Universitas Airlangga Official Website

Pemanfaatan Mobile Application Dalam Mendukung Program Upaya Berhenti Merokok di Indonesia

ILUSTRASI: asap rokok. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI: asap rokok. (Foto: Istimewa)

Merokok merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk banyak penyakit tidak menular (PTM), termasuk stroke, penyakit jantung koroner, dan penyakit paru obstruktif kronik. Secara global, setidaknya 940 juta pria dan 193 juta wanita berusia 15 tahun atau lebih merupakan perokok aktif pada tahun 2019 (The Tobacco Atlas, 2023). Setiap tahun, merokok atau penyakit terkait tembakau menyebabkan 225.700 kematian di Indonesia (Organisasi Kesehatan Dunia, 2020). Survei kesehatan nasional terbaru yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Republik Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi merokok di kalangan remaja telah meningkat dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018 (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Republik Indonesia, 2018). Meningkatnya jumlah perokok dan usia dini inisiasi merokok menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Pengembangan intervensi untuk mencegah kebiasaan merokok di kalangan remaja merupakan langkah yang diperlukan untuk mengurangi kebiasaan merokok. Salah satu inovasi dalam mendukung upaya berhenti merokok adalah menggunakan teknologi informasi, salah satunya adalah Mobile Health.

Mobile Health memiliki banyak keunggulan seperti dapat digunakan di mana saja dan kapan saja, hemat biaya, dapat mengirim pesan yang disesuaikan dengan karakteristik pengguna. Penggunaan mobile health juga dapat menyampaikan pesan yang berbeda sesuai dengan waktu dan lokasi serta dapat menawarkan dukungan untuk keinginan berhenti merokok dan memberikan dukungan sosial. 

Peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga mengembangkan aplikasi seluler upaya berhenti merokok. Beberapa data diidentifikasi dan dikumpulkan untuk menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung program pengendalian tembakau, termasuk mendukung upaya berhenti merokok. Konsep aplikasi ini mempertemukan konselor dan klien dalam aplikasi berbasis web yang dapat diakses oleh personal computer atau smartphone. Data konselor berupa identitas konselor, sedangkan data klien terdiri dari identitas dan karakteristik klien yaitu akses ke fasilitas kesehatan, data skrining, data kuesioner interaktif, notifikasi dan rutinitas yang berisi motivasi berhenti merokok. Konselor dan klien melakukan konseling secara daring dan berbasis teks. Semua data yang dihasilkan akan dianalisis untuk menghasilkan data karakteristik klien, kemajuan dari tahapan program, perubahan perilaku dan rencana tindak lanjut. Hasil tersebut direkapitulasi dan dilaporkan ke dinas kesehatan dan fasilitas kesehatan yang bekerja sama, selain itu juga dikirim ke dashboard berhenti merokok. 

Penggunaan aplikasi upaya berhenti merokok ini mendukung salah satu fokus kegiatan penghentian merokok yang digagas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagaimana yang dimaksud dalam indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 adalah menurunkan prevalensi perokok pada usia 18 tahun. Kegiatan tersebut, yang juga mengacu pada Rencana Aksi Program 2020-2024 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes Republik Indonesia, 2020) bertujuan untuk memberikan layanan penghentian merokok dan meningkatkan peran serta kabupaten/kota yang menerapkan pengaturan kawasan tanpa rokok di 7 tempat yaitu fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, tempat bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum, dan tempat lain yang telah ditetapkan.

Hail pengembangan aplikasi ini menunjukkan bahwa ketersediaan data dan informasi tentang karakteristik demografi klien, status merokok, tingkat kecanduan, riwayat upaya berhenti merokok sebelumnya, perilaku merokok, dan tingkat motivasi berhenti merokok memegang peranan penting dalam pengembangan intervensi berhenti merokok melalui aplikasi seluler. Penerapan metode 5A (Ask, Assess, Advise, Assist, dan Arrange) bagi klien yang siap berhenti merokok dan 5R (Relevance, Risk, Reward, Roadblocks, Repetition) bagi klien yang tidak berpotensi untuk diberikan intervensi berhenti merokok dan dukungan berkelanjutan bagi pengguna aplikasi seluler.

Penulis: Dr. Arief Hargono, drg., M.Kes

Link: https://journal.unnes.ac.id/journals/ujph/article/view/5335