Universitas Airlangga Official Website

Pemulihan Visual Pasca Penghentian Linezolid pada Pasien TB-MDR

Ilustrasi Linelozid (sumber: Alodokter)
Ilustrasi Linelozid (sumber: Alodokter)

Tuberkulosis yang resistan terhadap beberapa obat (TB-MDR) ditandai oleh resistensi terhadap minimal isoniazid dan rifampisin. Linezolid merupakan antibiotik pilihan untuk MDR-TB, namun penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan neuropati optik. Kasus ini melaporkan seorang pria 47 tahun dengan MDR-TB yang mengalami gangguan penglihatan pada bulan ke-9 pengobatan dengan linezolid. Pemeriksaan OCT dan MRI menunjukkan neuropati optik tanpa patologi intrakranial. Setelah stabilisasi linezolid, penglihatan pasien membaik. Kasus ini menekankan pentingnya pemantauan oftalmologis rutin pada pasien yang menjalani terapi linezolid jangka panjang serta potensi reversibilitas neuropati optik bila obat dihentikan tepat waktu.

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi utama penyebab kematian global. Munculnya TB yang resistan terhadap beberapa obat (MDR-TB) menambah kompleksitas terapi. Linezolid, antibiotik golongan oksazolidinon, efektif melawan MDR-TB, tetapi efek samping jangka panjang, khususnya neuropati optik, membatasi penggunaannya. Kasus ini dilaporkan untuk memberikan wawasan mengenai presentasi klinis, diagnosis, dan tatalaksana neuropati optik akibat linezolid.

Metode yang digunakan adalah studi kasus (case report) pada seorang pasien pria 47 tahun dengan MDR-TB yang menjalani pengobatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi (X-ray, MRI), serta oftalmologis (OCT). Perjalanan penyakit pasien dijelaskan dari awal pengobatan, munculnya gejala, intervensi medis, hingga perubahan regimen terapi.

Pasien awalnya mendapat regimen MDR-TB yang mencakup linezolid (600 mg). Pada bulan ke-9, pasien mengalami gangguan penglihatan bilateral. OCT menunjukkan neuritis optik, MRI menunjukkan tidak ada kelainan intrakranial. Steroid dosis tinggi tidak memberikan perbaikan. Setelah stabilisasi linezolid, penglihatan pasien membaik dalam 1 bulan. Linezolid diganti dengan delamanid sesuai algoritma terapi TB. Pasien berhasil menyelesaikan terapi 18 bulan dengan perbaikan fungsi visual.

Kasus ini menegaskan hubungan langsung antara penggunaan linezolid jangka panjang dan neuropati optik. Mekanisme utama diduga akibat disfungsi mitokondria yang mengganggu metabolisme sel saraf optik. Efek samping ini bersifat reversibel jika obat dihentikan tepat waktu. Pemantauan oftalmologis secara berkala sangat penting pada pasien MDR-TB yang mendapat linezolid untuk mencegah kerusakan visual permanen. Alternatif seperti delamanid dapat menjadi pilihan lebih aman dalam regimen jangka panjang.

Linezolid efektif untuk MDR-TB, tetapi berisiko menimbulkan neuropati optik pada penggunaan jangka panjang. Kasus ini menunjukkan perbaikan fungsi visual setelah pemadaman linezolid, menegaskan pentingnya deteksi dini, intervensi tepat waktu, dan pemilihan alternatif terapi untuk mencegah kecacatan permanen.

Penulis: Isnin Anang Marhana (isnin.anang@fk.unair.ac.id)

DOI: https://doi.org/10.1155/crpu/9939815