Universitas Airlangga Official Website

Pendekatan Strategis untuk Meningkatkan Hasil Pengembangbiakan Kuda

Kuda sejak beratusratus tahun lalu telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Bagi beberapa negara tertentu kuda masih sangat penting untuk mendukung masyarakat kelas menengah ke bawah dan masyarakat miskin yang bekerja di berbagai bidang seperti pertanian, konstruksi, transportasi, dan pariwisata. Meningkatkan efisiensi reproduksi secara langsung menguntungkan masyarakat ini dengan memastikan pasokan hewan pekerja yang sehat dan stabil, yang membantu menopang mata pencaharian mereka.

Aspek lain dari pentingnya spesies kuda adalah popularitasnya sebagai hewan peliharaan, ras, dan untuk tujuan bisnis. Keturunan dan garis keturunan yang diinginkan dipilih untuk dibiakkan guna menghasilkan keturunan berkualitas tinggi yang dapat dijual dengan keuntungan besar. Pembiakan selektif kuda menjadi semakin populer di beberapa negara sebagai cara yang menguntungkan untuk menjual keturunan. Kuda betina ras murni telah menjadi sangat dicari dalam industri balap karena mereka dibiakkan dengan kuda jantan berkualitas tinggi untuk menghasilkan anak kuda dengan keterampilan balap yang lebih baik. Pemilihan induk kuda betina ditentukan oleh garis keturunan, kinerja balap, struktur fisik, dan, kadang-kadang, watak. Sejumlah pemilik kuda pacu lebih suka kuda mereka melahirkan di awal tahun, tetapi ini bisa sulit karena musim kawin yang pendek dan periode kehamilan yang bervariasi. Peternak menggunakan berbagai metode untuk memastikan anak kuda lahir sedini mungkin, idealnya pada tanggal 1 Januari. Di Belahan Bumi Utara, mereka lebih suka anak kuda lahir pada bulan Januari, sedangkan di Belahan Bumi Selatan, Agustus adalah bulan yang disukai. Kuda ras murni muda biasanya diklasifikasikan berdasarkan usia mereka saat dijual: anak kuda (bayi baru lahir), anak kuda berusia satu tahun, dan anak kuda berusia dua tahun.

Anak kuda yang lahir lebih awal ditempatkan di dalam ruangan, yang memberi mereka manfaat nutrisi dan mengurangi risiko patah tulang. Selain itu, interaksi mereka yang meningkat dengan manusia berdampak positif pada perilaku mereka. Menurut para peternak, anak kuda yang lahir lebih awal lebih mungkin memperoleh harga yang lebih tinggi di pelelangan karena mereka juga diharapkan memiliki performa yang lebih baik daripada anak kuda yang lahir kemudian. Untuk meningkatkan efisiensi reproduksi pada kuda betina, penting untuk mempertimbangkan berbagai faktor lingkungan, seperti usia, musim, dan pemberian makan, serta faktor patologis seperti penyakit reproduksi dan infestasi parasit. Pertimbangan ini diperlukan untuk mencegah kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tingginya biaya yang terkait dengan pemeliharaan kuda betina sepanjang tahun dengan tingkat kesuburan dan konsepsi yang rendah.

Kuda betina biasanya berovulasi 24–48 jam sebelum akhir estrus, tetapi waktu ovulasi mereka kurang dapat diprediksi dibandingkan hewan lain, seperti domba betina dan sapi. Menentukan kondisi reproduksi kuda betina secara akurat merupakan tantangan, yang sering kali menyebabkan hilangnya siklus reproduksi dan tingkat kehamilan yang lebih rendah selama musim kawin. Untuk meningkatkan kesuburan kuda betina dan tingkat konsepsi selama musim kawin atau untuk mendapatkan anak kuda lebih awal di tahun tersebut, siklus estrus dimanipulasi secara selektif menggunakan hormon eksogen, pengaturan cahaya buatan, dan pemilihan periode kawin yang sesuai. Aspek penting lainnya yang perlu dipertimbangkan untuk program pembiakan kuda yang sukses meliputi kesejahteraan kuda jantan, stres lingkungan, dan suplementasi makanan. Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis pendekatan dan intervensi strategis untuk meningkatkan efisiensi reproduksi dalam program pembiakan kuda, dengan fokus pada peningkatan kesuburan, mengoptimalkan praktik pembiakan, dan mengatasi tantangan lingkungan dan fisiologis.

Berdasarkan analisis komprehensif maka ditemukanlah strategi utama untuk meningkatkan efisiensi reproduksi kuda, dengan fokus pada terapi hormonal, manipulasi fotoperiode, suplementasi makanan, dan manajemen lingkungan. Temuan tersebut menekankan sifat musiman dari pembiakan kuda, kerumitan fisiologis kuda betina dan kuda jantan, dan peran penting intervensi yang ditargetkan dalam meningkatkan tingkat kesuburan dan hasil kelahiran. Kekuatan utama tinjauan ini terletak pada sintesisnya atas berbagai strategi, yang menawarkan pemahaman holistik tentang manajemen reproduksi kuda. Tinjauan ini menggabungkan wawasan ilmiah dengan aplikasi praktis, menjembatani kesenjangan antara penelitian dan praktik lapangan. Dimasukkannya faktor hormonal, nutrisi, dan lingkungan memberikan pendekatan multidimensi untuk mengatasi tantangan kesuburan kuda. Meskipun cakupannya komprehensif, tinjauan ini dibatasi oleh ketergantungan pada temuan dari ras dan wilayah tertentu, yang mungkin tidak berlaku secara universal untuk semua populasi kuda. Selain itu, beberapa intervensi yang dibahas, seperti perawatan hormon tingkat lanjut, mungkin tidak dapat dilakukan untuk semua peternakan pejantan karena kendala biaya atau aksesibilitas. Variabilitas dalam respons individu terhadap intervensi ini juga memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Penelitian di masa mendatang harus difokuskan pada strategi reproduksi khusus ras dan pengembangan alternatif yang hemat biaya untuk terapi hormonal. Teknologi yang sedang berkembang, seperti pembiakan presisi dan intervensi genetik, menjanjikan peningkatan hasil kesuburan lebih lanjut. Selain itu, mengeksplorasi dampak jangka panjang suplementasi makanan dan pencahayaan buatan pada kesehatan kuda secara keseluruhan dapat menghasilkan wawasan yang berharga. Studi kolaboratif di berbagai wilayah geografis sangat penting untuk memvalidasi penerapan strategi ini dalam skala global. Dengan mengatasi kesenjangan ini dan memanfaatkan kemajuan dalam ilmu kedokteran hewan, peternak kuda dapat mengoptimalkan efisiensi reproduksi, yang pada akhirnya berkontribusi pada keberlanjutan dan profitabilitas industri.

Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes.

Studi ini adalah hasil karya Imdad Ullah Khan, DVM., M.Phil., Ph.D. (peserta Airlangga Post Doctoral dibawah bimbingan Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes., dari Divisi Reproduksi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga), Asfand Yar Khan, DVM., M.Phil., Ph.D., Atta Ur Rehman, DVM., M.Phil., Ph.D. (mereka adalah dosen di Departemen Ilmu Klinik, Fakultas Ilmu Kedokteran Hewan dan Hewan, Universitas Gomal, Dera Ismail Khan, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan) berkolaborasi dengan Dr. Aswin Rafif Khairullah, drh., M.Si. (Pusat Penelitian Ilmu Kedokteran Hewan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia. Artikel ini dapat diakses pada tautan https://www.veterinaryworld.org/Vol.18/February-2025/7.php, telah terbit pada jurnal Veterinary World (https://veterinaryworld.org/), jurnal internasional bereputasi Scopus Q1 (82%, 34/194), Cite score: 3.6, SJR: 0.483, SNIP: 0.871. Sitasi artikel ini (AMA style): Khan IU, Khairullah AR, Khan AY, Rehman AU, and Mustofa I (2025) Strategic approaches to improve equine breeding and stud farm outcomes, Veterinary World, 18(2): 311–328. https://doi.org/10.14202/vetworld.2025.311-328