Universitas Airlangga Official Website

Optimalisasi Pengembangan Website Inovatif melalui Peran UI/UX Designer sebagai Implementasi SDGs

Agnesti Wulansari mengikuti sesi pemaparan Scrum Process bersama tim PT Kreasi Bali Sasmita secara daring sebagai bagian dari implementasi metode Agile Scrum dalam pengembangan website perusahaan (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dalam rangka mewujudkan keselarasan antara kompetensi akademis dengan tuntutan industri teknologi informasi yang terus berkembang pesat, mahasiswa Program Studi D4 Teknik Informatika, Fakultas Vokasi, yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) Penyetaraan Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan program magang melalui skema Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDIKA). Kegiatan magang mandiri ini berlangsung di PT Kreasi Bali Sasmita selama periode 15 Januari 2026 hingga 30 Juni 2026.

Melalui program akselerasi ini, mahasiswa mengemban peran sebagai Leader UI/UX dalam memimpin proses perancangan antarmuka dan pengalaman pengguna (User Interface/User Experience Design) pada dua platform website inovatif milik perusahaan. Keterlibatan ini tidak hanya menjadi sarana penerapan keilmuan desain produk digital secara nyata. Tetapi juga memberikan kontribusi langsung dalam menghadirkan antarmuka visual yang fungsional, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna akhir.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memegang tanggung jawab penuh atas keseluruhan proses perancangan antarmuka (end-to-end UI/UX design). Mulai dari penyusunan fondasi sistem desain (design system) hingga koordinasi teknis penyerahan aset desain (design handoff) kepada tim pengembang. Dua platform yang dirancang secara intensif meliputi Website LMS Psikologi, sebuah ekosistem digital interaktif untuk pemantauan dan bimbingan psikologi anak sekolah, serta Website Energi, sebuah sustainability platform untuk pengelolaan minyak jelantah dan sampah makanan yang dikonversi menjadi kredit karbon.

Pendekatan perancangan dilakukan menggunakan kerangka kerja Agile Scrum yang memungkinkan proses desain berlangsung secara iteratif dan kolaboratif, selaras dengan ritme pengembangan tim frontend dan backend developer di perusahaan.

“Melalui proses ini, saya menyadari bahwa merancang antarmuka bukan sekadar membuat tampilan yang indah secara estetika. Melainkan tentang bagaimana memahami kebutuhan pengguna secara mendalam dan menerjemahkannya ke dalam alur interaksi yang intuitif, efisien, dan bermakna,” ujar Agnesti Wulansari, pelaksana program.

Berbeda dengan proses desain konvensional yang bersifat individual, mahasiswa dituntut untuk memimpin tim desain secara kolaboratif dalam lingkungan kerja remote. Salah satu langkah krusial yang dilakukan adalah membangun fondasi sistem desain (design system foundation) yang komprehensif, mencakup penyusunan palet warna dengan skala sembilan tingkatan, hierarki tipografi yang presisi, hingga kurasi aset ikonografi yang konsisten secara visual.

Setelah fondasi desain disepakati, mahasiswa memimpin pembagian beban kerja secara proporsional kepada seluruh anggota tim agar proses pengerjaan high-fidelity design dapat berlangsung secara paralel dan efisien sesuai jadwal sprint yang telah ditetapkan. Proses tinjauan desain (design review) dilakukan secara menyeluruh sebelum aset diserahkan, mencakup pemeriksaan konsistensi warna, keseragaman tipografi, ketepatan spacing, hingga responsivitas tampilan pada berbagai ukuran perangkat.

Mahasiswa menghadapi tantangan tersendiri tidak hanya dalam menjaga konsistensi visual di antara banyak halaman yang dikerjakan secara paralel oleh anggota tim. Tetapi juga dalam memastikan dokumentasi penyerahan desain (design handoff) yang dihasilkan cukup komprehensif untuk dapat langsung diimplementasikan oleh tim frontend developer tanpa menimbulkan kesalahan interpretasi. Tantangan krusial yang harus diatasi meliputi pengelolaan revisi bertingkat dari pihak manajemen, sinkronisasi pembaruan komponen desain secara real-time di Figma, serta penjagaan kualitas visual agar tetap pixel-perfect hingga tahap serah terima akhir.

Melalui pengalaman berharga ini, mahasiswa tidak hanya memperkaya keterampilan teknis perancangan antarmuka (hard skills). Namun juga mengasah kemampuan kepemimpinan tim desain, komunikasi lintas divisi, manajemen iterasi desain, serta adaptabilitas dalam lingkungan kerja remote yang serba dinamis.

Kegiatan magang ini turut mendukung komitmen global dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama pada pemenuhan poin ke-9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui kontribusi nyata dalam membangun infrastruktur digital yang inklusif dan berorientasi pengguna bagi sektor pendidikan dan lingkungan hidup. Selain itu, program ini juga mendukung SDG poin ke-8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mempersiapkan talenta desain digital yang mampu mendorong produktivitas dan inovasi produk di era ekonomi kreatif berbasis teknologi.

Penulis: Agnesti Wulansari