Kanker Payudara merupakan penyakit keganasan yang menyerang organ payudara. Penyebab kanker payudara adalah multifaktor yang dapat berasal dari perubahan genetik maupun non-genetik. Penyebab genetik berkatian dengan adanya mutasi gen BRCA yang dapat diturunkan. Gen BRCA normal memang dimiliki oleh semua orang akan tetapi jika terjadi mutasi pada gen BRCA, akan meningkatkan resiko kanker payudara. Mutasi gen BRCA ini dapat diturunkan melalui sel benih kepada keturunannya. Penyebab non-genetik meliputi berbagai zat kimia dan radiasi ionik yang dapat menimbulkan mutasi gen pada sel epitel duktuli payudara. Mutasi gen dari penyebab non-genetik tidak diturunkan. Sebagian besar kanker payudara tidak berasal dari mutasi gen yang diturunkan. Mutasi gen yang terakumulasi akan menyebabkan terjadinya sel kanker. Pada awalnya sel kanker hanya berjumlah 1 sel yang kemudian membelah diri terus menerus menjadi banyak sel sampai terbentuk suatu nodul yang teraba. Selanjutnya, adanya proses keradangan atau inflamasi akan meningkatlan proliferasi sel kanker tersebut. Dapat disimpulkan walaupun proses inflamasi tidak menimbulkan kanker akan tetapi adanya inflamasi akan memicu perkembangan kanker.
Kanker yang berkembang akan menjadi berukuran lebih besar, tumbuh invasif ke dalam jaringan sekitar serta memiliki anak sebar yang dikenal dengan metastasis. Kanker payudara stadium lanjut dapat menyebar atau metastasis pada organ tulang, paru, hati dan otak. Metastasis sel kanker menimbulkan kematian. Metastasis sel kanker payudara pada tulang akan menyebabkan tulang menjadi mudah patah dan terjadi fraktur patologis yakni terjadinya patah tulang karena trauma yang minimal serta menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Tulang merupakan organ yang paling sering menjadi tempat metastasis dari sel kanker payudara. Metastasis pada tulang belakang akan menyebabkan rasa nyeri yang hebat serta kelumpuhan yang permanen. Angka harapan hidup penderita kanker yang mengalami metastasis tulang jauh lebih rendah dibandingkan dengan penderita kanker tanpa metastasis. Data statistik menunjukkan rata-rata harapan hidup pasien kanker payudara dengan metastasis pada tulang hanya 2 sampai 3 tahun saja. Metastasis pada organ tulang terjadi pada sekitar 75% dari penderita kanker payudara. Kelumpuhan dan rasa nyeri yang hebat menyebabkan penderita tidak dapat beraktivitas sehingga kualitas hidup sangat menurun yang pada akhirnya akan berakhir dengan kematian.
Proses metastasis sel kanker pada tulang dipengaruhi oleh proses inflamasi. Denni, Willy Sandhika dan Grace Ariani telah meneliti dan membuktikan bahwa reseptor pada proses inflamasi seperti reseptor Prostaglandin D2 dan Ppar-gamma ikut berperan dalam proses metastasis kanker payudara pada tulang. Prostaglandin merupakan protein yang dihasilkan oleh sel radang dalam proses inflamasi yang menghantarkan rasa sakit. Adanya prostaglandin akan menimbulkan rasa nyeri pada proses inflamasi dan menarik sel radang menuju tempat inflamasi untuk memulai proses penyembuhan. Rasa nyeri yang timbul pada proses inflamasi bertujuan untuk merangsang proses regenerasi jaringan yang rusak. Ppar-gamma merupakan salah satu mediator inflamasi yang berperan dalam proliferasi sel. Proliferasi sel bertujuan untuk menggantikan sel yang rusak. Pada kanker payudara yang mengalami metastasis tulang terjadi penurunan reseptor Prostaglandin D2 maupun Ppar gamma. Sel kanker terhindar dapat menghindar dari proses kerusakan dengan cara menurunkan kedua reseptor tadi. Pada sel kanker yang tidak mengalami metastasis tulang, reseptor prostaglandin D2 serta Ppar–gamma lebih tinggi dibandingkan dengan sel kanker yang mengalami metastasis tulang. Aktivasi reseptor prostaglandin serta reseptor Ppar–gamma dapat menghambat proses metastasis sel kanker payudara pada tulang.
Penulis: Dr. Willy Sandhika, dr., M.Si, SpPA(K)*
Staf Pengajar Departemen Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Artikel ilmiah populer ini diambil dari artikel jurnal dengan judul The Role of Prostaglandin D2 Reseptor DP and PPARγ in Bone Metastasis of Breast Cancer dengan penulis Denni, Willy Sandhika dan Grace Ariani dan telah diterbitkan dalam jurnal Biochemical Cellular Archive, volume 21, no. 2, bulan Oktober 2021, halaman 4337– 4342.
Link artikel jurnal:





