Universitas Airlangga Official Website

Pengembangan Sediaan Microarray Patches, Harapan Baru untuk Pengobatan (TBC)

Ilustrasi Penderita Tuberkulosis (Sumber: Alodokter)
Ilustrasi Penderita Tuberkulosis (Sumber: Alodokter)

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman global, dengan sekitar sepertiga penduduk dunia didiagnosis memiliki bentuk laten dari penyakit ini. Meskipun sering kali tidak menunjukkan gejala, infeksi ini dapat berkembang menjadi aktif, terutama pada individu dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV, diabetes, atau yang menjalani pengobatan imunosupresif. Pengobatan standar untuk latent TBC biasanya melibatkan penggunaan isoniazid selama 6-9 bulan yang dapat menimbulkan efek samping serius, termasuk kerusakan saraf dan gangguan hati.

Sebagai solusi inovatif, dilakukan pengembangan teknologi pengantaran obat melalui kulit menggunakan microarray patches (MAP). MAP merupakan bentuk sediaan yang memiliki jarum-jarum yang sangat kecil sehingga tidak menimbulkan rasa sakit ketika diaplikasikan pada kulit. Jarum ini dapat membuat saluran-saluran yang memungkinkan obat-obatan diserap langsung ke dalam aliran darah, menghindari sistem pencernaan dan mengurangi beban pada hati. Pendekatan ini berpotensi mengurangi efek samping dan meningkatkan efisiensi pengobatan dengan menembus barrier kulit tanpa perlu minum obat secara langsung, membuka jalan untuk terapi yang lebih aman dan nyaman bagi penderita tuberkulosis. Sediaan MAP yang dibuat mengandung isoniazid (INH) dan piridoksin (vitamin B6) dosis tinggi. Penambahan vitamin B6 ditujukan untuk menjaga konsentrasi piridoksin dalam tubuh dan juga mengatasi efek samping penggunaan INH.

Efektivitas sediaan MAP diuji dengan menggunakan tikus sebagai hewan coba. INH dan vitamin B6 diberikan pada dosis yang sama melalui dua rute yang berbeda, oral dan melalui kulit (transdermal). Hasil uji farmakokinetika menunjukkan bahwa INH dan vitamin B6 dalam MAP berhasil dihantarkan ke dalam sistem peredaran darah. Yang lebih menggembirakan lagi, penelitian pada tikus menunjukkan bahwa MAP memberikan paparan sistemik yang lebih baik terhadap isoniazid dibandingkan dengan mengonsumsi obat tersebut secara oral. Hebatnya, kadar piridoksin juga lebih tinggi dengan patch dibandingkan dengan dosis oral.

Temuan paparan sistemik yang lebih tinggi melalui MAP secara transdermal dibandingkan dengan pemberian oral membuktikan bahwa pasien dapat menggunakan dosis obat yang lebih rendah sambil tetap memperoleh efek terapeutik yang sama. Penelitian ini memberikan harapan di masa depan, dimana pengobatan TBC akan lebih mudah, efektif, dan aman bagi tubuh. Tanpa melalui sistem pencernaan, MAP dapat meminimalkan efek samping dan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Kombinasi INH dan vitamin B6 dalam satu sediaan juga dapat mempermudah terapi pengobatan TBC.

Berangkat dari keberhasilan ini, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengoptimalkan kandungan obat dalam sediaan, kemungkinan uji klinis sediaan MAP pada manusia, serta evaluasi keamanan pada penggunaan jangka panjag. Sediaan MAP ini diharapkan dapat merevolusi cara kita mengobati TBC, membawa harapan baru bagi jutaan orang yang berisiko terkena penyakit mematikan ini.

Penulis: Febri Annuryanti, S.Farm., M.Sc., Apt

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/lyophilised-reservoirs-in-combination-with-hydrogel-forming-micro