Penuaan merupakan suatu proses biologis yang ditandai dengan menurunnya kesehatan, perubahan metabolisme, penurunan fungsi jaringan dan organ, kerusakan struktur, dan menurunnya kemampuan beradaptasi. Salah satu faktor yang menyebabkan penuaan dini terjadi lebih cepat adalah obesitas. Obesitas menyebabkan penuaan dini karena ketidakseimbangan metabolisme, serta perubahan seluler dan biomolekuler. Lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia menderita obesitas, yang diperkirakan akan mencapai proporsi epidemi pada tahun 2030, yang mempengaruhi jumlah kematian akibat penyakit tidak menular di dunia mencapai lebih dari 1 milyar jiwa. Hal ini diperkirakan juga akan meningkatkan prevalensi penyakit tidak menular yang saat ini menyebabkan 71% kematian di seluruh dunia.
Beberapa strategi direkomendasikan untuk mengatasi obesitas dan meningkatkan penuaan yang sehat, salah satunyaa modifikasi pola makan seperti puasa intermiten/Intermitten Fasting (IF). IF mencakup mengaturan pola makan dan dapat memfasilitasi penuaan yang sehat, memperpanjang umur serta meningkatkan produksi badan keton untuk memacu bioenergetika dan efisiensi metabolisme tubuh. Berdasarkan uraian diatas, peneliti dari Universitas Airlangga melakukan kajian pustaka meninjau potensi IF dalam mencegah penuaan dini terkait obesitas dari perspektif molekuler dan seluler.
Berdasarkan literature, dinyatakan bahwa IF dapat memengaruhi komposisi tubuh melalui pengurangan masa lemak tubuh. Hal ini dikarenakan penuaan sering dikaitkan dengan peningkatan persentase lemak tubuh dan redistribusi massa lemak, terutama ke daerah sentral dan visceral. Dengan melakukan puasa intermitten selama 30 hari, hasil penelitian menunjukkan bahwa IF meningkatkan metabolisme lemak, mengurangi akumulasi lemak, mendorong konversi lemak putih menjadi lemak krem, dan meningkatkan komposisi mikrobiota usus. Selain berkaitan dengan komposisi tubuh, IF juga berdampak pada aspek fisiologis lain yaitu fungsi kognitif.
Hasil penelitian pada model hewan coba yang diberikan makanan tinggi lemak terbukti meningkatkan respons inflamasi hipokampus, yang merupakan indikasi penuaan dini pada otak. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan individu dengan gangguan kognitif ringan, pasien lanjut usia yang secara konsisten mempraktikkan IF memiliki skor kognitif yang lebih baik dan mengalami peningkatan fungsi kognitif pada 36 bulan penelitian. Penelitian lain juga melaporkan bahwa IF yang dipraktikkan selama periode 30 hari telah meningkatkan fungsi kognitif pada orang dewasa yang sehat. Aspek lainnya yang terdampak akibat penuaan karena obesitas adalah sistem kardiovaskuler. Penuaan dan penurunan kinerja sistem kardiovaskular saling terkait erat, proses ini sering menyebabkan perkembangan penyakit kardiovaskular karena perubahan struktur jantung, sistem saraf otonom, dan akumulasi perubahan epigenetic. Obesitas memicu perubahan struktur dan fungsi kardiovaskular, peradangan, stres oksidatif, disfungsi mitokondria, resistensi insulin, dan hilangnya panjang telomer. Terkait dengan proses patologis tersebut, IF memiliki peran penting dalam mengurangi gangguan pada sistem kardiovaskular yaitu dengan mengatur metabolisme lipid yang secara positif memengaruhi parameter profil lipid. IF secara signifikan berkontribusi pada pencegahan pembentukan plak aterosklerotik. Selain itu, IF telah terbukti meningkatkan kadar faktor neurotropik yang berasal dari otak, menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik melalui stimulasi sistem saraf parasimpatis.
Dalam beberapa tahun terakhir, IF telah muncul sebagai pendekatan yang menjanjikan dengan banyak manfaat. IF berpotensi untuk mengurangi penuaan dini terkait obesitas melalui pengaruhnya terhadap jalur molekuler dan seluler, yang secara efektif mengatur berbagai sistem
tubuh. Dengan memodulasi jalur regulasi utama seperti sirtuin, PGC-1ÿ, IIS, PI3K/Akt, FOXO, dan mTOR, IF dapat membantu mencegah penuaan dini yang terkait dengan obesitas. Mengingat potensinya untuk meningkatkan gaya hidup yang lebih sehat dan mencegah penuaan dini terkait obesitas, penelitian lebih lanjut tentang mekanisme dan kemanjuran IF diperlukan.
Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Link: https://doi.org/10.25122/jml-2023-0370
Baca juga: Metaanalisis Efek Akupunktur dibandingkan Bekam Kering Setelah Melahirkan





