Universitas Airlangga Official Website

Pandemi COVID-19 dan Dampaknya terhadap Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia

Hasil Analisis Nutrigenomik Pada Penyintas COVID-19
Ilustrasi Penyintas COVID-19 (sumber: detik.com)

Pandemi COVID-19 telah mengubah sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak pertama kali dilaporkan pada akhir 2019, virus SARS-CoV-2 tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan langsung, tetapi juga memengaruhi pengendalian penyakit menular lainnya seperti tuberkulosis (TB). TB masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular di dunia, dengan sekitar 10 juta kasus baru dan 1,5 juta kematian setiap tahunnya. Sebelum pandemi, berbagai negara termasuk Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan dalam menekan angka kasus TB. Namun, pandemi COVID-19 menyebabkan terganggunya upaya tersebut.

Laporan Global Fund mencatat bahwa rujukan kasus TB menurun hingga 59% pada kuartal kedua dan ketiga tahun 2020 dibandingkan periode yang sama pada 2019. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa sebanyak 84 negara mengalami gangguan serius dalam layanan pengendalian TB. Diperkirakan sekitar 1,4 juta orang yang seharusnya menjalani pengobatan TB tidak mendapatkan akses yang memadai pada tahun 2020.

Kondisi pembatasan sosial dan isolasi rumah yang ketat justru meningkatkan risiko penularan TB di lingkungan keluarga, terutama di daerah padat penduduk dengan kondisi sosial ekonomi rendah. Selain itu, penurunan aktivitas layanan kesehatan, keterlambatan diagnosis, dan gangguan rantai pasokan obat semakin memperburuk situasi. Menurut beberapa model studi epidemiologi, penurunan deteksi kasus TB selama tiga bulan dapat meningkatkan angka kematian akibat TB hingga 13%. Indonesia sendiri mengalami penurunan penemuan kasus baru sebesar 25–30% selama masa pandemi.

Indonesia menempati posisi kedua di dunia dalam jumlah kasus TB tertinggi setiap tahunnya. Jumlah kasus baru mencapai 25,40 per 1 juta penduduk dengan tingkat keberhasilan pengobatan sekitar 88%. Di Provinsi Jawa Timur, angka kasus TB masih tinggi, menjadikannya salah satu daerah prioritas penanganan. Pemerintah daerah telah berupaya memperkuat deteksi dini dan memperbaiki manajemen kasus, namun pandemi COVID-19 memperlambat pelaksanaan program tersebut. Tantangan tambahan muncul dari faktor sosial dan ekonomi masyarakat, serta keterbatasan sumber daya kesehatan di tingkat lokal.

Data tahun 2020 menunjukkan bahwa sebagian besar kasus TB di Jawa Timur terjadi pada kelompok usia 45–54 tahun, dengan total 60.785 kasus. Pola yang sama juga terlihat pada tahun 2019, menunjukkan bahwa pandemi tidak mengubah distribusi usia penderita, tetapi menurunkan jumlah kasus yang berhasil terdeteksi. TB juga ditemukan pada semua kelompok usia, termasuk anak-anak dan lansia di atas 65 tahun. Kelompok lansia memiliki risiko kematian lebih tinggi karena infeksi ganda COVID-19 dan TB. Selain itu, laki-laki tercatat lebih banyak menderita TB dibandingkan perempuan karena faktor perilaku dan paparan risiko yang lebih besar.

Penurunan jumlah kasus TB yang terdeteksi selama pandemi menandakan adanya gangguan dalam sistem surveilans dan pelayanan kesehatan dasar. Meskipun pandemi COVID-19 menjadi tantangan besar, pengendalian TB tetap harus menjadi prioritas nasional. Upaya integrasi antara layanan COVID-19 dan TB perlu dilakukan, termasuk memperluas akses pemeriksaan laboratorium, meningkatkan pelacakan kasus aktif, serta memperkuat edukasi masyarakat.

Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 berdampak nyata terhadap penurunan deteksi dan pengendalian TB di Indonesia. Penguatan sistem kesehatan yang adaptif menjadi langkah penting agar penanganan TB tidak kembali tertinggal di tengah situasi krisis kesehatan global.

Penulis: Dr. Budi Utomo, dr., M.Kes.

Informasi lebih lanjut terkait penelitian ini dapat diakses di link berikut ini: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12102676/