Pembukaan
Studi farmacoepidemiologi dari penggunaan klozapin, yaitu golongan antipsikotika untuk mengobati gangguan bipolar, khususnya di Asia masih jarang, walaupun dapat memberikan pemahaman pada karakteristik klinis, indikasi dan dosis sebagai pembanding secara internasional. Studi ini meneliti prevalensi dan korelasi klinis penggunaan klozapin untuk gangguan Bipolar pada 13 negara Asia yaitu Cina, HongKong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Singapura, Sri Lanka, Taiwan dan Thailand sebagai Bagian dari penelitian REAP yaitu Konsorsium Penelitian Pola Peresepan di Asia menggunakan uji komparasi bivariate dan diikuti uji multivariate regresi logistic.
Pembahasan Masalah
Gangguan Bipolar dialami 2% populasi di seluruh dunia. Gangguan Bipolar berkait dengan gejala perilaku agresif, kekerasan dan percobaan bunuh diri. Pasien sering juga mengalami gangguan ansietas dan gangguan penyalahgunaan zat. Sejauh ini, pengobatan Gangguan Bipolar sudah berkembang, di samping itu ada keterbatasan jangka pendek dan panjang dari berbagai pilihan obat untuk Gangguan Bipolar yaitu litium, golongan antikonvulsan sebagai penstabil mood dan golongan antipsikotika.
Penggunaan klozapine untuk pasien Gangguan Bipolar di Asia sebesar 2,13% dengan dosis sehari 275 mg (CI95% 267-282) yang setara dosis klorpromazin sehari, sementara pada penelitian Roma sebesar 16,9%. Penggunaan klozapin yang rendah dengan mempertimbangkan efek samping khususnya pada pasien yang mempunyai komorbiditas penyakit lain, perlu pemeriksaan darah sebelum dan selama penggunaan klozapin, di samping itu penanganan gangguan bipolar yang resisten terapi dapat menggunakan terapi elektrokonvulsif.
Pasien yang menggunakan klozapine usianya lebih tua, lebh banyak pada pria, lebih sering pada fase manik dan juga menggunakan penstabil mood dan antipsikotika yang lebih banyak bersamaan dengan klozapin. Penggunaan klozapine untuk gangguan skizofrenia diindikasikan untuk yang resisten terhadap pengobatan. Penggunaan medikasi untuk gangguan bipolar sering polifarmasi. Pasien-pasien yang menggunakan klozapin tidak berkorelasi dengan mood yang depresi, remisi dari penyakitnya, risiko bunuh diri atau pemberian terapi elektrokonvulsi dalam 12 bulan terakhir.
Hasil lain menunjukkan bahwa penggunaan klozapin berasosiasi dengan gambaran klinis tertentu seperti sikap waspada/vigilance, sehingga untuk meningkatkan luaran klinis dan untuk mencegah risiko efek samping dari polifarmasi dapat dipertimbangkan sejalan dengan risiko efek samping klozapin itu sendiri.
Penutup
Hasil penelitian ini memberi informasi bahwa penggunaan klozapin untuk pengobatan gangguan bipolar di Asia lebih pada kasus yang berat, untuk pasien pria dengan episode manik yang tidak berespons baik terhadap medikasi yang sudah diberikan, juga berasosiasi dengan penggunaan penstabil mood dan golongan antipsikotika.
Penulis AIP: Dr. Margarita M. Maramis, dr. SpKJ(K), FISCM.
Informasi dari survei dapat dibaca pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37068038/
Atau Clozapine Use for Bipolar Disorder: An Asian Psychotropic Prescription Patterns Consortium Study. Available from:
https://www.researchgate.net/publication/370099229_Clozapine_Use_for_Bipolar_Disorder_An_Asian_Psychotropic_Prescription_Patterns_Consortium_Study#fullTextFileContent
[accessed Nov 14 2023].
Referensi:Clozapine Use for Bipolar Disorder: An Asian Psychotropic Prescription Patterns Consortium Study. Lek Wei Javier Loo, Qian Hui Chew, Shih-Ku Lin, Su-Yu Yang, Wen-Chen Ouyang, Chih-Ken Chen, Seon-Cheol Park, Ok-Jin Jang, Jun Hyuk Park, Kok-Yoon Chee, Kwong Sen Ding, Jamaline Chong, Ling Zhang, Keqing Li, Xiaomin Zhu, Chonnakarn Jatchavala, Pornjira Pariwatcharakul, Roy A Kallivayalil, Sandeep Grover, Ajit Avasthi, Moin Ansari, Margarita M Maramis, Paing Phyo Aung, Norman Sartorius, Yu-Tao Xiang, Chay-Hoon Tan, Mian-Yoon Chong, Yong Chon Park, Takahiro A Kato, Naotaka Shinfuku, Ross J Baldessarini, Kang Sim. J Clin Psychopharmacol. 2023 May-Jun;43(3):278-282. doi: 10.1097/JCP.0000000000001693.





