Covid-19 merupakan penyakit pandemic yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Meskipun kasus covid-19 perlahan menurun, namun angka morbiditas di Indonesia masih diatas 1000 kasus atau 2.871 kasus. Pada komposisi umur, penduduk Indonesia di tahun 2020 akan memasuki ageing population, dimana 10% adalah penduduk lansia. Lansia memiliki resiko yang cukup rentan untuk terkena penyakit menular, karena daya tahan tubuh, fungsi organ dan sistem gerak tubuh mulai menurun. Terlebih lagi, penyakit yang sering menyertai para lansia adalah penyakit degenerative, sehingga resiko lansia dengan kormobid penyakit degenerative perlu dipertimbangkan.
Pada kasus berikut, pasien merupakan penderita covid-19 dengan kormobid Fahr sekunder. Penyakit Fahr Sekunder merupakan salah satu penyakit yang jarang, sehingga terkadang jarang sebagai pertimbangan. Penyakit neurodegeneratif berikut jarang terlaporkan sehingga prevalensi penderita rendah atau sekitar 1 per 1 juta orang populasi. Penyakit Fahr diklasifikasi menjadi dua golongan, yaitu sekunder dan primer. Penderita mengalami penyakit Fahr sekunder, dengan riwayat tiroidektomi yang mengalami hipoparatiroid.
Penyakit fahr dikarakteristikan sebagai gangguan pada neuropsikiatri dan gangguan kognitif. Maka, pada saat pemeriksaan neuro-perilaku, dihasilkan bahwa adanya gangguan kognitif khususnya pada ingatan, gangguan perhatian, bahasa/verbal, dan domain visual-spasial. Selain dari pemeriksaan neuro-perilaku, berdasarkan hasil laboratorium, diketahui rendahnya hormon perangsang tiroid, dan rendahnya serum kalsium yang mengindikasikan adanya hipoparatiroid.
Dalam pengobatan, penyakit Fahr belum ada pengobatan definitive atau pasti, sehingga penyakit berikut jarang ada pasien yang sembuh. Namun, pengobatan tetap harus dilakukan yang dilakukan dengan menyasar pada gangguan akut dan peningkatan kualitas hidup. Kesulitan dalam diagnose, dan treatment pada pasien Fahr, menjadikan artikel berikut sebagai salah satu acuan. Acuan dalam pemeriksaan lebih dini terhadap adanya tanda-tanda penyakit Fahr, sebelum adanya penyakit Covid-19 atau penyakit yang dapat menurunkan sistem imun secara akut. Dengan adanya pemeriksaan lebih dini, baik dengan CT-Scan, laboratorium, dan MRI, maka pengobatan dapat dilakukan sedini mungkin.
Informasi detail dari studi artikel ini dapat dilihat pada Jurnal Romanian Journal of Neurology, 2021, hal. 501-504. Artikel dapat diakses melalui link berikut: http://dx.doi.org/10.37897/RJN.2021.4.17
Sutantoyo, F. F., & Sugianto, P. (2021). Secondary Fahr’s disease: A differential to be considered in a COVID-19 pneumonia patient with neuropsychiatric presentations. Romanian Journal of Neurology, 20(4), 501–504. https://doi.org/10.37897/RJN.2021.4.17





