Monosodium glutamat atau MSG merupakan zat aditif yang banyak digunakan di berbagai negara sebagai penyedap makanan yang akan disajikan. Monosodium glutamat terdiri dari 12% natrium, 78% asam glutamat, dan 10% air. Rata-rata konsumsi MSG di Eropa adalah 0,3-0,5 g/hari, dan di Asia 1,2-1,7g/hari. Secara umum asupan MSG 16,0 mg/kg berat badan masih tergolong aman. Berdasarkan laporan Information Handling Services (2018), Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara pengekspor dan konsumen MSG. Meningkatnya taraf hidup, perubahan pola makan, berkembangnya industri pengolahan makanan, dan meningkatnya urbanisasi menjadi faktor yang menyebabkan pertumbuhan konsumsi MSG di Indonesia. Permasalahan yang terjadi adalah konsumsi MSG yang berlebihan seringkali tidak disadari oleh konsumen akibat ketidaktahuan konsumen akan jumlah MSG yang ditambahkan pada fast food.
Konsumsi MSG yang berlebihan dapat berefek pada peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS) di otak. Akumulasi glutamat akan mengakibatkan overaktivitas dan disregulasi aktivasi reseptor glutamat, terutama reseptor NMDA yang paling permeabel terhadap ion kalsium. Ketidakseimbangan antioksidan endogen untuk menetralkan ROS yang terbentuk dikenal dengan eksitotoksisitas yang diinduksi glutamat, yang akan mengakibatkan peroksidasi lipid dan degenerasi neuron. Untuk mencegahnya, perlu diberikan antioksidan eksogen untuk membantu mengurangi efek toksik ROS.
Madu mengandung antioksidan enzimatik yaitu katalase, glukosa oksidase, dan peroksidase, serta antioksidan non enzimatik yaitu asam askorbat, flavonoid, asam amino, dan protein. Madu hutan Apis dorsata diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan madu Apis mellifera dan Apis cerana. Antioksidan akan bekerja dengan cara menjadi donor elektron sehingga akan mengubah ROS yang terbentuk menjadi lebih stabil. Selain itu, antioksidan juga berperan sebagai penangkal radikal bebas sehingga dapat meminimalisir terjadinya stres oksidatif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa madu hutan Apis dorsata dapat mempertahankan jumlah neuron piramidal cerebrum dan neuron purkinje cerebellum pada mencit (Mus musculus) yang terpapar monosodium glutamat (MSG). Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit yang dibagi menjadi 5 kelompok. Pada kelompok K- hanya diberikan aquadest. Kelompok K+ diberi MSG 4mg/gBB. Kelompok P1, P2, dan P3 diberi madu Apis dorsata dengan dosis 53,82mg/20gBB, 107,64mg/20gBB, dan 161,46mg/20gBB. Semua perlakuan dilakukan secara oral selama 52 hari. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah neuron piramidal serebral pada kelompok K-, K+, P1, P2, dan P3 adalah 12,24±0,607; 7,24±2,875; 12,48±1,513; 15,72±0,944; dan 19,28±2,827. Jumlah rata-rata neuron purkinje cerebellar adalah 4,8 ± 1,456; 2,08±0,807; 3,08±1,035; 3,56±0,434; dan 4,68±1,390. Rata-rata jumlah neuron piramid dan neuron purkinje pada kelompok yang diberi dosis preventif madu Apis dorsata dan dipapar MSG lebih tinggi dan terdapat perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok yang hanya dipapar MSG. Dapat disimpulkan bahwa pemberian madu Apis dorsata dapat mempertahankan jumlah neuron otak piramidal dan neuron otak purkinje pada mencit yang dipapar MSG.
Penulis: Epy Muhammad Luqman
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di
Nama jurnal: World Journal of Advanced Research and Reviews (WJARR)
Link jurnal:





