Universitas Airlangga Official Website

Pejabat Tinggi Perusahaan dan Ikatan Sekolah Auditor dengan Biaya Audit

Penelitian ini menggambarkan pentingnya kemandirian auditor dalam menjalankan audit yang obyektif dan adil, serta bagaimana hubungan antara auditor dan klien dapat mempengaruhi hasil audit. Moore et al. (2006) menyatakan bahwa kemandirian adalah kunci untuk mencegah bias dalam hasil audit yang dapat berpihak pada kepentingan klien. Namun, tantangan yang dihadapi oleh auditor adalah terjebak dan terlibat dalam kepentingan manajemen perusahaan, seperti yang diungkapkan oleh Levitt dan Dwyer (2002), yang dapat berupa kolusi, korupsi, dan penipuan. Beberapa penelitian, seperti Beck et al. (1988); Deis Jr dan Giroux (1992); Mautz dan Sharaf (1961), menegaskan bahwa kualitas audit dapat terpengaruh ketika ada hubungan antara auditor dan klien. Hubungan antara eksekutif dan auditor juga memiliki implikasi terhadap kualitas audit, penggunaan diskresi akuntansi, dan biaya audit, sebagaimana dinyatakan oleh Guan et al. (2014). Selain itu, penelitian baru-baru ini oleh Cohen et al. (2022) menyoroti masalah hubungan pribadi dan profesional antara CEO dan anggota komite audit, yang berpotensi mengganggu objektivitas anggota komite. Hal ini menekankan pentingnya “ikatan” dalam hubungan antara berbagai pihak dalam proses audit. Penelitian Kwon dan Yi (2018) juga menemukan bahwa hubungan sekolah CEO-EP terkait dengan audit berkualitas tinggi dan biaya audit yang lebih tinggi. Selain itu, hubungan almamater antara auditor dan komite audit juga berhubungan dengan layanan non-audit yang lebih besar (Sharma et al., 2022).

Ikatan sekolah, terutama ikatan almamater, dianggap sebagai ukuran yang akurat dalam memeriksa hubungan dalam setiap keputusan dan tindakan yang diambil oleh manajemen perusahaan dan pihak eksternal mereka (Guan et al., 2016; Lennox, 2005; Menon dan Williams, 2004). Namun, penelitian di Indonesia menarik perhatian karena karakteristik relasional bisnis yang kuat, seperti hubungan politik dan bisnis keluarga (Iman et al., 2016; Harymawan et al., 2020). Oleh karena itu, analisis hubungan dari latar belakang pendidikan dapat memberikan gambaran baru tentang validitas ikatan sekolah di tengah karakteristik relasional yang unik ini. Dari segi biaya audit, auditor yang memiliki hubungan ikatan sekolah cenderung memberikan biaya audit yang lebih tinggi, bahkan ketika perusahaan mengalami tekanan keuangan. Peningkatan biaya audit berkaitan positif dengan auditor yang memberikan hasil audit yang dimodifikasi (Davis et al., 1993; Francis, 1984; Francis dan Simon, 1987). Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa dalam kasus biaya audit yang rendah, hal tersebut tidak dapat dihindari karena auditor mempertimbangkan biaya risiko audit mereka. Teori reciprocitas sosial juga dapat menjelaskan mengapa biaya audit yang tinggi terjadi ketika ada ikatan sekolah antara eksekutif dan auditor.

Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya independensi dan integritas auditor dalam memberikan hasil audit yang obyektif dan akurat. Dengan mempertimbangkan dinamika hubungan antara auditor, eksekutif perusahaan, dan komite audit, kita dapat meningkatkan kualitas audit dan memastikan integritas dalam praktik akuntansi. Hal ini akan menguntungkan semua pihak yang terlibat, termasuk perusahaan, investor, dan masyarakat secara keseluruhan. Regulator harus mempertimbangkan temuan ini dalam merancang kebijakan dan regulasi terkait audit, untuk memastikan adanya mekanisme pengawasan yang efektif guna menghindari konflik kepentingan dan meningkatkan kualitas audit.

Metode dan Hasil

Penelitian ini menggunakan data dari 769 perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2010 hingga 2018. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak STATA 14.0 dengan menggunakan analisis regresi OLS untuk menguji hubungan antara variabel ikatan sekolah dan biaya audit. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa ada hubungan antara ikatan sekolah antara CFO dan auditor dengan biaya audit yang dibayar oleh perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika ada ikatan sekolah antara CFO dan auditor, biaya audit cenderung lebih tinggi. Namun, hubungan ini tidak terjadi pada ikatan sekolah antara CEO dan auditor, yang artinya tidak ada pengaruh signifikan pada biaya audit. Temuan ini menimbulkan keprihatinan terhadap integritas dan independensi auditor dalam memberikan opini audit yang objektif. Auditor yang memiliki hubungan pribadi atau profesional dengan eksekutif perusahaan dapat menghadapi tekanan untuk memberikan hasil audit yang lebih berpihak pada kepentingan manajemen, yang dapat merugikan kualitas audit dan kemampuan auditor untuk menjalankan tugas mereka dengan independen.

Penulis: Mohammad Nasih, Raden Roro Widya Ningtyas Soeprajitno, Iman Harymawan, John Nowland

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:


Top Company Officers and Auditor School-ties on Audit Fee: Evidence From Indonesia