Pada budidaya ikan nila secara bioflok, air pada kolam harus dibuang secara berkala untuk mengurangi kepadatan bahan organik agar tidak meracuni ikan. Air yang dibuang tersebut memiliki kandungan bahan organik dan N (Nitrogen) yang tinggi sehingga dianggap limbah budidaya. Limbah budidaya tersebut cukup berbahaya apabila dibuang langsung ke lingkungan. Salah satu inovasi yang bisa dilakukan adalah menggunakan Moina macropopa, zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami untuk ikan budidaya. Hal ini dikarenakan kandungan nutrient seperti bahan organik dan N dimanfaatkan oleh M, macropopa untuk berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi M. macropopa dan mengurangi pencemaran lingkungan.
Metode dan Hasil
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap), terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan dari penelitian ini adalah A (konsentrasi air limbah 0% + 100% air tawar/kontrol, B (konsentrasi air limbah 25% + 75% air tawar), C (konsentrasi air limbah 50% + 50% air tawar), D (konsentrasi air limbah 75% + 25% air tawar), dan E (konsentrasi air limbah 100% tanpa air tawar). Air limbah yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari tambak bioflok ikan nila (Oreochromis niloticus) di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar, Sukabumi, Jawa Barat. Parameter yang diamati adalah kepadatan populasi (ind/L) dan laju pertumbuhan (%/hari). Parameter lain yang diukur adalah kualitas air, suhu, pH, DO, NO3, PO4, dan total bahan organik (TOM). Suhu air, pH, DO, dan total padatan terlarut (TDS) diukur secara in situ, setiap hari pada pukul 09.00 dan 16.00, selama periode budidaya 13 hari. Sementara NO3, PO4, dan TOM diukur di laboratorium pada awal periode pemeliharaan. Kepadatan populasi M. macropopa tertinggi ditemukan pada perlakuan B (25%), dengan nilai 1.531 ind/L. Ukuran populasi mencapai puncak terjadi pada hari ke-9 (perlakuan B) dan hari ke-7 (perlakuan E). Laju pertumbuhan spesifik tertinggi ditemukan pada perlakuan A (0%) dengan nilai 46% dan diikuti oleh perlakuan B (25%) dengan nilai 44%. Nilai kualitas air juga menunjukkan bahwa perlakuan B memiliki nilai yang aman untuk budidaya M. macropopa, Hal ini menunjukkan bahwa, dalam batas tertentu, M. macropopa dapat digunakan untuk mengolah air limbah dari sistem akuakultur. Hasil terbaik ditunjukkan pada perlauan B, dengan konsentrasi 25% air limbah. M. macropopa berpotensi untuk diaplikasikan dalam sistem akuakultur terpadu atau strategi daur ulang biowaste.
Penulis: Syifania Hanifah Samara, S.Pi., M.Sc.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Samara, S. H., Nurahman, A., Isroni, W., & Amran, R. H. (2025). Optimized Moina macropopa culture utilizing wastewater from a tilapia biofloc system as a sustainable aquaculture strategy. Egyptian Journal of Aquatic Research, in press September (2025), 1-6





