Penelitian dari Universitas Airlangga ini menghadirkan teknologi canggih yang mampu mendeteksi kelainan jaringan dalam tubuh tanpa harus dibedah atau disinari. Teknologi ini disebut Trans Admitansi Mamografi (TAM), yaitu teknik pencitraan medis yang menggunakan arus elektrik untuk “memotret” kondisi dalam tubuh berdasarkan perbedaan sifat elektrik jaringan. Sistem yang dikembangkan menggunakan 64 elektroda berbahan tembaga yang disusun mengelilingi objek, serta perangkat bernama Analog Discovery 2 yang berfungsi sebagai sumber arus elektrik bolak-balik (AC) secara real-time.
Sistem ini menggunakan lima tingkat frekuensi, yaitu 50, 80, 100, 120, dan 150 kHz yang efektif untuk menangkap perbedaan konduktivitas antarjaringan. Setiap kali data diambil, sistem ini mengukur tiga jenis nilai elektrik, yaitu resistansi (real), reaktansi (imaginer), dan magnitudo impedansi. Data tersebut selanjutnya diubah menjadi citra digital berwarna (RGB), di mana masing-masing warna mewakili komponen elektrik yang berbeda. Hasil akhirnya berupa citra 8×8 piksel, di mana daerah yang memiliki kelainan (anomali) akan tampak lebih kecokelatan. Untuk mensimulasikan kelainan jaringan, peneliti menggunakan media larutan garam NaCl 0,9% dengan wortel sebagai model jaringan. Wortel yang lebih padat menggambarkan jaringan abnormal, sedangkan larutan garam menyerupai jaringan sehat.
Pengujian dilakukan dengan menempatkan model ini pada jarak berbeda dari elektroda yaitu 4 cm hingga 7 cm, untuk melihat seberapa sensitif sistem dalam mendeteksi kelainan pada kedalaman yang bervariasi. Hasilnya sistem bekerja paling baik saat elektroda ditempatkan dengan jarak 4 cm dan menggunakan frekuensi terendah, yaitu 50 kHz. Pada kondisi tersebut, nilai impedansi rata-rata mencapai 59,29 ohm untuk wortel yang menunjukkan perbedaan yang jelas antara area normal dan anomali. Ini membuktikan bahwa teknologi ini mampu mengidentifikasi perubahan jaringan dengan cukup akurat.
Kelebihan dari sistem ini tidak hanya pada kemampuan deteksinya, tetapi juga pada keamanannya. Tidak ada radiasi seperti sinar-X, tidak perlu pembedahan, dan hasilnya berupa citra yang mudah dibaca oleh tenaga medis. Sistem ini juga tergolong murh dan praktis digunakan. Meski begitu, penelitian ini masih menggunakan model sederhana dan belum merepresentasikan tubuh manusia secara kompleks. Tantangan ke depan adalah menguji alat ini pada jaringan biologis yang lebih realistis, menambahkan fitur tampilan real time, serta menerapkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi kelainan secara otomatis. Dengan pengembangan lebih lanjut, sistem TAM ini berpotensi besar menjadi alat diagnostik masa depan yang aman, cepat, murah, dan sangat membantu dalam deteksi dini berbagai penyakit seperti kanker dan tumor.
Penulis: Prof. Dr. Khusnul Ain, S.T, M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Fransiska Maria Aprihapsari, Atin Asna Octavia, Khusnul Ain, Bayu Ariwanto, 2025, Multi-Channel Trans-Admittance Imaging for Anomaly Detection, IJEEEMI, Vol. 7, Issue 2.
(DOI): https://doi.org/10.35882/ijeeemi.v7i2.88





