Universitas Airlangga Official Website

Pakar Nutrisi Hewan Beberkan Tips Mengatur Pola Pakan Kuda

UNAIR NEWS – Kuda merupakan hewan herbivora yang mempunyai satu lambung (monogastrik). Hal itu disampaikan oleh pakar nutrisi hewan Kyungpook National University, Prof Eun Joong Kim dalam acara webinar kuliah tamu divisi peternakan Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR. Webinar itu bertajuk “Equine Nutrition: Some Thoughts” pada Sabtu (26/11/2022). Ia mengatakan bahwa kuda membutuhkan pakan ternak yang berkualitas dan bernutrisi seimbang, terdapat mikroorganisme dalam gut, dan minyak pakan.

“Perlu kita ketahui bersama, bahwa kuda sangat berbeda dengan sapi yang mana kuda hanya memiliki 1 lambung (monogastrik). Sehingga, kuda sangat membutuhkan nutrisi yang seimbang, mikroorganisme dalam gut dan juga minyak pakan,” jelas Prof Eun.

Pakar nutrisi hewan yang tinggal di Korea tersebut juga menyebutkan faktor-faktor yang memengaruhi kebutuhan nutrisi pada kuda harus selalu terpenuhi. Di antaranya, adanya pertumbuhan umur, perubahan cuaca, jenis tipe kuda, temperamen dari kuda, kesehatan dan keadaan hamil dan menyusui.

Kebutuhan Hijauan Kuda Lebih Sedikit daripada Sapi

Dalam pengefisienan pemanfaatan hijauan, Prof Eun menjelaskan bahwa kebutuhan dari  kuda lebih sedikit daripada sapi. Tidak hanya itu, kualitas hijauan juga sangat penting dalam diet kuda baik itu berupa silase maupun haylage yang setidaknya 40 persen dari diet harus mengandung serat 1 persen dari BB/hari.

“Kebutuhan hijauan dari kuda memang berbeda dengan sapi, faktanya sapi memiliki kebutuhan lebih banyak daripada kuda. Oleh karena itu, pemberian hijauan pada kuda harus berkualitas dan tidak boleh berlebih, baik berupa silase ataupun haylage, setidaknya 40 persen dari diet harus mengandung serat 1 persn dari BB/hari,” jelas Prof Eun.

Selain kebutuhan hijauan, Prof Eun juga menyebutkan ada beberapa hal dalam mengatur pola pakan kuda. Di antaranya, pemberian pakan biji-bijian sangat baik bagi kuda, pakan disesuaikan dengan beban kerja kuda, usia dan skor kondisi tubuh/berat badan, rutinitas pemberian pakan, dan pasokan air segar dan bersih yang cukup tersedia untuk kuda setiap saat.

Menurutnya, kuda paling rentan terhadap penyakit botulisme, yaitu penyakit saraf multispesies yang sangat fatal yang disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum (tipe A hingga G) dan toksin yang dihasilkan (tipe A dan B umum terjadi pada kuda) oleh jerami. “Sayangya, jerami tidak dianjurkan saat memberi makan kuda karena bahaya botulisme. Yaitu penyakit saraf multispesies yang disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum dan toksin yang berasal dari dihasilkan jerami,” jelas Prof Eun. 

Penulis: Muhammad Fikri Syamsuri

Editor: Khefti Al Mawalia