Proses penyembuhan luka adalah hal yang menarik untuk dicermati. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam penyembuhan luka adalah penggunaan material yang dapat memicu terjadinya proses regenerasi jaringan yang dikenal sebagai Guided Tissue Regeneration (GTR). GTR merupakan material membran yang dapat membantu memisahkan jaringan lunak dan keras dalam tubuh.
Penyembuhan jaringan keras, seperti tulang, berbeda dengan penyembuhan jaringan lunak. Sel jaringan lunak lebih cepat berkembang dan bergerak dibandingkan sel jaringan keras. Akibatnya, saat kita memiliki luka pada tulang, jaringan lunak dapat dengan cepat mengisi rongga yang seharusnya diisi oleh jaringan keras, seperti tulang. Inilah sebabnya kita memerlukan membran penghalang. Membran ini membantu menjaga jaringan keras tetap terpisah dari jaringan lunak selama proses penyembuhan.
Pemilihan membran penghalang ini tidak bisa sembarangan. Membran penghalang yang baik haruslah biokompatibel, mampu meregenerasi tulang, mudah diterapkan secara klinis, dan dapat berintegrasi dengan jaringan sekitarnya.
Ada dua jenis membran penghalang berdasarkan kemampuan degradasinya, yaitu yang dapat diresorbsi (hilang dengan sendirinya) dan yang tidak. Selain itu, berdasarkan bahan dasar pembuatannya, membran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang terbuat dari polimer alami dan polimer komposit. Di Indonesia, membran penghalang yang beredar mayoritas berasal dari jaringan hewan, terutama perikardium sapi.
Meskipun membran perikardium banyak digunakan, ia memiliki keterbatasan bahan dasar. Oleh karena itu, para peneliti mencari alternatif lain, dan salah satunya adalah kitosan. Kitosan, yang dihasilkan dari kulit udang, telah terbukti dapat meningkatkan pelepasan mediator peradangan yang berperan dalam regenerasi jaringan. Namun, penggunaan kitosan sebagai membran penghalang masih memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama dalam konteks rekayasa jaringan.
Proses penyembuhan luka melibatkan tiga tahap: fase peradangan, fase proliferasi, dan fase remodeling. Dalam fase peradangan, sel darah putih seperti makrofag berperan penting. Makrofag menghasilkan faktor pertumbuhan, di antaranya adalah Faktor Pertumbuhan Fibroblas (FGF). FGF2, salah satu tipe FGF, memiliki peran penting dalam penyembuhan luka. FGF2R adalah reseptor yang berinteraksi dengan FGF2 dan merupakan bagian dari proses ini.
Sehingga, penelitian mengenai ekspresi FGF2 dan FGF2R dalam konteks pemasangan membran penghalang kitosan menjadi hal yang penting untuk memahami bagaimana membran ini memengaruhi proliferasi sel fibroblas dalam proses penyembuhan luka. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hal ini, kita dapat membantu meningkatkan proses penyembuhan luka di masa depan.
Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG(K)
Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2023/06/14-D22_2033_Dian_Agustin_Wahjuningrum_Agung_Sosiawan_Indonesia.pdf
Dian Agustin Wahjuningrum, Sholeh Ardjanggi, Tamara Yuanita, Setyabudi, Agung Sosiawan, Anuj Bhardwaj. [2023] Expression Of FGF2 And FGF2R On Fibroblasts Proliferation In Wound Healing After Chitosan And Pericardium Application. Volume ∙ 16 ∙ Number ∙ 2 ∙ 2023.





