Manajemen rantai pasokan atau Supply Chain Management (SCM) merupakan suatu konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas suatu perusahaan secara keseluruhan dalam suatu rantai pasok dengan cara mengoptimalkan aliran material, waktu, dan lokasi. Saat menerapkan SCM, perusahaan harus dapat memastikan kepuasan pelanggan, mengembangkan produk tepat waktu, menjaga biaya inventaris dan pengiriman produk tetap rendah, dan mengelola industri dengan hati-hati dan fleksibel.
Saat ini konsumen semakin kritis dan menuntut produk dikirimkan tepat waktu juga tepat lokasi. Sehingga menyebabkan produsen yang mengantisipasi hal ini mendapatkan pelanggan, sedangkan produsen yang tidak mengantisipasi hal ini akan kehilangan pelanggan. Maka dari itu, SCM adalah solusi terbaik untuk meningkatkan produktivitas antar perusahaan yang berbeda.
Peran Supply Chain Management dalam Perusahaan
Di era globalisasi saat ini, persaingan bisnis menjadi semakin ketat. Akibat proses globalisasi, perkembangan dunia usaha akan selalu ditandai dengan adanya perubahan, baik pada lingkungan internal maupun eksternal perusahaan menjadi semakin terbuka, kompleks, dan kompetitif. Perubahan sosial ekonomi ini membawa hambatan dan tantangan yang harus diatasi. Hal ini menuntut setiap perusahaan terutama di bidang pertanian agar menyusun strategi bisnis untuk dapat bersaing dengan perusahaan lain.
Tujuan dari berbagai perlombaan yang dilakukan oleh perusahaan adalah untuk melaksanakan proses produksi barang dan jasa yang didistribusikan kepada konsumen secara efektif dan efisien. Namun kenyataannya, perusahaan tidak bisa mengendalikan semua itu dan menghindari masalah dengan mengambil jalan pintas dan kemudahan untuk bersaing melalui SCM. Keuntungan dari SCM adalah memungkinkan suatu perusahaan untuk mengendalikan aliran barang atau produk dalam rantai pasoknya dengan memanfaatkan jaringan kegiatan produksi dan distribusi yang dapat bekerja sama untuk memenuhi permintaan konsumen.
Teknologi Blockchain
Saat ini perkembangan teknologi semakin maju. Salah satu hasil sukses dari teknologi yang semakin canggih adalah blockchain, yaitu teknologi yang memungkinkan penggunanya menyimpan data dalam jumlah besar (DTI, 2022). Siapa pun dapat menyimpan berbagai data secara digital tanpa mengkhawatirkan keamanannya. Hal ini dikarenakan teknologi blockchain menggunakan sistem keamanan yang terjamin. Seperti namanya, blockchain terdiri dari dua kata, “Block” dan “Chain” yang berarti rantai. Nama ini diciptakan untuk mencerminkan cara kerja teknologi canggih ini.
Blockchain menggunakan sistem komputer untuk membuat blok yang saling berhubungan guna memantau transaksi yang kemudian terjadi di dalam sistem. Teknologi blockchain sangat menarik karena sistem penyimpanan datanya tidak terpusat. Blockchain bekerja menggunakan algoritma komputer tanpa sistem atau regulator apa pun.
Teknologi blockchain menawarkan peluang menarik bagi beberapa sektor industri untuk menyederhanakan pekerjaan, memungkinkan kolaborasi antar perusahaan, dan menyimpan informasi dengan aman. Teknologi ini akan terus dikembangkan. Tren penggunaan blockchain akan meningkat seiring berjalannya waktu.
Teknologi Blockchain dan SCM Pertanian
Peran blockchain dalam SCM adalah untuk mengurangi manipulasi data. Sistem blockchain yang dapat menyediakan Internet of Things (IoT) mampu menjadikan pertanian sebagai praktik berkelanjutan dengan pendekatan sederhana. Penerapannya membantu memfasilitasi SCM, memungkinkan petani dan bisnis terkait menerapkan sistem pertanian cerdas yang lebih efisien.
Data yang disimpan di blockchain memungkinkan siapa pun yang terlibat dalam SCM pangan untuk mengakses informasi secara langsung dari mana saja. Konsumen juga dapat menelusuri rantai pasokan makanan sebelum mengambil keputusan untuk membeli.
Blockchain membantu petani dalam SCM pangan secara transparan dan menghilangkan proses yang tidak efisien. Selain itu, teknologi ini memberikan kontrol penuh atas kualitas dan keamanan pangan serta mengoptimalkan hasil panen. Misalnya, jika terjadi kegagalan panen karena kondisi iklim yang tidak menguntungkan atau adanya serangan hama.
Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan seperti IBM telah menginvestasikan jutaan dolar dalam pertanian presisi, mengembangkan perangkat IoT yang memungkinkan petani memantau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tanaman mereka. Setelah menghubungkan perangkat ke buku besar blockchain, hasilnya terus diperbarui dan dapat dilihat secara real time hanya dengan melihat aplikasi di handphone. Hal ini memungkinkan petani dengan cepat mengidentifikasi penyebab masalah dan segera mengambil keputusan yang tepat. Untuk itu, sangat penting untuk mengimplementasikan teknologi blockchain dalam SCM pertanian.
Penulis : Marsha Bintang Pertiwi (Mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga)





