Anemia saat ini masih menjadi merupakan masalah kesehatan serius yang pada remaja di dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2019 menunjukkan wanita usia subur rentan terkena anemia, dan kelompok ini mencapai 29,6%. WHO menyatakan bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan dengan kejadian anemia tertinggi. Prevalensi kasus anemia yang tinggi ditemukan pada wanita usia subur di Indonesia (31,2%). Anemia sering terjadi akibat pola makan yang salah, seperti mengurangi asupan sumber protein hewani. Remaja putri kurang peduli terhadap status gizinya sehingga cenderung melakukan pola makan yang berisiko, misalnya mengonsumsi makanan ringan yang rendah gizi, banyak mengonsumsi makanan cepat saji, dan tidak sarapan. Anemia pada remaja putri juga berkaitan dengan siklus menstruasi yang teratur setiap bulannya. Gangguan menstruasi seperti menstruasi yang lebih panjang, menoragia, dan dismenorea merupakan beberapa masalah kesehatan pada remaja putri yang berdampak pada pengeluaran zat besi yang berlebihan.
Pola pemenuhan nutrisi dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti persepsi dan efikasi diri atau keyakinan diri individu. Manfaat dan hambatan yang dirasakan dapat mempengaruhi komitmen dalam berperilaku. Seorang remaja akan berkomitmen dan berperilaku sehat apabila orang-orang di sekitarnya memberikan contoh dan perilaku yang baik. Dengan adanya permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara manfaat, hambatan, dan komitmen gizi untuk mencegah anemia pada remaja putri.
Manfaat yang dirasakan terhadap suatu perilaku kesehatan akan dapat meningkatkan komitmen individu. Seseorang akan memilih untuk melakukan suatu tindakan apabila ada sesuatu yang dianggap bermanfaat bagi dirinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja putri memahami bahwa konsumsi sayuran hijau dan kacang-kacangan akan meningkatkan taraf status gizi dan kebugarannya. Pada sisi lain didapatkan bahwa remaja putri kurang memahami hubungan antara asupan tablet zat besi dengan prestasi belajar. Kondisi hemoglobin yang baik akan membuat remaja lebih baik dalam belajar. Seseorang dengan kadar hemoglobin yang baik akan memiliki daya konsentrasi yang baik sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Oleh karena itu, kecukupan kadar zat besi dari konsumsi makanan dan suplemen zat besi sangat penting bagi remaja.
Persepsi hambatan merupakan kesulitan dan biaya yang diperlukan untuk melakukan perilaku kesehatan tertentu. Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa remaja jarang mengonsumsi sumber zat besi hewani (daging, ikan, hati, dan unggas) karena harganya mahal. Hal ini menyebabkan remaja lebih menyukai makanan yang tinggi karbohidrat tetapi rendah protein. Banyak remaja putri yang belum memahami bahwa terdapat berbagai pilihan sumber pangan yang tinggi karbohidrat, protein, zat besi, dan vitamin C dengan harga yang terjangkau.
Edukasi tentang pentingnya gizi sangat tepat untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang pola makan sehari-hari agar terhindar dari anemia yang dipengaruhi oleh kurangnya kadar zat besi dan protein dalam tubuh. Remaja juga perlu mendapatkan edukasi tentang pemilihan makanan serta asupan gizi yang sehat untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh.
Penulis: Mira Triharini
Baca juga: Gambaran Status Gizi Siswa Remaja Putri dan Kaitannya Dengan Prevalensi Stunting





