Perkembangan yang baik merupakan syarat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, gangguan perkembangan akan menghambat terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas sebagai penentu masa depan pembangunan bangsa dan negara. Gangguan perkembangan pada anak masih menunjukkan angka prevalensi yang tinggi, dan merupakan penyebab utama dari morbiditas jangka panjang yang menimbulkan beban yang tinggi. Kualitas seorang anak dapat dinilai dari proses perkembangan. Perkembangan merupakan hasil interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik/keturunan adalah faktor yang berhubungan dengan gen yang berasal dari ibu dan ayah, sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan biologis, fisik, psikologis dan sosial. Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh stimulus yang diberikan oleh lingkungan sekitar. Apabila stimulus tersebut berjalan atau dijalankan dengan baik, maka sangat mungkin hal tersebut dapat menjadikan anak memiliki kemampuan kognitif, motorik dan bahasa yang berkembang sangat baik pula. Secara global diperkirakan bahwa gangguan perkembangan mempengaruhi 5-10% dari populasi anak. Dengan perkiraan 1-5% pada masyarakat barat, tetapi prosentase yang tidak mencapai potensi perkembangan mereka lebih tinggi di negara berkembang. Diperkirakan lebih dari 200 juta anak pada negara berkembang tidak mencapai potensi perkembangan mereka yang optimal dan dikatakan 10-20% orang memiliki masalah belajar atau masalah perkembangan.Penelitian di Indonesia yang dilakukan di Kabupaten Bandung Jawa Barat menunjukkan bahwa 20-30% balita mengalami gangguan perkembangan, sebagian besar mengalami keterlambatan pada aspek motorik kasar dan bahasa/bicara, yang mana sebagian besar diakibatkan kurangnya stimulasi.
Tatalaksana gangguan tumbuh kembang dan pencegahannya saat ini adalah dengan melakukan skrining secara berkala, pemberian stimulus yang sesuai, pemberian nutrisi, terapi fisik rehabilitasi, intervensi perilaku, intervensi psikologis sampai penggunaan obat-obatan. Banyak stimulus yang bisa diberikan pada anak yang mengalami masalah perkembangan, ataupun untuk mencapai perkembangan yang optimal pada anak yang tidak mengalami gangguan perkembangan. Stimulus tersebut dapat berupa stimulus berupa sentuhan, auditory/pendengaran, perangsangan secara visual, motorik, kognitif, maupun emosi dan sosial dan salah satu pemberian stimulus tersebut bisa dengan mendengarkan musik. Mendengarkan musik dilaporkan dapat meningkatkan neurogenesis pada otak dan meningkatkan kecerdasan anak. Perkembangan otak yang baik berpengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Beberapa penelitian dengan menggunakan model hewan coba telah dilakukan terkait stimulasi musik terhadap perkembangan otak dengan hasil yang masih pro dan kontra. Efek positif stimulasi musik terhadap perkembangan otak diperkirakan dengan cara menurunkan kadar hormon kortikosteron, yang dikenal dengan hormon stres, meningkatkan protein dan faktor pertumbuhan yang berperan pada proses neurogenesis seperti Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) dan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Penelitian kami untuk mengetahui pengaruh stimulasi musik terhadap perkembangan otak tikus putih wistar (Rattus norvegicus), dimana sebanyak 30 tikus Wistar dibagi 2 kelompok, masing-masing 1 kelompok berisi 15 tikus Wistar, satu kelompok diberi musik Mozart (Mozart Sonata for two pianos K. 448) selama 90 menit, dengan tekanan suara 60-80 dB, sehari 2 kali selama 30 hari. Sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan musik Mozart. Setelah 30 hari didapatkan kelompok perlakuan dengan musik Mozart mempunyai kadar Plama Costicosteron lebih rendah, kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) di hipocampus lebih tinggi, tetapi kadar Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) dan ketebalan korteks serebral tidak ada perbedaan antara kelompok musik Mozart dan kontrol. Kesimpulannya adalah musik Mozart dapat menstimulasi perkembangan otak pada tikus Wistar.
Penulis: Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Disarikan dari artikel dengan judul: “Mozart music stimulation effect on Wistar rats’ neurogenesis” yang diterbitkan di Bali Medical Journal, 2023;12(1): 921-5. Link: https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4202/2627





