Olahraga yang dilakukan secara rutin banyak membawa dampak positif bagi kesehatan. Selain itu, olahraga juga berpotensi menimbulkan cidera yang dapat mengganggu kesehatan dan performa fisik. Cidera yang diperoleh atlet selama berlatih dan atau bertanding sangat mengganggu, tidak hanya performa fisik namun juga capaian prestasi yang diraih.
Cidera olahraga yang umum ditemukan mengikuti aktivitas olahraga adalah cidera pada pergelangan kaki (ankle). Cidera pergelangan kaki ditemukan sekitar 15% dari keseluruhan cidera olahraga. Salah satu jaringan yang sering ditemukan mengalami kerusakan akibat cidera olahraga adalah jaringan lunak, seperti ligament di pergelangan kaki. Sprain sering kali dijumpai pada bagian lateral ankle (LAS). Seorang atlet dapat mengalami sprain di lateral ankle berulang kali, sebagian dari itu tidak pulih sempurna.
Cidera LAS yang tidak pulih sempurna beresiko menyebabkan instabilitas kronis pada ankle (CAI). Potensi cidera LAS menyebabkan CAI adalah sekitar 32% dari keseluruhan kasus. Sebagian besar ditemukan pada atlet sepak bola dan bola basket. Instabilitas kronis sendi ankle ditemukan pada > 60% atlet sepak bola dan bola basket. Instabilitas kronis sendi ankle merupakan kelemahan fisik yang mempermudah atlet memperoleh cidera lanjutan atau ulangan dengan derajat keparahan yang lebih, seperti patah tulang atau cerai sendi ankle.
Penelitian ini mengevaluasi dampak dari cidera ankle pada berbagai fungsi gerak dan performa fisik atlet pria dan wanita sebelum bertanding. Pada hasil tes melompat, panjang lompatan atlit pria yang mengalami CAI tidak berbeda dengan atlit wanita yang juga mengalami CAI. Atlit wanita yang mengalami CAI dengan defisit saat melakukan gerakan dorso fleksi melompat lebih pendek daripada atlit pria yang juga mengalami cidera serupa. Bahkan, atlit pria yang mengalami cidera CAI dengan defisit saat melakukan gerakan dorso fleksi mampu melompat lebih jauh daripada atlit wanita yang sehat.
Atlit yang mengalami defisit dorso fleksi pada ankle secara umum tidak akan mampu melompat jauh. Hal ini ditunjukkan pada atlet wanita yang mengalami CAI, tapi tidak pada atlit pria yang juga mengalmai CAI. Pemulihan pasca cidera LAS yang menyebabkan CAI pada atlit pria berbeda dengan pada atlit wanita. Hal ini meungkin disebabkan oleh perbedaan adaptasi biomekanik antara atlit pria dan wanita. Selain itu, perbedaan efek hormon seks pria dan wanita terhadap kekuatan otot dan ligament ikut mempengaruhi luaran paska cidera. Hormon testosterone pada pria memliki efek meningkatkan massa dan kekuatan otot yang dibutuhkan sebagai bentuk adaptasi biomekanik tubuh melawan cidera. Sedangkan hormon estrogen pada wanita tidak memiliki efek yang sama.
Penulis: Bambang Purwanto
Sumber: Jatmiko, Tinduh, D., Purwanto, B., and Desnantyo, A.T. 2023. Differences in ankle dorsiflexion deficit performance between male and female athletes with a history of lateral ankle sprain: The functional pre-participation evaluation. Nat. Life Sci. Commun. 22(2): e2023017





