Universitas Airlangga Official Website

Parasit Trypanosoma lewisi: Bahaya Tersembunyi dari Tikus di Pesisir Banyuwangi


Berbagai penelitian mengenai Trypanosoma lewisi pada hewan pengerat khususnya tikus liar telah banyak dilaporkan. Rodríguez et al. (2010) menemukan bahwa prevalensi T. lewisi pada spesies tikus Rattus rattus di Italia mencapai 54%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Rattus norvegicus yang hanya 4%. Di Malaysia, Shafiyyah et al. (2012) melaporkan bahwa 1,5% tikus yang ditemukan di pasar tradisional terinfeksi T. lewisi. Penelitian Pumhom et al. (2014) di tiga negara menunjukkan variasi prevalensi, dengan angka infeksi 16,7% di Thailand, 9,5% di Kamboja, dan 12,4% di Myanmar. Nguyen et al. (2022) juga menemukan prevalensi yang tinggi, yakni 62,5% pada tikus yang ditangkap di rumah sakit, pasar, dan stasiun kereta. Semua penelitian ini menunjukkan bahwa T. lewisi dapat menyebar di berbagai lingkungan yang dihuni oleh tikus. Meskipun begitu, penelitian mengenai infeksi T. lewisi di Indonesia masih sangat terbatas, khususnya dalam hal analisis molekuler. Hingga saat ini, studi-studi yang ada hanya mencakup beberapa kota seperti Malang, Sulawesi Selatan, Banjarnegara, dan Surabaya. Dalam penelitian terbaru, Wardhana et al. (2024) menyelidiki keberadaan T. lewisi pada tikus liar yang ditangkap di dalam rumah, luar rumah, dan kandang ternak di Aceh dan Jakarta menggunakan teknik analisis molekuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus yang ditangkap di dalam rumah memiliki prevalensi infeksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada di luar rumah. Selain itu, tikus yang ditemukan di kandang ternak juga terdeteksi positif T. lewisi. Penelitian ini menegaskan pentingnya dilakukannya studi lebih lanjut mengenai prevalensi T. lewisi untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang tikus yang membawa agen patogen zoonotik dan hidup berdampingan dengan manusia.
Banyuwangi merupakan salah satu lokasi yang menarik untuk meneliti keberadaan T. lewisi di Indonesia. Wilayah ini terletak dekat dengan pesisir, memiliki garis pantai yang panjang dan berpotensi menjadi pusat kegiatan ekonomi melalui sektor pariwisata. Sebagian besar penduduk di kawasan pesisir Banyuwangi mengandalkan perikanan sebagai mata pencaharian utama. Meskipun wilayah ini memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi, tingkat pendapatan dan kesadaran akan pola hidup sehat relatif rendah. Akibatnya, kawasan pesisir sering dianggap sebagai permukiman padat yang cenderung kumuh. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki prevalensi Trypanosoma lewisi di Kecamatan Banyuwangi dengan memanfaatkan tiga metode, yaitu pemeriksaan langsung apusan darah, pemeriksaan mikroskopis apusan darah tipis yang diwarnai, serta analisis molekuler menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Penelitian ini melibatkan penggunaan perangkap tikus yang dipasang di sekitar permukiman padat penduduk di wilayah pesisir, khususnya di Kampung Mandar, Lateng, dan Kepatihan, yang terletak di Kecamatan Banyuwangi.
Sebanyak 169 ekor tikus liar berhasil ditangkap di kawasan pesisir Kampung Mandar, Lateng, dan Kepatihan di Kecamatan Banyuwangi, dengan rincian 93, 70, dan 6 ekor dari masing-masing lokasi. Secara geografis, Kampung Mandar berbatasan dengan Kepatihan di sebelah selatan dan Lateng di sebelah utara. Pemeriksaan mikroskopis secara natif dilakukan dengan mengambil 3 ml sampel darah segar dari tabung EDTA, yang kemudian ditempatkan di object glass dan ditutup dengan cover glass. Keberadaan Trypanosoma spp. diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400 kali. Untuk mengidentifikasi Trypanosoma lewisi melalui metode PCR konvensional, digunakan dua primer DNA, yaitu TRYP1S-TRYP1R dan LEW1S-LEW1R, yang masing-masing menghasilkan produk dengan panjang 623 bp dan 220 bp. Kedua primer ini dirancang untuk mengamplifikasi fragmen DNA pada wilayah internal transcribed spacer 1 (ITS1) dari DNA ribosom.
Prevalensi infeksi Trypanosoma lewisi pada tikus liar berdasarkan uji PCR tercatat sebesar 24,46% (41/169) di tiga lokasi penelitian. Di semua lokasi yang disurvei, proporsi infeksi T. lewisi berdasarkan uji PCR menggunakan primer LEW1R-LEW1S lebih tinggi pada spesies tikus Rattus tanezumi (32,76%) dibandingkan dengan Rattus norvegicus (19,82%). Dibandingkan dengan primer TRYP1R-TRYP1S, primer LEW1R-LEW1S (220 bp) menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi. Pemeriksaan mikroskopis secara natif dan apusan darah tipis yang diwarnai memberikan hasil yang identik, yaitu 23,08% (39/169).
Sebagai agen zoonosis, Trypanosoma lewisi memiliki dampak medis yang cukup signifikan terhadap kesehatan manusia dengan menyebabkan penyakit trypanosomiasis. Meskipun hingga kini belum ada laporan mengenai kasus trypanosomiasis pada manusia di wilayah Banyuwangi, penyakit ini telah tercatat di sejumlah negara di Asia dan Afrika, seperti Thailand, Malaysia, India, dan Gambia. Pada hewan tikus yang terinfeksi T. lewisi umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Namun, infeksi T. lewisi pada manusia, terutama pada bayi, dapat menimbulkan gejala klinis seperti demam, rasa tidak enak badan, anemia, muntah, kehilangan nafsu makan, dan kelemahan. Kasus terbaru infeksi T. lewisi pada manusia dilaporkan di Uttar Pradesh, India, pada seorang bayi berusia 22 hari yang menunjukkan gejala demam, hilangnya nafsu makan, dan rasa lemas selama tiga hari.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tikus liar, khususnya Rattus norvegicus dan Rattus tanezumi, yang banyak ditemukan di area pemukiman, dapat berperan sebagai sumber penularan T. lewisi. Untuk mengurangi penyebaran agen patogen yang semakin meluas, sangat penting untuk menerapkan langkah-langkah pengendalian dan strategi yang efektif terhadap tikus liar. Beberapa tindakan yang disarankan antara lain membatasi kontak manusia dengan tikus liar, memperbaiki desain bangunan, mengenakan perlengkapan pelindung saat membersihkan lingkungan, serta menyimpan makanan dengan benar guna mencegah munculnya tikus liar. Selain itu, penting bagi lembaga penelitian nasional bekerjasama dengan lembaga internasional yaitu Food and Agriculture Organization (FAO), World Organization for Animal Health (WOAH), dan World Health Organization (WHO), untuk mengkoordinasikan pemantauan kasus penyakit pada manusia dan pelaksanaan program pemantauan rutin pada tikus liar.
Hal ini mencakup pengembangan alat diagnostic dan kandidat obat yang efektif. Selain itu, tenaga medis termasuk dokter umum dan dokter hewan, harus mendapatkan pelatihan menyeluruh untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam melakukan pemeriksaan serta mengenali agen patogen yang bersifat zoonosis. Dengan demikian, infeksi T. lewisi dapat dicegah secara proaktif, efektif, dan efisien terutama di daerah pemukiman padat penduduk wilayah pesisir seperti Kampung Mandar, Lateng, dan Kepatihan. Salah satu keterbatasan penelitian ini adalah kami tidak mengukur intensitas parasit dalam darah (parasitemia), karena tujuan utama kami adalah untuk mengetahui status positif atau negative infeksi T. lewisi pada tikus liar yang ditangkap di lokasi pemukiman padat penduduk. Selain itu, kami juga tidak menyelidiki hubungan antara tingkat parasitemia dengan gejala penyakit yang muncul pada tikus liar. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi laporan pertama yang mengungkap adanya infeksi T. lewisi pada tikus liar yang tersebar di beberapa lokasi padat penduduk di pesisir Banyuwangi.
Penulis: Aditya Yudhana, drh., M.Si.
Sumber:
Wardhana AH, Putra FL, Yudhana A, Sawitri DH, Wiedosari E, Mujiyanto M, Priyambodo S, Mufasirin M, Hamid PH, Nugraheni YR, Awaludin A, Priyono P, Dargantes AP, Matsubayashi M. Detection of Trypanosoma lewisi from rodents residing in the densely populated residential regions along the coastal areas of Banyuwangi Sub District, Indonesia. Open Vet J. 2024 Aug;14(8): 1808-1818.