UNAIR NEWS – Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar pameran inovasi bertajuk Industrial Vision for Creative Engineering (INVIC) 2025. Kegiatan pameran itu terlaksana pada Kamis (4/12/2025) di GOR Multipurpose Kampus MERR C. Acara juga terbuka untuk umum sebagai ajang pengenalan karya mahasiswa kepada masyarakat luas.
Gelaran INVIC sukses menampilkan berbagai prototipe dan produk jadi hasil karya mahasiswa dari beberapa mata kuliah. Bermacam mata kuliah itu seperti Perancangan Teknik Industri (PTI), Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), Computer Numerical Control (CNC), dan Praktikum 3D Printing. Karya-karya yang dipamerkan secara umum mengusung konsep keberlanjutan sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Terlebih, khususnya pada aspek produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab.
Kenalkan Tempat Sampah Pencacah
Adapun salah satu produk karya mahasiswa dari mata kuliah P3 yaitu Crushbin. Karya dari Sergie Radones Lepong Pallangan dan tim ini menampilkan tempat sampah pencacah sisa organik dengan mekanisme injakan tanpa menggunakan listrik. “Produk yang kami bawa sepenuhnya bergantung pada kekuatan injakan kaki,” ujar Sergie.
Ia menjelaskan bahwa konsep utama produk timnya itu menitikberatkan pada aspek lingkungan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah. “Konsep awal kami sekarang ini lebih kepada jenis sampah organik. Melalui mekanisme pedal, mata pisau di dalam alat akan berputar untuk mencacah sampah-sampah tersebut.”
Ke depan, ia dan tim berencana memperluas fungsi Crushbin untuk mencacah sampah anorganik sederhana seperti kertas dan botol plastik. Dengan produk ini, lanjut Sergie, harapannya dapat menyasar kebutuhan rumah tangga, perkantoran, institusi pendidikan, hingga restoran. “Setelah pameran ini, kami ingin produk kami pun tidak berhenti di tahap prototipe, tetapi juga dapat terus berkembang bagi keberlangsungan lingkungan,” tutur Sergie.
Inovasi Produk Tas Ramah Lingkungan
Inovasi lain juga datang dari mata kuliah PTI lewat salah satu produk BAZIO yang menggabungkan konsep Bag Zero Waste Bioplastics. Hasil karya Ariella Bethanya Sari dan tim itu menghadirkan tas berbahan bioplastik dari limbah kulit buah pisang dan kulit buah jeruk.
Proses pembuatan tas ini, sebut Ariella, bermula dari pengeringan kulit buah, kemudian melalui proses penghalusan hingga menjadi bubuk. Bubuk tersebut dicampur dengan kalsium klorida, sodium alginat, coconut oil, dan gliserin sebelum dipanaskan, dijemur selama kurang lebih satu minggu, lalu dipadukan dengan kain flanel untuk memperkuat struktur tas.
BAZIO Bag menyasar pasar Generasi Z dengan desain three in one yang dapat berfungsi sebagai pouch, sling bag, dan tote bag. “Gen Z sekarang kan suka gonta-ganti tas yang akhirnya memicu over consumption tekstil. Lewat produk ini, kami ingin tetap menghadirkan tas yang fashionable tetapi juga ramah lingkungan karena bahannya dapat terurai,” jelas Ariella.
Meski demikian, Ariella mengakui bahwa untuk memasarkan produknya, ia masih membutuhkan pengujian lebih lanjut, terutama pada aspek ketahanan dan perawatan. “Untuk barang seperti buku dan gadget kecil masih cukup aman, tetapi untuk laptop belum kami rekomendasikan untuk pakai karena kami butuh uji lab lebih lanjut,” katanya.
Pada akhir, Ariella ingin BAZIO Bag bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk selalu peduli dalam menjaga lingkungan. “Misalnya ke depannya memang direalisasikan, kami berharap Gen Z bisa memakai produk tas dengan lebih aware sama lingkungan yang sustainable,” tutupnya.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Ragil Kukuh Imanto





