Universitas Airlangga Official Website

Over Diagnosis atau Under Diagnosis Patah Tulang pada Anak

Foto oleh honestdocs.id

Patah tulang pada anak merupakan penyebab penyakit tersering pada anak setelah kasus infeksi. Anak-anak pada usia pertumbuhan banyak beraktivitas sehingga terdapat kemungkinan yang cukup tinggi untuk mengalami jatuh. Secara refleks, saat jatuh anak akan mencoba menghindari benturan, tangan mencoba menahan sehingga anak akan terjatuh dengan posisi lengan terbentang, telapak tangan menjadi tumpuan. Kondisi tersebut membuat patah sekitar siku dan pergelangan tangan sering terjadi.2 Cedera pada kedua daerah tersebut tidak jarang tidak sekedar patah pada tulang panjang, tetapi juga dapat mengenai persendian. Untuk usia pertumbuhan, daerah persendian sangat dekat dengan titik pertumbuhan sehingga tidak mudah untuk melakukan interpretasi foto X-ray saat terjadi cedera. Garis pertumbuhan dapat dikelirukan sebagai garis fraktur (over diagnosis), sedangkan sebaliknya garis fraktur dapat samar, terlewatkan, dianggap tidak terdapat fraktur (under diagnosis).  Tetapi dengan kualitas foto X-ray yang baik serta dokter radiologi yang teliti membaca dan menganalisa, membandingkan sudut-sudut kedua sisi lengan dan tangan baik yang cedera maupun yang tidak cedera dengan teliti, maka dapat tampak kecurigaan adanya fraktur.

Seperti pada umumnya jaringan yang sedang bertumbuh, cedera tulang pada anak dengan penanganan yang baik, sebagian besar akan sembuh sempurna tanpa memerlukan pembedahan untuk memasang fiksasi internal (alat yang dipasang pada tulang untuk membantu tulang menyambung dengan baik). Tetapi pada kasus persendian ataupun garis pertumbuhan terganggu, penanganan tepat oleh dokter orthopedi sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kecacatan permanen berupa tangan yang bengkok, terutama di siku. Walaupun kecacatan ini lebih merupakan lesi kosmetik, bukan fungsional untuk aktifitas sehari-hari, lesi kosmetik ini sangat mengganggu kualitas hidup anak sampai dewasa nantinya. Kualitas hidup seorang anak merupakan hal yang tidak jarang luput dari tujuan akhir penanganan medis. Sudah saatnya penyembuhan tidak hanya berarti dapat berfungsi kembali tetapi lebih dari itu yaitu tampak lurus kembali seperti sedia kala.

Pemberian pemahaman kepada orang tua tentang penegakkan diagnosa yang tepat serta penanganan yang memadai sesuai standar adalah hal yang tidak mudah tetapi sangat penting dan wajib dilakukan melalui berbagai media, tidak menunggu saat anak sudah mengalami cedera. Promosi kesehatan diberikan pada guru dan pembina UKS di sekolah PAUD, TK, SD, dan SMP karena pengenalan dini tentang gejala adanya patah tulang, penanganan awal, serta cara merujuk/mengirim ke Rumah Sakit merupakan titik awal penanganan yang memadai dan akan menghindarkan anak dari kecacatan. Sebaliknya, diagnosa dan penanganan berlebih (over diagnosis and over treatment) juga berbahaya dan merugikan secara psikis dan finansial.

Penanganan awal cedera persendian yang terlambat akibat dirawat sebagai patah tulang biasa (oleh “sangkal putung” atau bone setter) mengakibatkan penanganan sederhana reposisi lalu stabilisasi dengan gips, menjadi penanganan patah tulang terbengkalai (neglected). Kasus terbengkalai harus ditangani dengan pembedahan, membuka daerah cedera untuk dapat direposisi langsung dan dipasang alat untuk menjaga stabilisasi agar posisi tulang tidak berputar saat proses penyembuhan. Kekeliruan diagnostik baik positif palsu ataupun negatif palsu dapat berdampak merugikan bagi pasien dan keluarganya. Pendidikan berkelanjutan bagi semua dokter spesialis terbukti sangat penting.

Oleh:  Dr. Komang Agung Irianto dr., Sp.OT(K)

Judul Jurnal: Lateral versus posterior surgical approach for the treatment of supracondylar humeral fractures in children: a systematic review and meta-analysis.

Authors: Komang Agung Irianto, I Putu Gede Pradnyadewa Pradana, Brigita De Vega

Dipublikasikan di: F1000Research (2022)

Link:https://f1000research.com/articles/10-573