Universitas Airlangga Official Website

Peeling Kimia pada Pasien dengan Penuaan Kulit

Foto by Kompas com

Di Indonesia, peeling kimia telah digunakan sebagai pilihan pengobatan untuk pasien photoaging atau penuaan oleh paparan sinar matahari. Pada penelitian yang dilakukan di Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya dari Januari-Desember 2019, terdapat 37 pasien yang menjalani peeling kimia. Pasien terbanyak berusia 46-55 tahun dengan 13 pasien (35,1%). Semua pasien merupakan perempuan dan sebagian besar dari mereka (32,4%) bekerja sebagai pegawai swasta. Saat ini masyarakat mulai memperhatikan kondisi kulitnya, terutama pada perempuan. Pekerjaan pasien juga terkait dengan frekuensi dan intensitas paparan sinar matahari. Sayangnya, rekam medis pasien tidak dilampirkan rincian mengenai pekerjaan pasien. Sebagian besar pasien (94,6%) datang dengan keluhan utama kulit kusam, yang berkaitan dengan paparan radiasi ultraviolet (UV) A dan B yang disebabkan oleh sinar matahari.

perubahan pigmen ditemukan pada semua pasien, diikuti dengan kerutan pada 34 (91,9%) pasien. Perubahan pigmentasi adalah tanda yang menonjol dari photoaging kulit. Selain itu, berkurangnya kolagen menurunkan kekuatan kulit dan menyebabkan pembentukan kerutan.

Diagnosis photoaging yang paling umum adalah Glogau II dan III, masing-masing ditemukan pada 15 (40,5%) pasien. Glogau II menunjukkan adanya kerutan saat ada gerakan wajah, bintik pigmentasi, dan keratosis yang teraba. Glogau III (tipe lanjut) menunjukkan kerutan saat istirahat, perubahan warna kulit yang tampak, serta telangiektasia dan keratosis yang terlihat.

Mengenai prosedur, sebagian besar pasien penuaan kulit mendapatkan pemberian primer berupa tabir surya SPF 30 (97,3%). Agen peeling yang paling banyak digunakan adalah asam glikolat (GA) 20% pada 23 (62,2%) pasien. Asam glikolat merupakan salah satu asam alfa hidroksi (AHA) yang sering digunakan untuk peeling kimia karena efeknya untuk memecah sel lapisan tanduk atau efek keratolitik. Pada penelitian ini agen yang digunakan paling banyak untuk terapi pasca peeling adalah tabir surya SPF 30 (86,5%).

Untuk hasil yang optimal, terapi peeling permukaan membutuhkan 4-6 pengulangan dengan interval 2-4 minggu. Pada penelitian ini, semua pasien dengan usia lanjut mendapatkan terapi peeling permukaan, namun sebagian besar pasien (43,2%) tidak melakukan terapi lanjutan. Sebanyak 11 (29,7%) pasien hanya melakukan satu kunjungan tindak lanjut. Sementara itu, hanya 1 (2,7%) pasien yang memiliki 4 atau 6 tindak lanjut. Sebagian besar pasien dalam penelitian ini tidak melakukan tindak lanjut secara teratur, sehingga akan mempengaruhi keberhasilan terapi.

Menurut penelitian ini, mayoritas pasien yang menerima peeling GA 20% hanya melakukan satu kunjungan tindak lanjut dan tidak mengalami perubahan skor photoaging Glogau. Sebagian besar pasien yang mengalami perbaikan skor photoaging melakukan dua kunjungan tindak lanjut. Pasien yang mengalami perburukan skor hanya melakukan satu kunjungan tindak lanjut. Selain frekuensi tindak lanjut, hasil terapi tergantung pada kondisi klinis, kepatuhan pasien, dan risiko komplikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien antara lain faktor pasien seperti usia, pendidikan, motivasi, dan hubungan pasien-dokter; faktor terapeutik seperti durasi, kompleksitas, efek samping, dan tingkat perubahan perilaku yang diperlukan; faktor fasilitas kesehatan seperti aksesibilitas dan pelayanan; dan faktor sosial ekonomi seperti aktivitas pasien, biaya, dan dukungan sosial. Dengan demikian, prosedur peeling kimia yang tepat dan kepatuhan pasien merupakan faktor penting untuk meningkatkan hasil terapi.

Penulis : Dr.Trisniartami Setyaningrum,dr.,Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/39098/24343

Chemical Peeling in Skin-Aging Patients: A Retrospective Study

Ester Chateline Susanto, Trisniartami Setyaningrum, Arifa Mustika, Linda Astari