Cidera pergelangan kaki menjadi “momok” yang menakutkan bagi atlit sepak bola. Tidak terkecuali pemain sepak bola klub PERSEBAYA Surabaya. Kejadian cidera pergelangan kaki pemain sepak bola klub PERSEBAYA Surabaya mencapai 55%, lebih tinggi daripada angka kejadian yang dirilis FIFA di tahun 2019, yaitu sebesar 50%.
Cidera mempengaruhi performa atlit dalam menampilkan permainan terbaik saat berlatih dan bertanding. Pemain harus menepi dari aktivitas latihan dan pertandingan untuk mengikuti rehabilitasi selama pemulhan cidera. Proses pemulihan pasca cidera membutuhkan waktu yang lama. Terdapat kekhawatiran bagi atlit yang mengalami cidera, tidak lagi dapat kembali ke performa terbaiknya.
Pergelangan kaki merupakan sendi yang menopang tubuh selama berdiri, berjalan, berlari dan melompat. Pergelangan kaki menjadi tumpuan awal yang menentukan berbagai gerakan saat bermain sepak bola. Cidera pergelangan kaki menyebabkan atlit sepan bola mejadi kurang percaya diri untuk melompat. Mereka takut mengalami cidera ulangan yang menimbulkan rasa sakit selama beroalhraga.
Dua puluh lima atlit sepak bola Persebaya Surabaya menjadi responden dalam penelitian ini. Mereka dibagi berdasarkan riwayat cidera ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang pernah mengalami cidera pergelangan kaki dan yang tidak pernah. Semua atlit mengikuti pemeriksaan indeks massa tubuh, kekuatan otot kaki dan tes melompat vertical. Hasil pemeriksaan dibandingkan secara statistic untuk menentukan perbedaan antar kedua kelompok.
Hasil tes melompat vertikal mengejutkan, ternyata tinggi lompatan yang dicapai atlit yang pernah cidera pergelangan kaki tidak berbeda secara bermakna dengan yang dicapai atlit yang tidak pernah cidera. Selama proses rehabilitasi, tubuh telah beradaptasi dengan menguatkan beberapa otot kaki dalam menunjang stabilitas sendi. Kekuatan otot gastrocnemius, plantar, adductor dan abductor ditemukan juga tidak berbeda setelah pulih dari cidera. Hal ini menunjukkan rehabilitasi yang dilakukan berhasil mengembalikan kekuatan otot dan performa melompat vertikal pulih seperti semula.
Perbedaan yang bermakna hanya ditemukan pada kekuatan otot hamstring. Otot hamstring yang lebih kuat ditemukan pada atlit yang tidak pernah mengalami cidera pergelangan kaki. Kekuatan otot hamstring juga berhubungan dengan kemampuan atlit sepak bola dalam melompat vertikal lebih tinggi. Ke depan hal ini perlu menjadi perhatian atlit, pelatih fisik dan fisioterapis olahraga.
Latihan penguatan pada otot hamstring selama cidera pergelangan kaki sering terabaikan. Otot hamstring yang menjadi bagian dari paha dianggap tidak berkontribusi bermaka terhadap stabilitas sendi pergelangan kaki. Akibatnya, otot hamstring mengalami penyusutan massa dan kekuatan selama proses pemulihan cidera. Penyusutan otot hamstring ikut berkontribusi secara bermakna terhadap tinggi lompatan vertikal seorang pemain sepak bola
Ke depan, rehabilitasi cidera sendi pergelangan kaki perlu mengikutsertakan latihan penguatan hamstring. Latihan penguatan hamstring bermanfaat mempertahankan massa dan kekuatan otot dalam menunjang gerakan melompat vertikal. Latihan penguatan hamstring sebaiknya dilakukan menunggu keradangan dan stabilitas sendi pergelaangan kaki telah pulih untuk menghindari cidera ulangan yang lebih parah.
Penulis: Bambang Purwanto, Departemen Ilmu Faal dan Biokimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Sumber artikel: Samudra AD, Purwanto B, Utomo DN. Differences in Limb Muscle Strength Affecting Vertical Jump Heights in Soccer Players after Chronic Ankle Injury. jmr. 2024;19(1):21-29. Differences in Limb Muscle Strength Affecting Vertical Jump Heights in Soccer Players after Chronic Ankle Injury | Journal of Modern Rehabilitation





