Universitas Airlangga Official Website

Pengalaman Gastronomi, Titik Balik dalam kehidupan, Spiritualitas, dan Philosophy

Foto by IRADIO FM

Penelitian ini diawali dengan latar belakang film romantis populer yang dirilis pada tahun 2010 yang berjudul  “Eat, Pray, Love”. Film tersebut terinspirasi dari sebuah memoar Elizabeth Gilbert yang kemudian diperankan oleh Julia Roberts di dalam film.  Ini adalah kisah tentang seorang wanita yang menghadapi titik balik dalam hidupnya karena perceraian yang sulit. Dia memulai petualangan penemuan diri melalui makan, berdoa dan menemukan cinta di Italia, India dan Indonesia. Dengan latar belakang tersebut studi ini mencoba untuk  mengeksplorasi penciptaan pengalaman gastronomi holistik yang dialami oleh penikmat kuliner, wisatawan domestik maupun luar negeri yang berkunjung ke suatu tempat unik yang menawarkan sebuah filosofi dalam setiap menu maupun latar belakang munculnya restaurant tersebut. Dalam bidang perhotelan dan pariwisata, penelitian sebelumnya menjeladkan bahwa para wisatawan menganggap keunikan kuliner sebagai hal yang penting untuk pilihan tujuan wisata (Björk dan Kauppinen-Räisänen, 2016). Wisata gastronomi dilambangkan dengan mencicipi makanan sebagai faktor pendorong untuk bepergian, meliputi kegiatan seperti menghadiri acara dan festival bertema makanan, memasak kelas, restoran dan tempat makan lainnya dan mengunjungi produsen primer dan sekunder (Hall dan Sharples, 2003).

Selain itu, mencari pengalaman gastronomi terbuka wisatawan untuk kesempatan untuk membiasakan diri dengan budaya lokal dan warisan (Bresciani, 2017). Dengan demikian, pengalaman gastronomi tidak hanya aktivitas mencicipi makanan tetapi juga aktivitas yang berhubungan dengan memasak makanan tersebut. Meskipun penelitian ini memiliki implikasi untuk sektor pariwisata, penelitian ini tidak secara eksplisit menganalisis bisnis dari perspektif wisata kuliner. Stone et al. (2019) menunjukkan bahwa pengalaman makanan terhubung dengan ingatan, yang, pada gilirannya, memengaruhi niat untuk kembali dan merekomendasikan tempat tersebut kepada orang lain. Penelitian tentang peristiwa kehidupan dan perilaku konsumen sudah ada sejak tiga dekade yang lalu. Andreasen (1984) meneliti mengenai perubahan status kehidupan dan perubahan preferensi konsumen dan kepuasan. Demikian pula, Lee et al. (2001) berpendapat bahwa penyesuaian dalam preferensi patronase dan evolusi orientasi patronase disebabkan oleh perubahan gaya hidup konsumsi untuk mengatasi stres perubahan hidup dan memenuhi kebutuhan konsumsi baru. Moschis dan Ong (2012) menambahkan perspektif lain, yaitu argumentasi bahwa perubahan perilaku konsumsi karena perubahan peristiwa kehidupan dipengaruhi oleh budaya atau subkultur seperti agama atau etnis. Secara khusus, mereka menyelidiki perbedaan antara Melayu, Cina dan India, serta antara Muslim, Buddha dan Hindu. Mereka menemukan bahwa orang Tionghoa yang lebih tua dengan orientasi agama yang lebih kuat lebih banyak  Penelitian ini mengadopsi paradigma interpretivist karena paradigma tersebut dapat membantu peneliti untuk memahami makna subjektif dan konstruksi sosial. Interpretivisme diadopsi tidak untuk mendapatkan kebenaran absolut melainkan untuk memberikan interpretasi yang masuk akal dari orang-orang realitas dari berbagai pengalaman dan perspektif (Vickers, 2010).

Penelitian ini berfokus pada satu kasus studi – Restoran “plant based” yang bernama Moksa. Pendekatan studi kasus menawarkan wawasan unik ke dalam konteks spesifik dari banyak aktor dalam berbagai situasi melalui menggunakan teknik yang berbeda seperti observasi, wawancara semi-terstruktur dan analisis dokumenter (Yin, 2018). Moksa adalah salah satu resto “plant based” yang ada di Bali destinasi wisata populer di Indonesia. Penelitian ini dilakukan di di Bali, Indonesia, yang menawarkan kontribusi lain karena membuka lanskap wisata kuliner di negara-negara berkembang. Pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” ditanyakan dalam wawancara untuk mendapatkan wawasan yang lebih dalam penyelidikan (Robinson et al., 2014), khususnya tentang bagaimana Moksa menerjemahkannya Filosofi keharmonisan antara pikiran, jiwa, dan raga (“mind-body-soul”) dalam bentuk dan pengoperasian tanaman restoran. Studi kasus menggunakan beberapa metode dan sumber data untuk mencapai penelitian tujuan menganalisis bagaimana strategi berdasarkan kombinasi peristiwa kehidupan. Secara khusus, penelitian ini menyoroti peran peristiwa kehidupan, filosofi dan spiritualitas dalam membentuk pengalaman gastronomi. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai bagaimana pengembangan layanan yang berdasarkan pengalaman unik yang dirasakan oleh pelanggan diciptakan oleh pengelola dan pemilik resto. Peneliti melihat bahwa ketika pemilik resto memiliki pengalaman atau peristiwa dalam hidup yang menjadi titik balik mereka, hal ini akan dijadikan dasar dalam mengembangkan konsep kuliner di restaurant mereka.

Penulis: Ida Bagus Gede Adi Permana, SE., M.Sc

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/IJCHM-09-2021-1196/full/html

Japutra, A., Tjiptono, F., Setyawan, A., Permana., I.B.G.A., Widaharthana, I.P.E (2022) Life events, philosophy, spirituality and gastronomy experience. International Journal of Contemporary Hospitality Management, Vol. 34. No.9. pp 3210-3229