Ibu memiliki peran yang utama dalam proses pengasuhan, terutama berlaku di budaya Indonesia. meskipun sistem patriarki sudah banyak bergeser dengan modernisasi dan kesetaraan gender, bahwa peran ibu modern sudah banyak memiliki kesempatan untuk mengaktualisasikan diri melalui menunutut ilmu yang lebih tinggi, aktivitas bekerja baik yang di lembaga pemerintah, swasta ataupun ibu yang yang memiliki usaha mandiri dirumah, sampai pada aktif di berbagai kegiatan masyarakat. Pada Februari 2024, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan adalah 55,41%, dan sebagian besar adalah seorang istri (BPS, 2024). Namun, semakin banyak peran ibu dimasyarakat modern, tetap paling utama dan paling penting adalah ibu mengasuh anaknya. Hal ini sesuai dengan konteks Budaya maupun Agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat Indonesia, yaitu Islam. “Ibu adalah sekolah pertama bagi anak”, istilah ini sudah sangat popular di mayoritas masyarakat kita. Mau ataupun tidak mau, hal ini menjadi tolak ukur bahwa meskipun ibu yang dengan aktivitas bekerja maka sama dengan bertambah peran dan tanggung jawabnya. Tidak jarang, kondisi stress parenting dialami oleh sebagian besar ibu modern dengan berbagai kondisi yang melatar belakangi. Maka dari itu, konteks pengasuhan masih sangat menarik untuk terus dikembangkan dan diteliti secara ilmiah sebagai acuan program yang nantinya tepat diberikan dalam menangani permasalahan yang dihadapi masyarakat secara luas dan berdampak.
Pada ibu dengan anak usia (3-6 tahun) early childhood tantangan pengasuhannya tergolong tinggi. Karakteristik anak di usia ini yang sedang aktif, cenderung susah diatur, suka mencoba hal baru namun kemampuan memahami perilaku sosial belum memadai, sehingga membutuhkan pendampingan yang ekstra. Aktivitas dalam pengasuhan anak seperti inilah yang terkadang mengakibatkan kelelahan fisik maupun emosional. Dampaknya, maka akan mempengaruhi kepekaan ibu terhadap kebutuhan anak, dan tingkat sensitivitas ibu. Sumber yang menjadi tantangan pengasuhan ibu adalah dari perkembangan kognitif anak yang belum matang dan masalah perilaku. Maka sangat penting untuk memberikan pengasuhan pada anak di usia early childhood dengan lebih efektif, sehingga mampu mengembangkan emosi dan memenuhi kebutuhan perkembangan anak supaya berkembang lebih optimal.
Mindful Parenting merupakan konsep pengasuhan dengan penuh kesadaran dalam setiap situasi yang dihadapi bersama anak, dengan mempertimbangkan segala kebutuhan dan menerima keunikan setiap anak. Mindful parenting membuat ibu mampu mengelola emosi dengan lebih efektif, dan menghindari respon reaktif terhadap anak. Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa orang tua dengan mindful parenting mampu menurunkan kecemasan, stres parenting (Chong-Wen et al., 2022; Lucero et al., 2015), dan meningkatkan kualitas hubungan, serta kesejahteraan psikologis antara orangtua-anak (Montgomery, dkk., 2021). Konsep ini dianggap efektif karena dengan mindfulness atau kesadaran yang penu orang tua memiliki kapasitas yang lebih luas dalam menerima setiap situasi yang senang atau tidak menyenangkan dengan tanpa penilaian terhadap hal tersebut. Menjalani dengan sadar dalam pengasuhan membuat orang tua menyadari dengan kepekaan terhadap kebutuhan dan keunikan pada masing-masing anak.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, faktor yang bisa membentuk mindful parenting pada ibu tergolong beragam. Namun konteks penelitian ibu dengan anak early childhood menarik untuk dikaji lebih lanjut. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayati, Hartini, dan Chusairi (2024; Hidayati, et al., 2025), membuktikan bahwa rasa syukur menjadi variabel yang memiliki peran utama dalam membentuk mindful parenting pada ibu.
Mengapa Rasa Syukur (Gratitude) Menjadi Faktor Utamanya?
Rasa syukur (gratitude) adalah bentuk emosi positif yang digunakan untuk ekspresi rasa bahagia dan terima kasih pada situasi kebaikan yang sedang diterima (McCullough et al., 2001). Rasa syukur sendiri terdiri dari tiga aspek, yaitu thanksfull, gratitude, dan appreciate. Tiga aspek tersebut merupakan bentuk bahwa pada situasi tersebut, individu menerima kebaikan atas hikmah dan manfaat yang telah diterima. Rasa syukur merupakan emosi atau perasaan, yang berkembang menjadi sikap, selanjutnya membentuk nilai moral, dan terimplementasi melalui reakti terhadap situasi. Seberat apapun kondisi diri yang sedang dilalui, dengan rasa syukur maka individu akan menyadari sebuah keterbatasan sebagai manusia, jadi cara pandang yang lebih positif mampu membuat ibu lebih penerimaan terhadap segala tantangan yang ada selama mengasuh anak dengan usia early childhood. Pengasuhan dengan mindful parenting mampu memaknai anak merupakan guru yang memberikan pengalaman pada setiap perilaku yang dimunculkannya. Setiap proses merupakan pengalaman baru dan bermanfaat bagi diri ibu.
Rasa syukur pada ibu sendiri tidak tiba-tiba terbentuk dalam diri individu, melainkan ada sebuah proses yang mempengaruhi yaitu melalui persepsi tentang suatu situasi dalam konteks pengasuhan. Hidayati, et al., (2024) membuktikan bahwa mindful parenting pada ibu dengan anak usia early childhood dibentuk melalui persepsi dukungan sosial ibu, keyakinan diri ibu dalam pengasuhan dan welas asih diri dengan dimediasi penuh oleh rasa syukur.
Penulis : Fina Hidayati, Nurul Hartini, dan Ahmad Chusairi
Link Jurnal :





