Talinum paniculatum memiliki senyawa metabolit sekunder utama pada organ akar yaitu saponin (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991). Saponin dapat digunakan sebagai obat anti inflamasi, memiliki efek androgenik, dan dapat menginduksi sel melalui reseptor sel serta dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit (Hu et al., 2003), sehingga produksi senyawa saponin perlu dilakukan dengan memperbanyak produksi akar T. paniculatum. Kultur sel tanaman secara in vitro dapat menghasilkan produksi metabolit sekunder terutama senyawa-senyawa obat lebih baik dibandingkan tanaman utuh.Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan teknik kultur jaringan tanaman sebagai metode untuk memperbanyak produksi akar adventif T. paniculatum. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik yang digunakan untuk menumbuhkan organ, jaringan, dan sel tanaman dalam kondisi aseptik dalam medium buatan. Namun, sel tumbuhan dan media kultur tidak memiliki kemampuan autotrofik sehingga membutuhkan sumber karbon eksternal untuk metabolisme.
Peningkatan pertumbuhan akar akan tercapai dengan penambahan nutrisi berupa unsur makronutrien fosfat dan nitrogen. Hal ini disebabkan karena fosfat penting untuk menyediakan energi berupa ADP dan ATP, NAD dan NADP serta penyusun asam nukleat seperti DNA dan RNA. Selain fosfat, nitrogen juga merupakan makronutrien yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan pembentukan senyawa metabolit sekunder. Nitrogen berfungsi sebagai komponen asam amino, protein, dan asam nukleat dalam tubuh tanaman. Amonium dan nitrat merupakan sumber utama nutrisi pada jaringan dan sel tanaman. Apabila kedua sumber nitrogen tersebut diberikan secara bersamaan, maka pertumbuhan dan produktivitas tanaman akan meningkat secara signifikan dibandingkan apabila hanya diberi ammonium atau nitrat saja. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan optimasi penambahan fosfat dan rasio konsentrasi penambahan ammonium dan nitrat ke dalam media MS untuk meningkatkan pertumbuhan akar adventif T. paniculatum.
Batang dan daun T. paniculatum digunakan sebagai eksplan dan variasi konsentrasi IBA dan BAP, kinetin dan thidiazuron ditambahkan ke dalam media Murashige dan Skoo. Perlakuan ini ditujukan untuk menginduksi terbentuknya akar adventif. Selanjutnya akar adventif dipindahkan ke dalam media dengan konsentrasi fosfat yang berbeda (170; 212.5; 255; 297,5; 340; 382,5; 425; 467,5; 510 mg/L) dan variasi rasio ammonium : nitrat (21:19 mM as the control, 0:30 mM, 10:20 mM, 15:15 mM, 20:10 mM, 30:0 mM). Kultur dipelihara selama 16 minggu. Parameter pengamatan adalah berat segar, berat kering, lama waktu terbentukanya akar, dan jumlah dan Panjang akar adventif. Dat dianalisis secara statistic menggunakan Analisis Varian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi fosfat dan penambahan rasio ammonium dan nitrat mempengaruhi jumlah, Panjang, berat segar dan berat kering akar adventif T. paniculatum secara signifikan. Berat segar tertinggi (37,47 mg) diperoleh pada perlakuan penambahan konsentrasi fosfat dua kali konsentrasi normal, sedangkan rasio penambahan ammonium : nitrat dengan konsentrasi 10:20 mM merupakan perlakuan yang optimum untuk menghasilkan biomassa akar adventif tertinggi (berat segar 73,6 mg dan berat kering 8,2 mg).
Penulis: Palupi Dasawulan Lestari, Syifa Fajrisani, Putri Gehasti, Sugiharto dan Yosephine Sri Wulan Manuhara
Jurnal: OPTIMIZATION OF Talinum paniculatum Gaertn. ROOT INDUCTION AND THE EFFECT OF PHOSPHATE CONCENTRATIONS AND AMMONIUM:NITRATE RATIO ON BIOMASS OF ADVENTITIOUS ROOTS IN IN VITRO CULTURE





