Operasi sesar merupakan intervensi obstetri yang tidak tergantikan dalam kondisi tertentu, seperti gawat janin, preeklamsia berat, atau perdarahan antepartum. Namun, dalam dua dekade terakhir, peningkatan angka persalinan sesar secara global menimbulkan kekhawatiran baru terkait keselamatan maternal jangka panjang. Salah satu dampak klinis paling serius dari tren ini adalah meningkatnya kejadian placenta accreta spectrum (PAS), suatu kondisi obstetri dengan morbiditas dan mortalitas maternal yang signifikan.
Secara epidemiologis, angka persalinan sesar global telah melampaui 21%, jauh melebihi ambang optimal yang direkomendasikan WHO. Indonesia mencerminkan fenomena ini secara nyata, dengan angka sesar yang tinggi di wilayah urban dan fasilitas kesehatan swasta, sementara di daerah rural masih dijumpai keterbatasan akses terhadap tindakan sesar yang sebenarnya indikatif secara medis. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa masalah sesar bukan sekadar persoalan terlalu banyak atau terlalu sedikit, melainkan persoalan ketepatan indikasi dan kesiapan sistem.
Hubungan kausal antara sesar berulang dan PAS telah terkonfirmasi secara konsisten dalam berbagai studi. Jaringan parut uterus pascasesar menyebabkan gangguan desidualisasi dan memungkinkan invasi trofoblas yang abnormal ke dalam miometrium. Risiko PAS meningkat progresif seiring jumlah sesar sebelumnya, terutama bila disertai plasenta previa. Dalam praktik klinis, kondisi ini sering kali berujung pada perdarahan masif intrapartum, kebutuhan transfusi darah dalam jumlah besar, hingga tindakan histerektomi peripartum.
Di Indonesia, peningkatan PAS memiliki karakteristik tersendiri. Angka sesar di wilayah perkotaan dilaporkan mencapai lebih dari 30%, bahkan melebihi 40% di beberapa kota besar. Faktor pendorongnya bersifat multifaktorial, meliputi preferensi pasien, persepsi keamanan sesar, penjadwalan kelahiran berdasarkan pertimbangan nonmedis, serta insentif ekonomi dalam sistem pelayanan kesehatan swasta. Dalam konteks ini, keputusan klinis sering kali berada dalam tekanan struktural yang tidak sepenuhnya berlandaskan pertimbangan medis.
Masalah utama yang kemudian muncul adalah ketidakseimbangan antara meningkatnya risiko PAS dan kesiapan layanan untuk menanganinya. Manajemen PAS ideal memerlukan diagnosis antenatal yang akurat melalui ultrasonografi obstetri terlatih, dukungan tim multidisiplin, ketersediaan fasilitas bedah lanjut, serta sistem rujukan yang efektif. Sayangnya, sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia, terutama di daerah perifer, belum memiliki sumber daya tersebut. Akibatnya, banyak kasus PAS terdiagnosis intraoperatif, dengan konsekuensi klinis yang jauh lebih berat.
Dari perspektif klinis, upaya pencegahan primer menjadi sangat krusial. Reduksi sesar yang tidak memiliki indikasi medis jelas merupakan langkah strategis untuk menekan insidensi PAS di masa depan. Pendekatan ini mencakup edukasi antenatal yang komprehensif, penguatan peran bidan dan model perawatan berbasis persalinan normal, serta penerapan vaginal birth after cesarean (VBAC) pada pasien terpilih dengan penilaian risiko yang ketat.
Namun demikian, pencegahan saja tidak cukup. Sistem kesehatan juga harus beradaptasi dengan realitas meningkatnya kasus PAS. Penguatan kapasitas diagnostik, pelatihan berkelanjutan tenaga kesehatan, serta pengembangan jejaring rujukan maternal-fetal menjadi kebutuhan mendesak. Inovasi teknologi, termasuk pemanfaatan algoritma prediksi risiko berbasis data klinis dan ultrasonografi, berpotensi meningkatkan deteksi dini PAS, meskipun implementasinya masih menghadapi tantangan akses dan pembiayaan.
Bagi tenaga kesehatan, tren ini menuntut refleksi profesional yang mendalam. Setiap keputusan untuk melakukan operasi sesar tidak hanya berdampak pada kehamilan saat ini, tetapi juga membawa implikasi serius bagi kehamilan di masa depan. PAS adalah pengingat bahwa intervensi obstetri memiliki konsekuensi kumulatif yang harus dipertimbangkan secara matang.
Pada akhirnya, peningkatan angka sesar dan PAS merupakan indikator bahwa praktik obstetri modern memerlukan keseimbangan baru antara intervensi dan konservatisme klinis. Upaya menurunkan morbiditas maternal tidak dapat dicapai hanya dengan teknologi canggih, tetapi juga melalui kebijakan klinis yang bijak, edukasi berkelanjutan, dan komitmen profesional untuk menempatkan keselamatan ibu sebagai prioritas utama.
Korespondensi:
Dr. dr. Manggala Pasca Wardhana, Sp.OG, Subs.K.Fm
manggala.pasca@fk.unair.ac.id
Penulis:
Wiku Andonotopo, Muhammad Adrianes Bachnas, Manggala Pasca Wardhana, Cut Meurah Yeni, Dudy Aldiansyah, Johny Marpaung, Dovy Djanas, Donel Suhaimi, Nuswil Bernolian, Akhmad Yogi Pramatirta, Adhi Pribadi, Irwan Taufiqurrahman, Eric Edwin Yuliantara, Julian Dewantiningrum, Mochammad Besari Adi Pramono, Bambang Rahardjo, Bambang Abimanyu, I Nyoman Hariyasa Sanjaya, Anak Agung Gede Putra Wiradnyana, I Wayan Artana Putra, Agus Rusdhy Hamid, Efendi Lukas, John Wantania, Sri Sulistyowati, Milan Stanojevic, Asim Kurjak
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:
https://www.dsjuog.com/doi/pdf/10.5005/jp-journals-10009-2079





