Universitas Airlangga Official Website

Pemberdayaan, Ketahanan, dan Burnout di Kalangan Perawat yang Telah Sembuh dari COVID-19: Sebuah Studi Multinegara

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pandemi COVID-19 telah memberikan tekanan fisik dan psikologis yang sangat besar pada petugas kesehatan, khususnya perawat, yang mengakibatkan tingkat kelelahan kerja (burnout) yang tinggi. Untuk mengurangi kelelahan kerja, perawat yang telah pulih dari COVID-19 perlu diberdayakan dan dikuatkan; namun, hubungan antara pemberdayaan, ketahanan, dan kelelahan kerja masih perlu ditentukan

Studi ini meneliti hubungan antara pemberdayaan psikologis, ketahanan, dan kelelahan kerja pada perawat yang pulih dari COVID-19 di Taiwan, Malaysia, dan Indonesia. Enam ratus lima perawat berpartisipasi dalam penelitian ini, mengisi kuesioner daring yang mengukur pemberdayaan psikologis, ketahanan, dan kelelahan. Data dianalisis menggunakan analisis faktor konfirmatori multigrup dan pemodelan persamaan struktural untuk menilai hubungan antara variabel-variabel ini di ketiga negara

Perawat Indonesia melaporkan tingkat ketahanan dan pemberdayaan tertinggi, sedangkan perawat Malaysia memiliki tingkat kelelahan kerja (burnout) tertinggi. Pemberdayaan dan ketahanan berkorelasi negatif dengan kelelahan kerja di semua negara. Di Malaysia, pemberdayaan psikologis memiliki efek negatif langsung terhadap kelelahan kerja, sedangkan di Taiwan dan Indonesia, dampak pemberdayaan terhadap kelelahan kerja dimediasi oleh ketahanan

Pemberdayaan psikologis dan ketahanan mental merupakan faktor penting dalam mengurangi kelelahan kerja (burnout) di kalangan perawat yang telah pulih dari COVID-19. Intervensi untuk meningkatkan faktor-faktor ini dapat membantu mengurangi kelelahan kerja, dengan strategi yang disesuaikan dengan berbagai latar budaya dan layanan kesehatan.

Pandemi COVID-19 menggarisbawahi perlunya strategi untuk mengatasi kelelahan perawat. Pendekatan utama meliputi (1) menciptakan lingkungan kerja yang positif dengan mengelola beban kerja, staf, dan sumber daya; (2) meningkatkan pemberdayaan dan ketahanan melalui pengembangan profesional, bimbingan, dan inisiatif pembangunan otonomi; dan (3) menerapkan program yang berfokus pada ketahanan dan pengurangan kelelahan, seperti pengurangan stres berbasis kesadaran dan pelatihan ketahanan.

Penulis: Wei-Tien Lee  , Hsiang-Chin Hsu , Huan-Fang Lee  , Ferry Efendi , Vimala Ramoo , Hsuan-Man Hung 

Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41424993/