Universitas Airlangga Official Website

Optimasi Dekolorisasi Pewarna Victoria Blue R menggunakan Analisis Faktorial Dua Tingkat dengan Hibrida Nanoflowers Limbah Nanas dan Enzim Sampah (GPW-hNFs)

Ilustrasi nanas (sumber: jawa pos)

Industri tekstil misalkan di Malaysia menimbulkan tantangan lingkungan yang signifikan dengan limbah yang mengandung pewarna, dan pembuangan abu dari pabrik kelapa sawit memperburuk masalah tersebut. Studi ini membahas kebutuhan kritis akan metode yang efisien dan berkelanjutan untuk mengolah air limbah industri yang mengandung pewarna, dengan fokus pada penghilangan warna pewarna Victoria Blue R (VBR). Studi ini mengeksplorasi optimalisasi proses penghilangan warna menggunakan hibrida Garbage Enzyme Pineapple Waste Nanoflowers (GPW-hNFs) melalui analisis faktorial dua tingkat.

GPW-hNFs, yang disintesis dari enzim sampah yang berasal dari limbah nanas, berfungsi sebagai sumber enzimatik yang menjanjikan untuk degradasi pewarna. Dengan memvariasikan faktor-faktor seperti jumlah nanoflower, konsentrasi pewarna awal, tingkat pH, waktu sonikasi, dan suhu secara sistematis, studi ini mengidentifikasi parameter utama yang memengaruhi penghilangan warna pewarna VBR. Dengan menggunakan alat statistik seperti ANOVA dan pemodelan prediktif, studi ini mengungkapkan pentingnya jumlah nanoflower, konsentrasi pewarna awal, dan interaksinya (AC) dalam mencapai penghilangan warna yang optimal.

Kondisi optimum yang diprediksi, yang divalidasi secara eksperimental, menghasilkan penghilangan warna pewarna sebesar 61,35%. Akurasi yang tinggi (99,96%) menggarisbawahi kemanjuran analisis faktorial dua tingkat dalam mengoptimalkan GPW-hNF untuk penghilangan warna pewarna VBR, yang menawarkan jalan yang menjanjikan untuk pengolahan air limbah berkelanjutan dalam industri tekstil. Pada penelitian ini, skrining rancangan faktorial dua tingkat berhasil digunakan untuk menentukan faktor-faktor signifikan yang mempengaruhi dekolorisasi zat warna, yaitu jumlah nanoflower (A), konsentrasi zat warna awal (B), dan interaksi antara jumlah NF dengan nilai pH (AC). Dari hasil ANOVA yang diperoleh, jumlah NF (A), konsentrasi zat warna awal (B) dan interaksi AC sangat signifikan (p< 0,05).

Dekolorisasi zat warna tertinggi dicapai sebesar 59,1212% pada kondisi ekstraksi optimal yang dihasilkan oleh Design Expert dengan 0,18 g NF, konsentrasi zat warna 0,02 mg/mL, kadar pH 6,00, waktu sonikasi 39,66 menit, dan suhu 32,34 °C. Dalam percobaan adsorpsi, konsentrasi zat warna berbanding lurus dengan daya serap dan mengikuti hukum Beer-Lambert. Kondisi optimal terbukti memiliki akurasi 99,96% karena hasil percobaan menunjukkan dekolorisasi zat warna tertinggi sebesar 61,35%. Sebagai kesimpulan, dekolorisasi zat warna Victoria Blue R (VBR) cocok untuk menguji kemanjuran aplikasi dekolorisasi zat warna GPW-hNFs. Dalam penelitian ini, hasil yang diperoleh sejalan dengan tren yang diamati dalam penelitian sebelumnya, yang mengonfirmasi keefektifan nanoflower hibrida untuk mendekolorisasi zat warna. Meskipun demikian, penelitian selanjutnya harus fokus pada pengoptimalan parameter menggunakan Response Surface Methodology (RSM) untuk menemukan level optimalnya guna memaksimalkan respons dekolorisasi.

Penulis: Laura Navika Yamani

Untuk membaca artikel lengkap, dapat melalui tautan berikut:

https://scholar.unair.ac.id/en/publications/optimization-of-victoria-blue-r-dye-decolorization-using-two-leve