Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit pernapasan baru yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), dan pertama kali terdeteksi di China pada akhir 2019. COVID-19 telah dinyatakan oleh World Health Organization (WHO) sebagai Global Pandemic sejak tanggal 11 Maret 2020, dan ditetapkan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. COVID-19 merupakan penyakit yang sangat cepat menular sehingga mengakibatkan terdapat 32.730.945 kasus positif COVID-19 di dunia dan 271.339 di Indonesia per 27 September 2020. Meskipun COVID-19 berdampak pada seluruh masyarakat, setiap orang memberikan respon tubuh secara berbeda. Hal ini kemungkinan dapat diakibatkan oleh perbedaan karakteristik individu, seperti usia dan jenis kelamin.
Virus corona yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama di testis menyebabkan pria rentan terhadap COVID-19 dengan kondisi yang lebih parah. Dr. Aditi Shastri, seorang ahli onkologi di Montefiore Medical Center di Bronx, dan ibunya, Dr. Jayanthi Shastri, seorang ahli mikrobiologi di Rumah Sakit Kasturba untuk penyakit menular di Mumbai, menyatakan bahwa virus tersebut menempel pada protein di testis. Protein ini, yang dikenal sebagai angiotensin-converting enzyme 2 atau ACE2, berada di paru – paru, saluran pencernaan, jantung, dan sebagian besar berada di testis. Oleh karena testis merupakan organ dengan immune privilege, virus dapat bertahan di sana untuk waktu yang lebih lama daripada bagian tubuh lainnya. Selain itu, COVID-19 juga menunjukkan peningkatan jumlah kasus dan risiko penyakit parah yang lebih besar seiring dengan bertambahnya usia. Dalam hal ini, anak-anak memiliki kerentanan yang lebih rendah terhadap COVID-19 dibandingkan dengan orang dewasa.
Banyak penelitian dilakukan terkait COVID-19, namun belum ditemukan informasi terperinci mengenai lama penyembuhan COVID-19 yang didasarkan pada kelompok usia dan jenis kelamin pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui apakah usia dan jenis kelamin mempengaruhi lama penyembuhan COVID-19, dan menentukan kategori usia dan jenis kelamin mana dengan durasi pemulihan terlama dan tercepat dengan menggunakan metode Two-way ANOVA. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat agar selalu menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan.
Oleh karena keterbatasan waktu penelitian, data, dan sumber data maka peneliti mengambil sampel pasien COVID-19 yang sembuh dari periode 20 April 2020 sampai 10 Desember 2020 yang diperoleh dari akun resmi Instagram Biro Humas dan Protokol Jambi bernama “Humas Protokol Jambi”. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan cluster sampling. Data yang digunakan adalah data sekunder terkait lama penyembuhan COVID-19 beserta dengan usia dan jenis kelamin pasien. Sampel sebanyak 25 pasien laki-laki dan 25 pasien perempuan. Untuk mengamati pengaruh usia, pasien dikategorikan dalam beberapa kelompok, yaitu: usia 0-11 tahun, 12-25 tahun, 26-45 tahun, 46-65 tahun, dan lebih dari 65 tahun.
Berdasarkan hasil uji Two-way ANOVA, dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan terhadap durasi lama penyembuhan COVID-19. Semetara itu, usia berpengaruh signifikan. Waktu penyembuhan terlama dibutuhkan oleh pasien pada kategori usia 26 – 45 tahun dengan rata – rata 39,9 hari dan waktu terpendek untuk sembuh dibutuhkan oleh pasien pada kategori usia 0 – 11 tahun dengan rata-rata 16,5 hari. Hasil ini kemungkinan bisa berbeda dengan di daerah lain akibat perbedaan perlakuan dan fasilitas kesehatan.
Penulis: Dr. Toha Saifudin
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:
https://aip.scitation.org/doi/pdf/10.1063/5.0104052
Halimatuzzahro’ F, Arisanti AS, Arifi RA, Saifudin T, Ana E, and Kurniawan A. 2023. The Effect of Age and Gender on COVID-19 Recovery Duration. AIP Conference Proceedings 2554,030004 (2023). Available at https://doi.org/10.1063/5.0104052





