Pterigium merupakan masalah kesehatan mata yang banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari, Berbagai metode teknik operasi yang merupakan modalitas terapi utama pterigium, antara lain : conjungtival flap, conjungtival autograft, bare sclera maupun penggunaan membran amnion, namun belum dapat menyelesaikan permasalahan secara menyeluruh, khususnya dalam mencegah rekurensi. Angka rekurensi pterigium didapatkan tinggi secara global (10-80%), dan Indonesia (24-89%). Tingginya angka rekurensi dan progresivitas pada pterigium berulang masih merupakan permasalahan klinis yang menjadi tantangan tersendiri, karena pterigium berpotensi mengakibatkan penurunan tajam penglihatan dan masalah kosmetik sehingga memerlukan tindakan operasi berulang. Basic Fibroblast Growth Factor (bFGF) diketahui sebagai growth factor pada tahap inflamasi kronik maupun kerusakan DNA yang menyebabkan invasi sel pterigium.
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa Epigallocathecin-3-gallate (EGCG) terbukti menurunkan angka rekurensi sel pterigium fibroblas dan migrasi sel secara in vitro tanpa merusak sel – sel konjungtiva, oleh sebab itu pemberian EGCG disarankan sebagai terapi adjuvan potensial untuk penanganan primer pterygium. Epigallocathecin-3-gallate (EGCG) dalam ekstrak teh hijau (Carmellia sinesis) diketahui mengandung Cathecin dalam jumlah banyak dan bermanfaat sebagai antifibrotik, antiinflamasi serta anti oksidan dalam terapi mata. Efektivitas EGCG dibandingkan Mitomycin-C terhadap ekspresi basic Fibroblast Growth Factor (bFGF) serta apoptosis pada Human Pterygium Fibroblast (HPF) sampai saat ini belum banyak diteliti.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian EGCG terhadap ekspresi bFGF dan apoptosis sel pada HPF dibandingkan kelompok Mitomycin-C dan kontrol.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain randomized posttest only control group menggunakan kultur sel human pterigyum fibroblast (HPF) untuk menganalisis ekspresi bFGF dan apoptosis sel terhadap HPF pada 5 kelompok perlakuan, yaitu : kelompok kontrol (-), kelompok Mytomicin-C 0.4 mg/ml, kelompok EGCG 50 µM, 100 µM maupun 150 µM. Pengambilan jaringan pterigium dilakukan pada pasien dengan teknik eksisi bare sclera di Ruang OK Minor Klinik Mata Tritya Surabaya. Jaringan pterigium yang dipeoleh selanjutnya diisolasi dan kultur sel human pterygium fibroblast. Sel human pterygium fibroblast yang dihasilkan selanjutnya ditentukan karakterisasi dan dilakukan pewarnaan vimentin. Sel selanjutnya difoto dengan mikroskop fluoresens menggunakan pembesaran 10 kali.
Pembuatan EGCG dari ekstrak teh hijau EGCG murni dengan membuat larutan dengan konsentrasi sesuai uji dosis yang ditentukan. HPF diuji dengan konsentrasi 25 – 50-100-150 µM pada media tumbuh. DMEM media komplit ditambahkan untuk mengencerkan EGCG pada konsentrasi tersebut kemudian disonikasi dan difiltrasi. Proses selanjutnya dilakukan penentuan viabilitas sel dan dosis IC-50 untuk optimalisasi dosis EGCG.
Pengukuran apoptosis sel dilakukan dengan menggunakan flowcytometry (Beckman coulter), sedangkan pengukuran bFGF dengan immunoflourescence staining. Pembacaan hasil dilakukan dengan fluorescence microscope perbesaran 10x. Tingkat ekspresi dilakukan dengan software ImageJ dan dinyatakan dalam corrected total cell fluorescence (CTCF) yang ditentukan menggunakan rumus: Integrated Density – (Area of selected cell x Mean fluorescence of background readings).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan EGCG dalam menginhibisi sel sebanyak 50% pada dosis 104.65 µM, maka ditetapkan 100 dan 150 μM sebagai dosis intervensi. Mean ekspresi bFGF pada kelompok kontrol, kelompok EGCG 50 µM, 100 µM,150 µM serta Mytomicin-C 0,4 mg/ml masing-masing adalah sebagai berikut : 35.697.824±9.623.721 piksel, 9.623.721±1.876.256 piksel, 11.152.667±2.458.096 piksel, 6.302.796±892.658 piksel, 3.528.259±1.422.707 piksel.
Hasil uji ANOVA dan tukey post hoc ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan ekspresi bFGF pada sel HPF yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok Mitomycin-C dengan kelompok EGCG 50 µM, EGCG 100 µM, EGCG 150 µM, dan MMC 0.4 mg/ml (p<0.01). Antara kelompok EGCG 50 µM dengan kelompok EGCG 100 µM dan EGCG 150 µM, juga didapatkan perbedaan yang signifikan (p<0.01). Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian MMC 0.4 mg/ml akan menurunkan ekspresi bFGF pada sel HPF secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol (-). Demikian pula penambahan EGCG menurunkan ekspresi bFGF pada sel HPF dibandingkan dengan kelompok kontrol (-). Demikian pula pada kelompok EGCG yang berbeda konsentrasi didapatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi EGCG yang diberikan maka semakin turun ekspresi bFGF pada sel HPF.
Rerata induksi apoptosis sel HPF setelah 72 jam pada kelompok kontrol, EGCG 50 µM¸ EGCG 100 µM, EGCG 150 µM dan MMC 0.4 mg/ml masing-masing adalah sebagai berikut : 6.1 (SD±0.08); 4.63 (SD±0.91); 20.70 (SD±1.46); 16.20 (SD±0.47); 98.81 (SD±0.16); yang dianalisa menggunakan flowcytometry. Uji ANOVA dan tukey posthoc menunjukkan peningkatan apoptosis pada sel HPF yang bermakna antara kelompok perlakuan : kelompok kontrol (-) dengan EGCG 50 µM, EGCG 100 µM, EGCG 150 µM, dan MMC 0.4 mg/ml (p<0.01), sedangkan pada konsentrasi EGCG 50 µM terjadi penurunan apoptosis sel fibroblast dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Hasil evaluasi dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi bFGF dan apoptosis sel fibroblast pada HPF pascapemberian EGCG dibandingkan kontrol negatif.
Penulis: Astry Ayunda, Luki Indriaswati, Muhammad Firmansjah, Djoko Agus Purwanto, Budi Utomo
Link: https://balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4770





