Sebuah studi menarik mengenai pengetahuan dan sikap remaja akhir dan dewasa di Indonesia tentang genetika dan tes genetik. Peneliti menyoroti perbedaan antara potensi manfaat tes genetik dan stigma negatif yang ada di Indonesia, yang kemudian berkontribusi pada kurangnya pemanfaatan tes genetik ini di Indonesia. Studi ini menekankan bahwa pemahaman yang jelas tentang pengetahuan dan sikap publik sangat penting, terutama mengingat kurangnya kesadaran terhadap penyakit genetik dan pentingnya tes genetik, dapat menyebabkan peningkatan jumlah penderita penyakit genetik.
 Studi ini menggunakan kuesioner berbasis web, yang disebarkan antara Mei dan Oktober 2022, untuk mengumpulkan data dari 467 peserta. Sampel tersebut terdiri dari 332 remaja akhir dan 135 dewasa, yang direkrut melalui media sosial dan email. Kuesioner menilai pengetahuan genetik umum peserta, persepsi mereka tentang aplikasi dan implikasi sosial dari tes genetik, dan sikap keseluruhan mereka terhadap tes genetik. Para peneliti kemudian menggunakan regresi logistik biner untuk mengidentifikasi prediktor pengetahuan, persepsi, dan sikap responden terhadap genetika dan tesnya.
Hasil yang didapatkan adalah mayoritas peserta, sekitar 83%, menunjukkan tingkat pengetahuan genetik umum yang memadai. Selain itu, 75% responden percaya bahwa mereka memiliki pengetahuan tentang aplikasi tes genetik. Namun, hanya setengah dari peserta yang menunjukkan pemahaman yang komprehensif tentang implikasi sosial yang terkait dengan tes genetik. Patut dicatat, hanya sepertiga dari responden yang menyatakan sikap positif terhadap tes genetik.
Menurut peneliti utama, Annette d’Arqom dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, peneliti berhasil mengidentifikasi beberapa faktor yang secara signifikan memengaruhi pengetahuan genetik umum. Latar belakang medis, kepercayaan agama, dan familiaritas sebelumnya tentang tes genetik berperan dalam pemahaman seseorang tentang genetika. Usia ditemukan berpengaruh secara signifikan dengan persepsi pengetahuan genetik, yang menunjukkan bahwa individu yang lebih tua lebih berpengetahuan di bidang ini. Menariknya, faktor sosiodemografis lainnya tidak memiliki dampak signifikan terhadap sikap responden perihal tes genetik.
Kesimpulannya, studi ini menunjukkan bahwa remaja akhir dan dewasa di Indonesia pada umumnya memiliki pengetahuan genetik yang memadai dan memiliki sikap positif terhadap tes genetik. Namun, para penulis merekomendasikan untuk melakukan survei yang lebih besar dan teracak untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang faktor-faktor yang memengaruhi sikap ini dan untuk mengidentifikasi strategi yang efektif untuk mempromosikan tes genetik. Sehingga diharapkan dapat mengurangi beban penyakit genetik di Indonesia.
Penulis: Annette d’Arqom, dr., M.Sc.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://digital.car.chula.ac.th/jhr/vol39/iss1/9
Fillah A, Akram M, Hartono C, et al. Knowledge and Attitude Towards Genetics and Genetic Testing Among Late Adolescents and Adults in Indonesia. J Health Res. 2025; 39(1):-. DOI: https://doi.org/10.56808/2586-940X.1125





