Universitas Airlangga Official Website

Pariwisata Berkelanjutan dari Perspektif Kewirausahaan: Tinjauan Literatur Sistematis

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pariwisata telah lama dipandang sebagai mesin penggerak ekonomi, membuka lapangan kerja, menghidupkan kembali desa-desa terpencil, dan meningkatkan citra daerah. Namun di balik geliat positifnya, industri ini tidak luput dari sorotan tajam karena dampak ekologisnya yang merusak dan praktik-praktik yang kurang berkelanjutan. Di tengah kekhawatiran tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah pariwisata bisa benar-benar berkelanjutan? Dan jika ya, siapa yang harus memimpin perubahan tersebut?

Sebagai jawaban, penelitian ini mengkaji keterkaitan antara kewirausahaan dan pariwisata berkelanjutan melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Selama satu dekade terakhir, topik ini mulai menarik perhatian akademisi karena menggabungkan dua kekuatan besar: inovasi kewirausahaan dan tanggung jawab sosial-lingkungan dari pariwisata berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun pemahaman berbasis bukti ilmiah mengenai bagaimana peran kewirausahaan mendukung transformasi sektor pariwisata menuju arah yang lebih berkelanjutan. Dengan harapan, temuan ini dapat menjadi panduan kebijakan, praktik, sekaligus rujukan ilmiah di masa depan.

Kontribusi utama dari penelitian ini terletak pada sintesis pengetahuan yang sebelumnya tersebar di berbagai jurnal dan wilayah. Penelitian ini mengungkapkan bahwa Community-Based Tourism (CBT) dan Community-Based Social Enterprises (CBSEs) merupakan penghubung kunci antara semangat kewirausahaan dan prinsip pariwisata berkelanjutan. Di sinilah letak pentingnya pemberdayaan komunitas lokal—mereka tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga subjek perubahan.

Metode dan Hasil: Menyaring Pengetahuan Lewat Sistematisasi Literatur

Pendekatan Systematic Literature Review (SLR) digunakan untuk menyaring 78 artikel ilmiah dari basis data Scopus yang diterbitkan antara tahun 2013 hingga 2024. Artikel-artikel ini dipilih berdasarkan kriteria seperti keterkaitan topik kewirausahaan dan pariwisata berkelanjutan, publikasi jurnal bereputasi, serta keterpenuhan konten yang relevan. Analisis dilakukan secara bibliometrik dan pemetaan ilmiah menggunakan perangkat lunak VOSviewer.

Hasil utama menunjukkan bahwa Community-Based Tourism (CBT) adalah tema paling dominan dan berkelindan erat dengan berbagai konsep seperti social entrepreneurship, sustainable business models, dan penguatan nilai-nilai lokal. CBT dinilai mampu menjawab tantangan pariwisata konvensional yang eksploitatif, dengan menawarkan pendekatan yang inklusif dan berbasis partisipasi masyarakat.

Selain itu, Community-Based Social Enterprises (CBSEs) menjadi bentuk wirausaha sosial yang efektif dalam mengintegrasikan nilai ekonomi dan sosial. CBSEs terbukti mampu memfasilitasi inovasi lokal, mendorong kepemilikan komunitas, serta memperluas jaringan kolaborasi antar pemangku kepentingan pariwisata.

Indonesia dan Thailand muncul sebagai dua negara dengan jumlah publikasi tertinggi dalam topik ini. Hal ini menunjukkan bahwa isu keberlanjutan dan kewirausahaan dalam pariwisata bukan hanya wacana akademik, tetapi telah menjadi perhatian nyata di negara berkembang dengan potensi wisata yang besar. Praktik seperti pengembangan ekowisata berbasis budaya, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan UMKM lokal menjadi sorotan penting.

Temuan lain menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam wirausaha pariwisata berperan besar dalam membentuk praktik pariwisata yang adaptif terhadap perubahan iklim dan peka terhadap isu sosial. Namun demikian, hambatan struktural seperti akses terbatas terhadap modal, pendidikan, dan pengambilan keputusan masih perlu ditangani agar potensi ini dapat dimaksimalkan.

Kesimpulan: Jalan Panjang Menuju Pariwisata Berkelanjutan Dimulai dari Komunitas

Kajian ini memperlihatkan bahwa kewirausahaan tidak sekadar soal profit, tetapi bisa menjadi instrumen perubahan menuju model pariwisata yang adil, lestari, dan berbasis komunitas. CBT dan CBSEs menjadi aktor strategis dalam menjembatani kesenjangan antara nilai ekonomi dan nilai keberlanjutan.

Untuk ke depan, riset mendalam diperlukan pada isu-isu seperti bagaimana komunitas dengan sumber daya terbatas bisa mengembangkan model pariwisata yang mandiri, bagaimana peran perempuan dalam kewirausahaan pariwisata, dan bagaimana UMKM sektor pariwisata bisa difasilitasi untuk mengadopsi praktik hijau. Tanpa diragukan lagi, masa depan pariwisata yang berkelanjutan terletak di tangan mereka yang paling dekat dengan destinasi itu sendiri: komunitas lokal.

Penulis:
Rahmat Yuliawan1, Dian Ekowati2*, Sudarnice2,3, Suwandi S. Sangadjii2

1Vocational Studies, Universitas Airlangga, Surabaya 60286, Indonesia

2Department of Management, Faculty of Economics and Business, Universitas Airlangga, Surabaya 60286, Indonesia

3Department of Management, Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Kolaka 93517, Indonesia

Corresponding Author Email: d.ekowati@feb.unair.ac.id

Informasi lengkap hasil riset ini telah dipublikasikan dalam:
Yuliawan et al. (2025). “Sustainable Tourism from an Entrepreneurship Perspective: Systematic Literature Review”, International Journal of Sustainable Development and Planning, Vol. 20 No. 6, pp. 2483–2496
https://doi.org/10.18280/ijsdp.200617