Isu kesetaraan gender masih menjadi perhatian dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan sering kali muncul akibat konstruksi sosial yang berkembang dalam masyarakat. Media, termasuk film, memiliki peran penting dalam membentuk dan merepresentasikan pandangan masyarakat mengenai gender.
Film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo merupakan adaptasi dari novel Pramoedya Ananta Toer yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa kolonial Belanda. Film ini menampilkan berbagai bentuk ketidakadilan sosial yang dialami masyarakat pribumi, khususnya perempuan. Tokoh Nyai Ontosoroh menjadi representasi perempuan yang menghadapi diskriminasi akibat status sosial, gender, dan sistem kolonial yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat.
Ketidaksetaraan Gender dalam Struktur Sosial Kolonial
Film Bumi Manusia menggambarkan struktur sosial kolonial yang menempatkan perempuan pribumi pada posisi yang rendah. Tokoh Nyai Ontosoroh mengalami diskriminasi karena statusnya sebagai seorang nyai. Dalam sistem kolonial, perempuan pribumi tidak memperoleh hak yang setara dengan laki-laki maupun perempuan Eropa. Kondisi tersebut menunjukkan adanya hubungan antara sistem patriarki dan kolonialisme yang memperkuat marginalisasi perempuan.
Diskriminasi Hukum terhadap Perempuan
Bentuk ketidakadilan lainnya terlihat ketika Nyai Ontosoroh harus menghadapi persoalan hak asuh anaknya. Sistem hukum kolonial tidak mengakui kedudukannya sebagai ibu yang sah sehingga hak-haknya diabaikan. Situasi ini menunjukkan bahwa hukum kolonial lebih berpihak kepada kelompok yang memiliki kekuasaan dan status sosial yang lebih tinggi. Perempuan pribumi menjadi kelompok yang paling dirugikan karena mengalami diskriminasi secara gender maupun rasial.
Perlawanan Perempuan terhadap Patriarki
Meskipun menghadapi berbagai bentuk penindasan, Nyai Ontosoroh tidak menyerah pada keadaan. Ia berusaha membangun kemandirian melalui pendidikan dan pengelolaan usaha yang dimilikinya. Tokoh ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan menentukan masa depannya sendiri. Perlawanan yang dilakukan Nyai Ontosoroh menjadi simbol perjuangan perempuan dalam memperoleh pengakuan dan kesetaraan hak.
Selain itu, film juga menampilkan pentingnya pendidikan dan tulisan sebagai alat perjuangan. Melalui tokoh Minke, film menunjukkan bahwa tulisan dapat menjadi sarana untuk menyuarakan ketidakadilan dan mendorong perubahan sosial. Perjuangan tersebut tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga melalui solidaritas untuk menciptakan kesetaraan gender.
Kesimpulan
Film Bumi Manusia merepresentasikan ketidaksetaraan gender yang terjadi dalam struktur sosial masyarakat kolonial. Perempuan pribumi digambarkan mengalami diskriminasi akibat sistem patriarki dan kolonialisme yang menempatkan mereka pada posisi subordinat. Melalui tokoh Nyai Ontosoroh, film ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk melawan ketidakadilan serta memperjuangkan hak dan martabatnya. Dengan demikian, film Bumi Manusia tidak hanya menjadi gambaran sejarah masa kolonial, tetapi juga menjadi refleksi terhadap isu kesetaraan gender yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Penulis: Retno Wahyuni





