Lebih dari 90% wanita primipara mengalami ruptur perineum saat persalinan pervaginam, dan 2,9 persen di antaranya mengalami ruptur perineum derajat 4 atau total. Infeksi, nyeri kronis, dyspareunia, inkontinensia, kerusakan jaringan, dan fistula rektovagina adalah semua akibat dari ruptur perineum yang tidak ditangani dengan baik.
Di Amerika Serikat, penelitian menunjukkan bahwa 60% peserta program pendidikan obstetri dan ginekologi PPDS belum menerima pelatihan yang diperlukan untuk memperbaiki ruptur perineum. Di sisi lain, karena jumlah operasi sesar yang meningkat, tidak banyak peserta PPDS yang memiliki pengalaman dalam memperbaiki ruptur perineum. Penelitian Siddighi mendapatkan sebagian besar PPDS Obstetri dan Ginekologi (81%) tidak lulus ujian repair ruptur perineum total oleh karena tidak bisa mengidentifikasi sfingter ani.
Untuk meningkatkan keterampilan peserta didik sebelum pertemuan dengan pasien, model simulasi dengan manekin dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran kedokteran yang efektif. Dalam model penilaian kompetensi berdasarkan piramida Miller 4, pembelajaran video berada pada tahap pengetahuan, sedangkan simulasi berada pada tahap penunjukan.
Studi lain mengembangkan model simulasi menggunakan bahan dari anggota tubuh hewan seperti lidah, usus babi, lidah sapi, dan perineum kambing. Penggunaan hewan sebagai alat peraga dapat mengganggu ekosistem, bermasalah secara moral, tidak tahan lama, dan memiliki struktur anatomi yang tidak sama. Misalnya, perineum kambing memiliki otot sfingter yang tidak sama dengan perineum manusia yang tipis, sedangkan lidah sapi memiliki rektum yang lebih mirip dengan perineum. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan model simulasi ruptur perineum total yang baru (berbahan silikon-lateks) dapat pengetahuan dan keterampilan di masa residen Obstetri dan Ginekologi.
 Penelitian ini adalah eksperimental dengan desain pretest dan posttest. Penelitian melibatkan 33 residen Obstetri dan Ginekologi yang dipilih secara acak, dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok video, kelompok manekin, dan kelompok kombinasi, dengan masing-masing kelompok 11 orang. Pada kelompok video, teknik perbaikan diputar sebanyak 12 menit melalui zoom online dan diputar secara mandiri oleh subjek penelitian selama satu minggu. Pada kelompok model simulasi, pelatihan diberikan melalui model simulasi (manekin) ruptur perineum total selama satu minggu, dan kelompok kombinasi menerima kedua perlakuan secara berurutan.
Dalam penelitian ini, selisih posttest-pretest pengetahuan pada kelompok kombinasi memiliki nilai tertinggi, yaitu 14,55 IK 95% (9,8119,28) dan perbedaan bermakna pada selisih pengetahuan antara ketiga kelompok (p=0,007). Selisih skor keterampilan posttest-pretest pada kelompok kombinasi juga memiliki nilai tertinggi, yaitu 8,91 IK 95% (7,49-10,33) dan perbedaan bermakna pada selisih skor keterampilan pada ketiga kelompok (p=0,008).
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang residen Obstetri dan Ginekologi dapat dicapai melalui pembelajaran menggunakan model kombinasi, video, atau manekin. Model kombinasi adalah yang paling efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan memperbaiki ruptur perineum total pada pasien residen.
Penulis: dr. Riska Wahyuningtyas, Sp.OG, M.Ked.Klin
Detail penelitian bisa dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/randomized-comparison-of-video-demonstration-simulation-based-tra/fingerprints/





