadapi masalah-masalah sosial. Solidaritas perempuan banyak digambarkan dengan persahabatan contohnya dalam film Little Women yang memperlihatkan kehidupan empat saudari dengan impian berbeda, namun tetap saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi tantangan hidup. Contoh lain, dari film The Help di mana upaya seorang perempuan berkulit putih bernama Skeeter bekerja sama dengan seorang perempuan berkulit hitam bernama Aibileen untuk menyuarakan ketidakadilan dan realitas kehidupan pembantu rumah tangga yang bekerja untuk orang berkulit putih. Dengan solidaritas untuk menghadapi ketidakadilan dapat menciptakan perubahan yang lebih besar.

Film memiliki peran yang kuat untuk mendukung upaya pemberdayaan perempuan. Film bukan hanya sekedar wadah hiburan dan seni, namun juga sebuah media untuk mengajak masyarakat untuk berani bersuara dan menantang norma sosial serta medukung kesetaraan gender. Sinema mampu mewujudkan berbagai pengalaman perempuan melalui gambar bergerak, baik tokoh sejarah, tokoh fiktif maupun tokoh biasa. Bahwa perempuan dapat berjuang melawan kesulitan dan menegaskan pentingnya suara mereka. Membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi bagian dari perubahan dan bukan hanya sekedar juru masak di dapur. Perempuan dapat memiliki mimpi dan berhak mewujudkan mimpi tersebut.

Penulis: Olivia Citra Agustin