Universitas Airlangga Official Website

Pakar UNAIR Ungkap Kegagalan Sistemik di Balik Tragedi Selat Bali

Ilustrasi Kapal yang mengalami kecelakaan (sumber: pexels)
Ilustrasi Kapal yang mengalami kecelakaan (sumber: pexels)

UNAIRNEWS – Tenggelamnya kapal feri di Selat Bali bukan sekadar kecelakaan laut akibat cuaca buruk. Menurut Dr Neffrety Nilamsari SSos MKes, pakar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Airlangga, tragedi ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam keselamatan transportasi laut di Indonesia.

“Aspek cuaca memang tidak bisa dikendalikan oleh manusia meskipun memiliki alat secanggih apapun. Tapi sistem keselamatan dan teknologi prediksi seharusnya mampu memberi peringatan dini. Kecelakaan ini terjadi karena sistem itu tidak berfungsi atau diabaikan,” ujarnya.

Neffrety Nilamsari SKM MKes, pakar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Airlangga. (Foto: unair.ac.id)
Teknologi Tak Dimanfaatkan

Radar cuaca, sistem komunikasi, hingga early detection sebenarnya sudah menjadi standar di kapal penumpang. Namun seringkali sistem ini luput dari pengujian secara fungsi sebelum kapal berangkat. 

“Ada kemungkinan kegagalan sistem sehingga tidak bisa memperlihatkan prediksi cuaca sebelum berangkat. sehingga penerapan keselamatan untuk penumpang dan awak kapal itu menjadi minimal,” jelasnya.

Dampaknya, keselamatan penumpang dan awak kapal menjadi minim. Penanganan darurat pun terhambat karena tidak semua kru memahami prosedur evakuasi dengan baik. Menurutnya, ini menunjukkan kurangnya pelatihan dan kedisiplinan operasional di lapangan.

Kondisi Kapal dan Beban

Neffrety juga menyoroti kondisi fisik kapal yang disinyalir tidak layak berlayar. “Korosi pada dinding atau dek kapal bisa membuat kapal mudah robek jika terseret jangkar. Pemeriksaan menyeluruh harus dilakukan, bukan hanya formalitas,” katanya.

Parahnya, banyak kapal tidak diperiksa oleh tenaga ahli bersertifikasi. Awak kapal ditugaskan menguji mesin, radar, hingga indikator angin, tugas yang seharusnya dilakukan teknisi profesional. “Kesalahan teknis kecil bisa berujung bencana jika ditangani orang yang tidak kompeten,” tegasnya.

Jumlah penumpang yang melebihi kapasitas turut memperbesar risiko. Kapal kekurangan pelampung dan sekoci. “Penumpang non-manifest sangat berbahaya dalam kondisi darurat. Evakuasi jadi kacau, dan identifikasi korban sulit dilakukan,” tambahnya.

Kesadaran publik juga perlu dibangun. “Kalau kapal penuh, jangan nekat. Keselamatan harus jadi prioritas, bukan sekadar tiba lebih cepat,” ujarnya menutup.

Sebagai penutup, ia menyerukan audit menyeluruh dan penerapan SOP ketat oleh perusahaan pelayaran. “Jangan tunggu tragedi berikutnya. Disiplin keselamatan tidak boleh lagi dinegosiasikan,” pungkasnya.

Penulis: Sintya Alfafa

Editor: Ragil Kukuh Imanto