Nyeri dan ketidaknyamanan adalah gejala yang paling umum selama perawatan ortodontik menggunakan peralatan ortodonti cekat. Nyeri yang terjadi selama pergerakan gigi ortodonti (OTM) dimulai dalam empat jam, kemudian meningkat selama 24 jam berikutnya, tetapi mulai berkurang pada 24-48 jam dan menghilang dalam tujuh hari setelah kontrol. Sensasi nyeri yang timbul selama OTM merupakan alasan utama pasien memutuskan untuk menghentikan perawatan ortodontik sebelum waktunya, atau mungkin dapat menurunkan kooperatif pasien selama perawatan ortodontik. Langkah-langkah perawatan yang dapat menimbulkan rasa sakit antara lain pencabutan gigi sulung, aplikasi separator ortodontik, penyisipan pita molar atau kawat lengkung, dan debonding braket.
Perawatan ortodonti bertujuan untuk meningkatkan fungsi stomatognatik, estetik dan rehabilitasi bicara dengan menerapkan kekuatan mekanik untuk memindahkan gigi ke posisi yang diinginkan. Setelah kekuatan mekanik diterapkan ke dalam gigi, terjadi peradangan yang merangsang pelepasan mediator di jaringan periodontal dan ruang pulpa, reaksi vaskular, seluler, saraf, dan imunologis yang saling terkait yang pada akhirnya menghasilkan sensasi nyeri dan gigi bergerak ke soketnya. Banyak metode telah dikembangkan untuk mengatasi rasa sakit yang muncul selama OTM, baik pendekatan farmakologis dan mekanis. Pendekatan ini termasuk administrasi tramadol yang termasuk dalam senyawa aktif herbal, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), asetaminofen, gel topikal anestesi lokal, terapi laser tingkat rendah (LLLT), stimulasi saraf listrik transkutan (TENS), akupunktur dan pendekatan psikologis. Beberapa pemberian anti inflamasi atau NSAID dapat menghambat laju OTM karena kadar prostaglandin E2 (PGE2) menurun, yang dihambat untuk mengobati nyeri, tetapi memiliki peran penting dalam proses resorpsi tulang selama OTM.22 Sementara itu, pendekatan mekanis memiliki biaya pengobatan yang tinggi. Hal ini memunculkan minat baru terhadap penggunaan obat-obatan herbal yang selama ini digunakan dalam konsumsi sehari-hari seperti capsaicin pada cabai.
Capsaicin (trans-8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide) adalah senyawa aktif dalam cabai diperoleh dari tanaman genus Capsicum, dan banyak dikonsumsi di rumah tangga untuk menambah aroma, warna dan rasa untuk menambah nafsu makan. Bahan aktif ini berbentuk serbuk kristal putih yang sangat mudah menguap, hidrofobik, tidak berwarna dan tidak berbau. Capsaicin (C18H27NO3) memberikan rasa pedas khas yang terdapat pada cabai dan dipercaya dapat melindungi tanaman dari herbivora dan jamur.23 Strukturnya non-polar sehingga tidak larut dalam air, tetapi larut dalam lemak dan minyak. Untuk aplikasi topikal disarankan menggunakan minyak bunga matahari sebagai pelarut, sedangkan untuk aplikasi oral gunakan minyak zaitun sebagai pelarut. Dari beberapa penelitian sebelumnya, capsaicin diketahui memiliki sifat anti oksidan, anti jamur, analgesik, anti mikroba dan anti kanker.
Capsaicin juga telah digunakan dalam beberapa penelitian yang berhubungan dengan rasa sakit pada hewan percobaan. 24-31. Selanjutnya, dalam penelitian ini, pemberian capsaicin oral dilakukan untuk menyelidiki efek capsaicin mengatur sensasi nyeri karena OTM in vivo melalui analisis PGE2 dan tingkat endorfin. Pemberian capsaicin oral yang dilarutkan dalam 1 ml minyak zaitun telah dilakukan dua kali dengan dosis masing-masing 15 mg/kg BB, 30 mg/kg BB dan 45 mg/kg BB untuk mengurangi nyeri akibat pemberian OTM 24 jam pada hewan percobaan. Semua prosedur penelitian ditoleransi dengan baik oleh hewan percobaan, tidak ada efek toksik atau alergi yang muncul selama penelitian. Terjadi penurunan berat badan pada hewan coba dari masing-masing kelompok (p<0,05) tetapi tidak berbeda nyata antar kelompok (p>0,05). Uji statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis pada semua kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Analisis komparatif dengan uji Mann Whitney tidak ditemukan perbedaan kadar PGE2 antara kelompok normal (KN) dengan OTM dengan capsaicin 15 mg (KP1), OTM dengan capsaicin 30 mg (KP2) dan OTM dengan capsaicin 45 mg (KP3), namun perbedaan bermakna antara kelompok OTM saja (K1), OTM dengan plasebo (KK2) dan OTM dengan kelompok capsaicin 15mg (KP1) (p<0,05). Kadar PGE2 pada kelompok normal (KN) lebih rendah dibandingkan pada kelompok KK1 dan kelompok KK2, sedangkan kadar PGE2 kelompok KP1 lebih rendah dibandingkan kelompok KP2 dan kelompok KP3. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian capsaicin secara oral dapat menurunkan kadar PGE2 secara signifikan pada kelompok perlakuan setelah diamati selama 24 jam.
Pemberian capsaicin oral dengan dosis masing-masing 15mg, 30mg, 45mg dapat mengatur kadar serum PGE2 dan Endorphin setelah 24 jam pergerakan gigi ortodontik pada Tikus Wistar (Rattus novergicus). Pemberian capsaicin 15 mg per oral dapat menurunkan kadar serum PGE2 secara signifikan, sedangkan pemberian capsaicin 30 mg dapat meningkatkan signifikan kadar endorphin serum setelah 24 jam pergerakan gigi ortodontik in vivo. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki jalur molekuler dengan berbagai metode pemeriksaan untuk mengkonfirmasi capsaicin mengatur kadar serum PGE2 dan endorphin selama OTM in vivo.
Penulis: Ervina Restiwulan Winoto, Ida Bagus Narmada
Link Lengkap: http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2022/06/23-D21_1682_Ida_Bagus_Narmada_Indonesia.pdf





