Universitas Airlangga Official Website

Pengaruh Kategori Indeks Pembangunan Manusia Pada Karaktersitik Kanker Prostat di Asia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kanker prostat ialah salah satu kanker yang sering diderita kaum pria terutama di negara-negara Barat. Terdapat peningkatan kasus kanker prostat di Asia bersamaan dengan meningkatnya usia harapan hidup serta meluasnya penggunaan tes PSA (Prostate Specific Antigen). Meskipun demikian, terdapat perbedaan di tiap negara terkait cara mendeteksi dan mengangani kanker prostat. Salah satu faktor penting yang kerap terlewat untuk diperhatikan adalah tingkat pembangunan suatu negara yang digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dimana IPM mencerminkan kualitas kesehatan, pendidikan, dan standar hidup, serta memberi gambaran tentang seberapa siap sebuah sistem kesehatan menghadapi penyakit kronis seperti kanker. Penelitian ini membandingkan perbedaan IPM di negara-negara Asia yang berkaitan dengan deteksi serta penanganan kanker prostat.

Penelitian ini mengambil data dari Asian Prostate Cancer (A-CaP) Study yakni pasien kanker prostat dari berbagai negara Asia meliputi Hongkong, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Thailand, Turki, Vietnam dan Indonesia. Analisis dilakukan pada pasien yang terdiagnosis kanker prostat pada rentang tahun 2016 hingga 2018. Tingkat IPM di kelompokkan menjadi kategori sedang, tinggi, dan sangat tinggi berdasarkan negara tersebut, kemudian dibandingkan secara keseluruhannya terkait metode diagnosis, karakteristik pasien, tingkat keparahan penyakit, dan terapi awal.

Didapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara pasien dari negara dengan IPM yang lebih rendah dengan IPM yang lebih tinggi. Pada negara dengan IPM yang lebih rendah, pasien mayoritas datang berobat dengan tingkat keparahan kanker yang sudah lebih berat, disimpulkan dengan tingginya kadar PSA saat pasien berobat dengan diagnosis  kanker yang bersifat lebih agresif, dan kondisi kanker yang sudah mengalami penyebaran. Sebaliknya, di negara dengan IPM yang sangat tinggi, kanker prostat sering ditemukan pada stadium awal, dengan pilihan pengobatan masih lebih beragam dan peluang kesembuhan lebih besar. Perbedaan ini juga terlihat jelas pada akses terhadap pemeriksaan lanjutan dimana di negara dengan IPM yang lebih tinggi masih menjadikan CT scan, MRI, dan bone scan sebagai pemeriksaan rutin, sedangkan di negara dengan IPM yang lebih rendah, pemeriksaan tersebut sering kali tidak tersedia atau tidak digunakan, bahkan pada pasien berisiko tinggi sekalipun. Hal ini membuat kurangnya kemampuan dalam mendeteksi tingkat keparahan penyakit kanker.

Dalam menangani kanker, negara dengan IPM yang lebih tinggi menerapkan terapi yang bertujuan untuk menyembuhkan, seperti prostatektomi radikal atau radioterapi yang diberikan kepada pasien dengan kanker yang masih terbatas di prostat sedangkan terapi di negara dengan IPM yang lebih rendah masih cenderung menggunakan terapi hormonal sebagai pilihan utama dan juga tidak memilih pendekatan seperti pemantauan aktif tanpa tindakan langsung (active surveillance).

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyakit prostat dalam perjalanannya tidak hanya berfokus pada sifat biologis kanker, melainkan juga sistem kesehatan di suatu negara. Jika ditinjau kembali, tidak jarang pasien datang terlambat karena keparahan kanker yang menjadi ganas, melainkan karena keterbatasan dalam deteksi dini, diagnosis, dan penanganan terapinya. Pernyataan ini mencatat bahwa perlu adanya perbaikan sistem layanan kesehatan guna meningkatkan deteksi dini, serta pemerataan akses diagnostic untuk meningkatkan  kesembuhan kanker prostat di benua Asia.

Informasi lengkap tulisan ini dapat diakses pada laman : 

https://doi.org/10.1002/pros.70050

Shinichi Sakuramoto, et al. Impact of Human Development Index Category on Prostate Cancer Characteristics in Asia. The Prostate, 2025.