Industri batik merupakan salah satu kebanggaan Indonesia yang dikenal hingga ke mancanegara. Namun, di balik keindahan motif batik, proses produksinya menghasilkan limbah cair yang mengandung berbagai polutan. Limbah ini, jika tidak dikelola dengan baik, dapat mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan masyarakat. Salah satu solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan bittern, limbah dari proses pembuatan garam, sebagai koagulan alami.
Bittern adalah air sisa yang dihasilkan dari proses produksi garam. Di dalamnya terkandung sejumlah ion mineral seperti magnesium (Mg²⁺) dan klorida (Cl⁻) yang berpotensi digunakan dalam pengolahan limbah. Selama ini, bittern sering kali hanya dibuang atau tidak dimanfaatkan dengan baik. Padahal, bittern memiliki potensi sebagai bahan pengolahan air limbah yang ramah lingkungan.
Industri batik menghasilkan limbah cair yang mengandung bahan kimia seperti pewarna, senyawa organik (BOD dan COD), serta zat padat tersuspensi (TSS). Jika tidak diolah, limbah ini dapat mencemari sungai dan sumber air lainnya. Maka, teknologi pengolahan yang efektif diperlukan untuk menurunkan kadar polutan dalam air sebelum dilepaskan kembali ke lingkungan. Koagulasi-flokulasi adalah salah satu metode yang umum digunakan dalam pengolahan limbah cair. Pada proses ini, koagulan berperan mendestabilisasi partikel-partikel kecil di dalam air sehingga partikel tersebut dapat bergabung menjadi flok yang lebih besar, lantas dapat dengan mudah disisihkan.
Tim peneliti dari Universitas Airlangga melakukan studi untuk memanfaatkan bittern sebagai koagulan alami dalam pengolahan limbah cair batik. Studi ini melibatkan beberapa variasi dosis koagulan bittern dan kecepatan pengadukan untuk mengetahui kondisi optimal. Hasilnya, dosis optimal untuk menurunkan polutan seperti BOD, COD, TSS, dan zat warna ditemukan pada penggunaan dosis 5% dengan kecepatan pengadukan 100 rpm. Dari penelitian ini, terbukti bahwa bittern mampu menurunkan kadar polutan dalam limbah cair batik secara signifikan. Dengan dosis 5% dan kecepatan pengadukan 100 rpm, bittern berhasil menurunkan BOD hingga 80,32%, COD 65,86%, TSS 92,35%, dan zat warna sebesar 70,77%. Ini menunjukkan bahwa bittern dapat menjadi solusi alternatif yang efektif dan ramah lingkungan dalam pengolahan limbah cair industri batik.
Penggunaan bittern sebagai koagulan alami tidak hanya mengatasi masalah limbah batik, tetapi juga memberikan nilai tambah dari limbah garam yang selama ini terbuang sia-sia. Solusi ini berpotensi besar dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus mendukung upaya keberlanjutan dengan memanfaatkan limbah industri lain. Dengan memanfaatkan bahan lokal dan alami seperti bittern, industri batik dapat berkembang ke arah yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan prinsip ekonomi sirkuler..
Penulis: Dr. Nurina Fitriani
Baca juga: Teknologi Membran Keramik untuk Pengolahan Air Limbah





