Universitas Airlangga Official Website

Pemanfaatan Sel Punca pada Terapi Peri-implantitis

IL by Pikiran Rakyat

Kehilangan gigi merupakan salah satu masalah yang dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut pada seseorang. Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh pencabutan gigi karena keropos, pencabutan gigi karena goyah, dan trauma atau kecelakaan. Gigi yang hilang yang tidak diganti dapat mengakibatkan berbagai masalah sebaiknya diikuti dengan perawatan penggantian gigi dengan pembuatan gigi tiruan. Gigi hilang yang tidak diikuti dengan penggantian dengan protesa akan mengakibatkan masalah di kemudian hari, diantaranya adalah gangguan pengunyahan, mengganggu fungsi bicara, serta mengganggu penampilan.

Penggantian gigi yang hilang dengan gigi tiruan atau protesa bertujuan untuk mengembalikan fungsi kunyah dan memperbaiki estetika. Gigi tiruan memiliki berbagai macam jenis yang dapat diterapkan pada tiap indikasi perawatan, diantaranya adalah gigi tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan cekat, serta implan gigi.

Implant gigi merupakan suatu penggantian gigi yang hilang dengan implant yang ditanam pada tulang alveolar atau tulang rahang melalui prosedur bedah, yang berfungsi sebagai pengganti akar gigi atau komponen retensi gigi tiruan di atasnya. Implan gigi saat ini banyak diminati oleh pasien karena prosedur yang relatif sederhana, memiliki faktor estetik yang baik, dan memiliki tingkat keberhasilan yang relatif tinggi. Tingkat keberhasilan perawatan dengan implant gigi dapat ditentukan oleh seberapa baik proses osseointegrasi atau proses melekatnya implant gigi pada tulang rahang. Osseointegrasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kondisi jaringan pendukung dan kondisi sistemik pasien. Kondisi jaringan pendukung implant gigi adalah tulang rahang (alveolar) yang sehat dapat memberikan keberhasilan perawatan implant gigi. Selain itu, kondisi kesehatan sistemik pasien juga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan perawatan implant. Seseorang yang memiliki penyakit diabetes mellitus, contohnya, akan mempengaruhi keberhasilan perawatan implant gigi. Selain diabetes mellitus, penyakit lain yang dapat memengaruhi keberhasilan perawatan implant gigi adalah osteoporosis.

Menurut penelitian, tingkat keberhasilan implant gigi cukup tinggi, yaitu mencapai 90 – 95% kasus perawatan dengan implant gigi dapat bertahan hingga di atas 10 tahun, bahkan seumur hidup. Akan tetapi, kegagalan implant gigi juga dapat terjadi, terutama bila terdapat penyakit jaringan penyangga gigi (periodontal) maupun penyakit sistemik. Penyakit jaringan penyangga gigi yang sering terjadi pada implant gigi adalah peri-implantitis. Peri-implantitis merupakan suatu keradangan yang terjadi pada jaringan sekitar implant gigi yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Peri-implantitis yang tidak diterapi dengan baik akan menyebabkan implant gigi goyah, sakit, hingga akhirnya harus dilakukan pencabutan.

Pada kasus peri-implantitis, terapi yang secara konvensional menjadi protokol antara lain, pembersihan daerah sekitar implant dengan seksama, debridemen, serta pemberian obat antibiotik. Terapi konvensional tersebut memiliki target menghilangkan kontaminasi bakteri agar jaringan periodontal dapat sembuh. Akan tetapi, terapi konvensional tersebut belum dapat memberikan manfaat bagi tulang yang radang dan teresorpsi, sehingga diperlukan terapi tambahan yang dapat merangsang regenerasi tulang agar kesembuhan menjadi optimal. Oleh karena itu, diperlukan tambahan induksi yang dapat merangsang osseointegrasi.

Saat ini, stem cells (sel punca) telah dikembangkan dan dimanfaatkan untuk banyak pengobatan, salah satunya untuk terapi peri-implantitis. Sel punca merupakan suatu sel induk yang dapat berkembang menjadi bebagai jenis sel tubuh. Sel punca banyak didapatkan pada tali pusat bayi yang baru lahir (umbilical) dan sumsum tulang (bone marrow). Pada penelitian yang kami kembangkan, sel punca yang digunakan berasal dari tali pusat bayi baru lahir yang diolah di laboratorium sehingga memenuhi kriteria tertentu untuk dapat meningkatkan regenerasi tulang. Sel-sel punca tersebut kemudian digunakan sebagai terapi pada implant di hewan coba yang mengalami peri-implantitis. Penelitian tersebut memberikan hasil yang baik, yang ditandai oleh meningkatnya berbagai marker pembentukan tulang baru secara signifikan. Marker yang meningkat diantaranya adalah Transforming Growth Factor -ß (TGF -ß), Interleukin -10 (IL-10), Bone Morphogenic Protein 2 (BMP-2) , Osterix, dan Osteoprotegerin (OPG).

Peningkatan marker pembentukan tulang baru tersebut dapat diartikan bahwa terapi peri-implantitis dengan induksi sel punca dapat merangsang regenerasi tulang pada kasus implantitis pada hewan coba, sehingga diharapkan dapat menjadi terapi peri-implantitis pada pasien nantinya. Peneliti perlu melanjutkan penelitian ini sampai uji klinis, sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat pengobatan bagi kasus peri-implantitis sehingga dapat membuat implant gigi bertahan lebih lama pada tulang rahang.

Penulis : Prof. Dr. Nike Hendrijantini., drg., MKes., Sp.Pros (K)

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1013905223000032

Hendrijantini, Nike; Kuntjoro, Mefina; Agustono, Bambang ; Sitalaksmi, Ratri Maya ; Ari, Muhammad Dimas Aditya; Theodora, Marcella ; Effendi, Rudy; Djuarsa, Ivan Setiawan; Widjaja, Jennifer ; Sosiawan, Agung; Hong, Guang. Human umbilical cord mesenchymal stem cells induction in peri-implantitis Rattus norvegicus accelerates and enhances osteogenesis activity and implant osseointegration. The Saudi Dental Journal 2023

https://doi.org/10.1016/j.sdentj.2023.01.003