Universitas Airlangga Official Website

Penanganan Lower Lip Avulsion pada Kucing dengan Kombinasi Stem Cell

Penanganan Lower Lip Avulsion pada Kucing dengan Kombinasi Stem Cell
Sumber: Lovepik

Kucing adalah salah satu hewan peliharaan yang cukup dekat dengan manusia dan memiliki popularitas yang cukup tinggi di kalangan Masyarakat Indonesia. Pemilik hewan kesayangan memiliki gaya yang berbeda dalam pemeliharaan hewannya. Beberapa pemilik hewan lebih suka memelihara kucing mereka secara indoor atau di dalam rumah saja dan ada pula pemilik yang cenderung membiarkan peliharaannya bebas keluar rumah. Kucing yang dipelihara dengan bebas (out door) cenderung memiliki resiko yang cukup tinggi akan kondisi yang bersifat traumatik. Salah satu penyakit traumatik di kucing yang juga sering terjadi adalah kasus lip avulsion dimana mulut dan jaringan sekitarnya terkelupas akibat proses traumatik (seperti akibat tertabrak kendaran atau akibat bertengkar dengan kucing/hewan lain). Kondisi lip avulsion ini dapat terjadi dengan beberapa tingkat keparahan dan lip avulsion sendiri dapat melibatkan bagian bibir atas maupun bawah kucing beserta jaringan sekitarnya. Terapi untuk kasus lip avulsion ini adalah dengan dilakukan operasi.

Spesifik tentang lip avulsion yang melibatkan mulut bagian bawah, sering kali jaringan yang terkelupas bersama bibir bawah dapat sampai pada pangkal tenggorokan, dimana tulang rahang kucing semuanya terekspos. Pada kasus tersebut, tindakan operasi yang dilakukan untuk menanganinya cukup bervariasi dan tingkat kesulitannya juga bermacam-macam tergantung kasusnya. Dokter hewan biasanya akan memilih teknik operasi yang paling memungkinkan berdasarkan masing-masing kasus itu sendiri. Sering kali, tingkat keparahan dan kompleksitas dari kasus lip avulsion ini sangatlah buruk sehingga teknik operasi yang harus dilakukan juga cukup kompleks dan sulit. Hal lain yang juga merupakan tantangan pada kasus lip avulsion pada kucing adalah fakta bahwa jaringan (daging maupun kulit) yang ada di mulut kucing cukup tipis sehingga banyak teknik jahitan yang biasanya dilakukan pada anjing, tidak bisa diterapkan pada kasus kucing.

Bukan hanya faktor keberhasilan operasi saja yang memiliki peran penting dalam manajemen lip avulsion, namun perawatan pasca operasi juga harus diperhatikan dan dijalankan dengan seksama agar pengobatan dapat berhasil dan hewan dapat sembuh kembali. Khusus pada perawatan pasca operasi pada kasus lip avulsion salah satu hal yang harus diperhatikan adalah pemberian pakan pada hewan tersebut. Kasus lip avulsion melibatkan jaringan mulut sehingga pemberian pakan harus berhati-hati dan hanya diberikan pakan yang lunak selama dua minggu pertama setelah operasi. Hal ini penting agar luka pasca operasi dapat terjaga stabilitas jahitannya. Selain itu, pembatasan gerak hewan juga tidak kalah pentingnya. Membiarkan hewan bergerak bebas tanpa batasan sama sekali diasosiasikan dengan kegagalan jahitan pada berbagai jenis operasi, termasuk pada kasus lip avulsion. Pemilik harus memahami pentingnya pembatasan gerak ini karena dapat berujung pada pengulangan operasi dan bahkan kegagalan penyembuhan total.

Dewasa ini, dunia medis memiliki cukup banyak pilihan untuk pengobatan, termasuk penggunaan stem cell dalam berbagai lini pengobatan penyakit. Stem cell memiliki banyak keuntungan medis yang dapat diterapkan dalam manajemen pengobatan suatu penyakit, baik itu sebagai terapi utama maupun tambahan atau adjunct therapy dalam rangka mempercepat dan memaksimalkan proses penyembuhan. Salah satu aplikasi dari stem cell dewasa ini adalah penggunaannya dalam perawatan luka. Stem cell banyak mengandung growth factor yang dapat mendukung pertumbuhan sel dan mempercepat proses penyembuhan luka. Pengunaan stem cell dalam perawatan luka ini bisa diaplikasikan pada perawatan luka terbuka maupun sebagai pengobatan tambahan dalam beberapa kasus operasi seperti dalam kasus operasi yang dikombinasikan dengan penggunaan stem cell tersebut untuk mempercepat proses penutupan luka operasi, penyambungan jaringan, maupun pertumbuhan jaringan baru.

Penulis: Lina Susanti

Link: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39308721/

Baca juga: Gagal Jantung Kongestif Kanan pada Anak Kucing