Lebih dari satu juta kasus baru dan diperkirakan 769.000 kematian setiap tahunnya, disebabkan oleh kanker lambung. Prognosis yang buruk pada tahap lanjut karena diagnosis sering terlambat, resistensi terhadap terapi konvensional, dan heterogenitas molekuler tumor yang kompleks menjadi faktor yang dapat melatarbelakangi tingginya kejadian kanker lambung. Alga merah laut—Gracilaria edulis, Eucheuma denticulatum, dan Kappaphycus striatus—merupakan sumber senyawa bioaktif yang masih kurang dieksplorasi, yang berpotensi menjadi agen multi-target dengan toksisitas rendah untuk terapi kanker lambung. Penelitian ini mengintegrasikan profil fitokimia, analisis hubungan struktur-aktivitas (SAR), farmakologi jaringan, molecular docking, simulasi dinamika molekuler, dan validasi in vitro.
Penelitian ini berhasil mengumpulkan dan menyiapkan sampel alga merah (Gracilaria edulis, Eucheuma denticulatum, dan Kappaphycus striatus) melalui metode pengambilan yang etis, pembersihan, dan pengeringan. Ekstrak alga dihasilkan menggunakan ekstraksi bertahap berdasarkan polaritas, kemudian dianalisis secara kimia menggunakan UHPLC-ESI-MS/MS. Aktivitas bioaktif senyawa dievaluasi melalui pendekatan in silico—termasuk prediksi bioaktivitas, analisis target protein, farmakologi jaringan, molecular docking, dan simulasi dinamika molekuler, serta uji in vitro untuk menilai aktivitas antioksidan dan efek anti-kanker pada sel lambung (AGS dan MKN-45). Analisis data dilakukan secara statistik untuk menentukan IC50 dan validitas hasil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alga merah Indonesia—khususnya Kappaphycus striatus—mengandung berbagai senyawa bioaktif dengan potensi kuat sebagai agen antikanker lambung. Analisis kimia, SAR, dan in silico mengidentifikasi kamptotesin dan 24(S),25-epoksikoleserol sebagai kandidat utama yang mampu berinteraksi stabil dengan target kunci kanker lambung seperti TGFBR1, PTGER3, IGF1R, CDK6, dan BRD4. Ekstrak K. striatus (KSE) terbukti memiliki aktivitas antioksidan tinggi, menurunkan ekspresi TGF-β1 secara dosis-dependen pada sel MKN-45, serta menunjukkan sitotoksisitas selektif terhadap sel kanker AGS dan MKN-45 dengan efek minimal pada sel normal. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa alga merah Indonesia merupakan sumber yang aman, berkelanjutan, dan menjanjikan untuk pengembangan terapi kanker lambung multi-target berbasis senyawa alami.
Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak alga merah tidak hanya menjadi sumber senyawa sitotoksik, tetapi juga memiliki kemampuan modulasi terhadap jalur pensinyalan pro-tumorigenik, sehingga menawarkan keuntungan terapeutik ganda. Meskipun senyawa-senyawa yang teridentifikasi bukan sepenuhnya baru, integrasi mekanistik dan spesifisitas targetnya dalam konteks kanker lambung merupakan kemajuan yang bermakna dalam bidang farmakologi laut. Studi ini membantu menjembatani kesenjangan antara penelitian produk alam dan onkologi presisi dengan mengusulkan alga merah sebagai sumber pengembangan terapi yang lebih aman, multi-target, dan berkelanjutan.
Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/integrative-pharmacoinformatic-and-experimental-validation-of-ind/





