Penerimaan diri merupakan pengakuan seseorang terhadap kelebihan dan kekurangan dalam dirinya yang memungkinkan orang tersebut mengembangkan dirinya seoptimal mungkin. Di panti jompo, lanjut usia (lansia) memiliki tingkat penerimaan diri yang rendah. Lanjut usia yang tinggal di panti kesulitan untuk menyesuaikan diri, yang menyebabkan stres, kehilangan kendali atas hidup mereka, dan kehilangan identitas. Lansia merasa tidak dibutuhkan dan tidak diinginkan mempunyai rasa percaya diri yang rendah serta kesal terhadap diri sendiri, penghuni lain, dan lingkungan.
Lansia akan mengurangi interaksi sosial dan lambat laun menjauhkan diri dari masyarakat setempat jika merasa rendah diri sehingga menghambat penyesuaian sosial. Para lansia merasa tidak nyaman tinggal di panti karena teringat akan keluarganya, mengingat panti sebagai tempat pengasingan. Penghuni panti yang kurang memiliki penerimaan diri mengalami berbagai dampak buruk, antara lain rasa putus asa dan rasa terhina yang berlebihan dan berulang.
Lansia yang tinggal di panti memerlukan lebih banyak penerimaan diri dibandingkan lansia yang tinggal di komunitas karena lansia memiliki akses terhadap dukungan keluarga, yang sangat penting untuk membantu lansia memecahkan masalah, membangun kepercayaan diri, dan termotivasi untuk menghadapi perubahan dalam kehidupan mereka. hidup dan, pada akhirnya, meningkatkan penerimaan diri.
Dengan meningkatkan ketahanan lansia, dampak negatif akibat rendahnya penerimaan diri dapat diantisipasi. Penting bagi para penghuni panti asuhan untuk memiliki ketahanan agar mereka dapat menyesuaikan diri dan menerima kehidupan mereka di sana. Ketahanan adalah cara mengatasi kesulitan dan tekanan yang efektif. Resiliensi merupakan suatu proses mengatasi stressor, kesulitan, perubahan yang dipengaruhi oleh faktor protektif. Ketahanan pada hakikatnya adalah suatu proses dinamis yang melibatkan perilaku adaptif dalam menghadapi keadaan menantang yang memiliki risiko dan tantangan besar.
Resiliensi memungkinkan individu untuk tetap fokus pada permasalahan yang dihadapi tanpa larut dalam perasaan atau pikiran negatif, sehingga mampu mengatasi risiko depresi dan gangguan psikologis lainnya. Ketahanan lansia di panti asuhan diharapkan dapat beradaptasi dan menerima keberadaannya di panti asuhan. Koping yang efektif untuk meningkatkan resiliensi lansia di panti asuhan adalahdiperlukan agar lansia dapat memperoleh kesehatan fisik, psikis,
kebebasan beraktivitas, hubungan sosial dan lingkungan. Resiliensi merupakan kemampuan atau kapasitas yang dimiliki individu dalam menghadapi permasalahan atau situasi kehidupan yang mendesak agar dapat bangkit kembali, serta memandang permasalahan dan penderitaan secara positif dan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan.
Usia tua adalah akhir dari sebuah rentang kehidupan. Menikmati masa tua dan bahagia serta dikelilingi orang-orang tercinta merupakan dambaan setiap orang di masa tua.Penerimaan diri harus dilakukan oleh lansia di panti agar lansia merasakan keutuhan atau keutuhan pribadi yang langgeng sehingga menjadikan lansia merasakan kesejahteraan, kebahagiaan, dan memiliki ketahanan menghadapi kehidupan di panti asuhan. Lansia dengan penerimaan diri yang baik mengungkapkan kualitas kehidupan pribadinya, dibuktikan dengan semakin berkurangnya ketergantungan dan semakin besar perawatan diri maka semakin baik pula persepsinya terhadap kesehatan, kesejahteraan dan kualitas hidup.
Penulis: Dr. Retno Indarwati, S.Kep., Ns., M.Kep
Sumber: https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2023053015173319_2022_0721.pdf





