Rokok merupakan produk kontroversial yang beredar luas di masyarakat, namun terdapat pro dan kontra dalam penggunaannya. Indonesia menunjukkan angka perokok tertinggi di dunia, menempati peringkat ketiga setelah Tiongkok dan India, menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018). Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi perokok di Indonesia adalah (33,8%), dengan prevalensi pria (62,9%) dan wanita (4,8%). Berdasarkan survei, masyarakat Indonesia sudah mengetahui bahaya yang terkandung dalam rokok namun tetap merokok tanpa mempedulikan kesehatan mereka. Baik senyawa dalam rokok maupun asapnya hampir semuanya beracun bagi tubuh manusia. Rokok merupakan salah satu sumber stres oksidatif.
Studi tentang merokok menunjukkan bahwa perokok biasanya memulai kebiasaan mereka di usia muda dan sulit untuk berhenti. Konsumsi rokok yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem imun-inflamasi dan mengakibatkan berbagai penyakit yang berkaitan dengan peradangan kronis melalui pelepasan sel inflamasi ke dalam aliran darah dan peningkatan penanda inflamasi seperti protein fase akut dan sitokin pro-inflamasi. Di rongga mulut, merokok dapat mengakibatkan lesi atau kondisi patologis seperti karies, kanker mulut, lesi prakanker, dan penyakit periodontal. Peradangan kronis dapat memicu reaksi berlebihan Interleukin 8 (IL-8) dan Tumor Necrosis Factor α (TNF-α) yang menyebabkan kerusakan DNA, memicu kematian sel, dan angiogenesis. Angiogenesis mengacu pada mekanisme biologis di mana pembuluh darah baru dihasilkan dari pembuluh darah yang sudah ada. Jika kondisi ini tidak dikendalikan dengan baik, dapat memicu peradangan kronis. Proses angiogenesis dirangsang oleh berbagai jenis sel, termasuk sel mast, fibroblas, dan makrofag. Makrofag dapat mensekresikan faktor angiogenik dan sitokin, seperti IL-8 dan TNF-α, untuk memulai proses angiogenesis. Peningkatan jumlah sekresi mediator pro-inflamasi di sekitar jaringan memicu makrofag yang aktif untuk merusak jaringan secara masif, yang pada akhirnya mengakibatkan peradangan kronis.
Tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah peradangan kronis, salah satunya adalah olahraga. Beberapa penelitian telah membuktikan dampak positif olahraga pada sistem tubuh, termasuk mengurangi peradangan, menghambat pertumbuhan sel kanker, meningkatkan kapasitas kerja jantung dan paru-paru, menurunkan kadar glukosa darah, menurunkan kadar lemak tubuh, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Berdasarkan intensitasnya, olahraga dibagi menjadi ringan, sedang, submaksimal, dan maksimal. Olahraga dapat dibagi berdasarkan intensitas, persentase denyut jantung, kapasitas kerja maksimal, dan volume O2 maksimal. Olahraga yang efektif dapat dimulai dengan intensitas sedang dan dilakukan secara teratur, dan olahraga yang dapat dilakukan adalah berenang. Berenang adalah aktivitas aerobik yang berfungsi untuk mengurangi peradangan kronis melalui efek anti-inflamasi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berenang juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin, mencegah obesitas, menenangkan pikiran, dan meningkatkan kualitas hidup seseorang. Hasil penelitian menunjukkan olahraga intensitas sedang terhadap dapat menurunkan sekresi IL-8 dan TNF-α saliva, sehingga dapat digunakan sebagai upaya pencegahan terhadap kondisi peradangan kronis pada perokok.
Penulis : Anis Irmawati.
Artikel ini bisa diakses di :
http://www.banglajol.info/index.php/BJMS.
Bangladesh Journal of Medical Science, Volume 25 No. 01, January 2026, pp. 176-183.
DOI: https://doi.org/10.3329/bjms.v25i1.86417
ISSN: 2223-4721
eISSN: 2076-0299





