Universitas Airlangga Official Website

Pengetahuan dan Sikap Masyarakat dalam Mengenali Gejala dan Penatalaksanaan Diare pada Anak

Foto by Alodokter

Diare didefinisikan sebagai keluarnya feses dalam bentuk cair atau encer, dengan frekuensi tiga kali atau lebih, diluar kebiasaan frekuensi buang air besar individu. Diare disebabkan oleh adanya infeksi bakteri, virus, maupun protozoa. Meski sering diremehkan, menurut WHO dan UNICEF, diare menjadi penyebab kematian kedua tertinggi secara global pada anak. Catatan WHO menunjukkan sebesar lebih dari 500.000 balita mengalami kematian akibat diare setiap tahunnya. Di Indonesia, sekitar 6% balita mengalami kematian akibat diare.

Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat anak terutama balita seringkali mengalami diare. Diare pada anak membutuhkan penanganan serius karena selain berakibat fatal hingga kematian, diare dapat menyebabkan anak mengalami malnutrisi dan ketidakseimbangan elektrolit sehingga memengaruhi tumbuh kembang serta kecerdasan kognitif anak. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku dan sikap masyarakat dalam pengenalan diare serta penggunaan obat dalam penanganan diare pada anak.

Responden penelitian hampir seluruhnya (89,72%) adalah wanita, dengan hampir seluruhnya (81,31%) merupakan ibu rumah tangga. Hampir setengah responden (47,66%) memiliki anak dengan riwayat diare, hampir seluruh kejadian diare yang dialami (69,35%) lebih dari setahun yang lalu. Meski hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden (87,85%) memiliki pengetahuan yang cukup mengenai definisi diare, namun masih banyak responden belum memahami cara penanganan dan pengobatan diare secara tepat.

Hampir setengah responden (35,51%) memberikan loperamide sebagai pengobatan diare. Penggunaan loperamide efektif untuk menurunkan gejala jika digunakan pada anak usia diatas 3 tahun. Namun pada anak usia dibawahnya, pemberian loperamide justru meningkatkan risiko kelelahan, ileus, bahkan kematian. Pengetahuan responden mengenai tata cara pemberian oralit tergolong masih kurang, terbukti hampir seluruh responden (61,68%) mengemukakan bahwa pemberian oralit hanya dilakukan ketika anak mengalami diare parah. Padahal, oralit sebaiknya diberikan untuk semua kasus diare karena bertujuan untuk mengganti cairan tubuh selama diare.

Sikap responden ketika anak mengalami diare menunjukkan sikap yang baik. Responden memahami bahwa ketika anak mengalami diare, sebaiknya perlu mengonsumsi oralit serta membawa anak ke pelayanan kesehatan jika dalam kurun waktu 3 hari diare tidak kunjung membaik. Namun, responden nampaknya belum memahami gejala dehidrasi pasca diare pada anak sehingga ketika anak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, kulit keriput, badan terasa lemah, dan kurangnya intensitas buang air kecil, tidak ada tindakan untuk membawa anak ke pelayanan kesehatan.

Penatalaksanaan diare merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua. Orangtua seharusnya memahami cara mengobati diare saat di rumah dan kapan anak memerlukan bantuan tenaga kesehatan profesional untuk mencegah risiko peningkatan morbiditas pasca mengalami diare. Penelitian ini membahas lebih mendalam seputar diare pada anak, terutama kesiapan orangtua dalam penatalaksanaan diare. Penelitian ini juga menganalisis hubungan antara karakteristik sosiodemografis orangtua dengan pengetahuan tentang diare dan sikap selama anak mengalami diare. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi pembaca untuk melakukan penelitian lebih lanjut serta dapat digunakan sebagai dasar upaya promosi kesehatan kepada masyarakat.

Penulis: Arina Dery Puspitasari

Untuk membaca lebih lanjut, pembaca dapat mengakses artikel ilmiah pada:

https://e-journal.unair.ac.id/JFIKI/article/view/31146