Duktur arteriosus secara normal akan terjadi penutupan. Penutupan duktus arteriosus terjadi penundaan pada bayi prematur sampai dengan usia 4 hari pada bayi prematur dengan angka kejadian yang bervariasi. Pada usia gestasi 30-37 minggu didapatkan angka kejadian 10%, sedangkan pada usia gestasi yang lebih muda yaitu 25-28 minggu dan < 24 minggu angka kejadiannya sangat tinggi yaitu 80%-90%. Duktus arterious persisten dengan hemodinamik bermakna bila didapatkan aliran dari sistemik ke sistem peredaran darah paru melalui duktus arteriosus yang menyebabkan hipoperfusi pada sistemik dan paru. Pirau dari peredaran sistemik menuju peredaran darah paru melalui duktus arteriosus dapat mempengaruhi sirkulasi organ otak, perut, dan ginjal. Hemodinamik bermakna pada duktus arterious dapat menyebabkan berbagai efek yaitu perdarahan intraventrikel, enterokolitis nekrotikan, dan gangguan ginjal. Hipoperfusi tersebut dapat menyebabkan gangguan oksigenasi pada berbagai jaringan yang dapat dideteksi dengan alat near-infrared spectroscopy (NIRS). Studi ini berusaha meneliti apakah ada perbedaan oksigenasi jaringan regional pada prematur dengan atau tanpa duktus arteriosus persisten dengan hemodinamik bermakna.
Penelitian ini melibatkan bayi prematur usia 3 – 7 hari dengan usia gestasi 24- 33 6/7 minggu. Diagnosis duktus arteriosus persisten dengan hemodinamik bermakna ditentukan dengan ekokardiografi dengan kriteria diamater duktus arteriosus > 1,5 mm dengan perbandingan arteri pulmonalis kiri dan aorta > 1,4. Saturasi organ otak, perut dan ginjal diukur dengan menggunakan Near Infra-Red Spectroscopy. Alat yang digunakan adalah INVOS 5100C produksi dari Covidien Amerika Serikat. Sensor diletakkan pada beberapa tempat yaitu di bagian frontoparietal kepala bayi, bagian bawah dari pusat, dan bagian tepi belakang dari perut untuk mengevaluasi saturasi jaringan otak, perut, dan ginjal. Evaluasi dilakukan oleh peneliti yang berbeda tanpa mengetahui hasil dari ekokardiografi. Saturasi oksigen diukur selama 15 menit secara kontinu, alat melakukan perekaman saturasi oksigen tiap 15 detik. Pulse oksimeter juga diletakkan pada tangan kanan bayi untuk mengevaluasi saturasi oksigen perifer. Analisis statistika menggunakan uji kai kuadrat, uji eksak Fischer, t tes tidak berpasangan, dan tes Mann Whitney, dengan nilai p bermakna bila kurang dari 0,05. Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari komite etik RSUD Dr Soetomo.
Dari hasil peneliitan didapatkan beberapa bayi dengan sepsis dan kelainan kongenital multipel yang dieksklusi, sehingga yang dilanjutkan dengan penelitian adalah sampel sebanyak 52 dengan 11 pasien didapatkan duktus arteriosus persisten dengan hemodinamik bermakna. Dari data karakteristik pasien didapatkan sebagian besar pada usia gestasi 28-<32 minggu dengan rerata adalah 30,72 + 2 minggu pada kelompok hemodinamik bermakna duktus arteriosus persisten dan 30,78 + 2 minggu kelompok hemodinamik tidak bermakna duktus arteriosus persisten, juga jenis kelamin hampir sama yaitu 48% laki-laki dan 52% perempuan. Berat badan pada kedua kelompok juga tidak berbeda bermakna yaitu 1.213±293 dan 1.272±306 gram dengan nilai p 0,902. Uji regresi linier pada komorbid dari pasien (asfiksia perinatal, sindroma gawat nafas, dan hipertensi pulmonal persisten) sebagai faktor perancu untuk estimasi satuarasi oksigen regional juga dilakukan perhitungan dengan hasil yang tidak bermakna. Pemeriksaan dilanjutkan dengan perbandingan saturasi oksigen pada otak, perut, dan ginjal antara dukturs arteriosus persisten dengan hemodinamik bermakna dan yang tidak, ternyata didapatkan hasil yang tidak bermakna.
Pada studi ini didapatkan hasil bahwa duktus arteriosus persisten dengan hemodinamik bermakna dan yang hemodinamik tidak bermakna didapatkan hasil saturasi organ otak yang tidak berbeda bermakna seperti pada studi van der Laan dan kawan-kawan yang menunjukkan saturasi otak dan jaringan ginjal tidak dipengaruhi oleh hemodinaik bermakna pada duktus arteriosus persisten. Studi ini mendapatkan informasi yang penting pada kadar saturasi oksigen pada tiga daerah badan yaitu otak, perut, dan ginjal yang sering terpengaruh dengan perubahan hemodinamik, tetapi terdapat keterbatasan yaitu pengukuran saturasi jaringan dengan Near Infra-Red Spectroscopy dilakukan dalam periode waktu yang pendek sehingga perlu dilakukan studi longitudinal sehingga dapat mengevaluasi tren dari saturasi oksigen.
Penulis: Dr Martono Tri Utomo, dr , SpA(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://ijn.mums.ac.ir/article_19526_6408dfc94b8161b6c0dacbc57b36798a.pdf
Effect of Hemodynamic Significant Patent Ductus Arteriosus on Tissue Oxygenation in Preterm Infants using Near-Infrared Spectroscopy.Martono Tri Utomo, Risa Etika, Mahrus Abdul Rahman, Mahendra Tri Arif Sampurna, Sunny Mariana Samosir. Iranian Journal of Neonatology, 2022, 13(1): 55-61





